KAFKA POV
Aku sedang berada di mobil bersama Anika. Suasana hening menerpa kami, biasanya Anika selalu membuka percakapan jika situasi berubah canggung seperti ini, tapi sekarang entah mengap tidak. Anika asik memainkan ponselnya sendiri, alhasil aku mencoba untuk membuka percakapan.
"An..." ucapku menghilangkan keheningan di antara kami dengan mata yang masih mengarah ke jalanan Jakarta yang sudah macet.
"Hm"
Hanya gumaman kecil itu yang keluar dari mulut Anika. Otakku mulai berpikir, biasanya kalau perempuan sudah bersikap seperti ini pasti aku melakukan kesalahan.
"Aku ada salah ya?" tanyaku sambil menoleh singkat padanya. Pandangan Anika masih saja terfokus pada ponsel di tangannya.
"Mau nanya deh" tanyanya tak membalas pertanyaanku. Anika mematikan ponselnya dan memutar badannya untuk menghadapku.
"Tanya apa?" tanyaku dengan dahi berkerut. Jarang sekali Anika mau bertanya dengan meminta izin seperti ini.
Aku yakin, ini pasti bukan pertanyaan biasa.
"Kamu udah lupain Kayla belom si?"
Kan benar kataku.
"Kenapa tiba-tiba tanya itu?"
"Ya gak apa-apa, penasaran aja" jawabnya sambil menggedikkan bahu. Matanya masih saja menatapku tanda ia masih mengharapkan jawaban akan terlontar dari mulutku.
Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuat Anika bertanya hal ini padaku. Anika jarang sekali bertanya pertanyaan tentang Kayla, mungkin ia merasa tak nyaman jika aku membicarakan Kayla. Tetapi, aku tidak tahu apa sesuatu itu. Rasanya aku tidak bertingkah aneh atau apapun akhir-akhir ini.
"Kok gamau jawab?" tanyanya setelah aku membiarkan suasana hening menerpa kami selama beberapa menit. Jujur aja aku gak tahu harus jawab apa.
"Kamu juga gamau jawab kenapa tiba-tiba nanya begitu" ucapku tak memandangnya. Aku tidak terlihat kaget atau panik saat ditanya Anika pertanyaan itu. Tetapi, otakku terus bekerja keras berusaha menghasilkan jawaban sampai sekarang.
"Aku kan tanya duluan, berarti kamu jawab duluan." ucapnya dengan nada menantang.
Aku meminggirkan mobilku ke pinggir jalan. Anika terlihat bingung sesaat tapi aku diamkan saja. Setelah mobilku sudah berada tepat di pinggir jalan, aku melepaskan seat belt yang sedari tadi ku pakai dan segera menghadap ke arah Anika.
"Kamu kenapa sih? Ada masalah apa?" tanyaku setelah mata kami bertemu.
"Tinggal jawab" ucapnya terus menatap tajam ke arahku. Astaga, Anika kenapa jadi agak menakutkan seperti ini.
"Kalo aku bilang aku udah lupain dia, kamu juga gak akan percaya kan?" tanyaku yang dibalas gedikkan bahu darinya.
"Aku selalu usaha buat lupain dia. Emang belom sepenuhnya lupa tapi udah jauh lebih mending dari dulu. Aku udah ada kamu An, seiring berjalannya waktu, aku pasti bakal lupa dia dan cuman fokus ke kamu"
Tapi gak ada yang tahu kapan aku bakal bisa lupain dia, lanjutku dalam hati.
"Kenapa gak bisa sekarang aja lupain nya?" tanyanya, ada nada sedih yang dapat ku dengar dari suaranya.
"Karena gak gampang lupain orang yang selalu bareng sama kamu selama 2 tahun, An."
Jawabanku langsung membungkam mulut Anika. Anika langsung memutar tubuhnya ke depan, tidak lagi menghadapku. Aku melihat ia mengangguk sekilas. Entah mengapa. Yang penting, aku sudah menjawab yang sebenarnya.
"Udah kan? Sekarang kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?" tanyaku balik ke arahnya.
Anika menoleh padaku lalu menghela napas.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Love and You
Teen FictionKayla, seorang gadis yang ceria dan manis menjalin hubungan dengan seorang Kafka, laki-laki yang selalu menjadi bahan omongan para cewe-cewe di sekolah. Tetapi suatu hari, semuanya berubah 180 derajat. It is all about love and you. *Gabisa buat sino...
