- Five

1.9K 228 25
                                        

Allison POV

Senang rasanya bisa menghabiskan waktu bersama the boys dan kekasih mereka. Walaupun, aku baru kali ini bertemu dengan kekasih the boys yang lain, aku sudah merasa nyaman. Seperti sudah kenal lama. Syukurlah mereka bisa menerimaku dengan baik.

"Saranku, sebaiknya kau jangan mempublikasikan hubunganmu. Aku tak ingin kau mendapat hate sepertiku." Saat ini aku sedang bersama Sophia dan Eleanor. Sedang bercerita-cerita tentang hal-hal random.

"Awalnya memang seperti itu, tapi lambat laun mediapun pasti akan mengetahui nya kan?"

"Memangnya sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Harry?" Tanya Eleanor, "Jalan 2 tahun."

"Wah... Cukup lama juga ya, tapi mengapa Harry baru mengenalkanmu pada kami sekarang ?" Kini, giliran Sophia yang bertanya. Aku hanya tersenyum kikuk. "Sebenarnya, aku yang meminta Harry. Takut kalian tidak menerimaku dengan baik."

"Ayolah Ally, kami tidak mungkin seperti itu." Ujar Sophia lagi, disusul anggukan dari Eleanor. "Ya, aku tahu. Ternyata kalian sangat baik. Terima kasih." Balasku. Mereka membalasnya dengan senyuman manis.

Saat sedang asyik mengobrol tentang banyak hal, pintu kamar yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka. Niall muncul dari balik pintu. "Girls, apa aku mengganggu kalian?" Tanyanya. Dengan kompak kami menggeleng.

Pun Niall langsung masuk kekamar ini, menutup dan mengunci pintunya dengan cepat, gerak gerik nya sedikit mencurigakan. Dan hey! Untuk apa ia mengunci pintunya? Ia tidak mungkin berbuat macam-macamkan?

Pikiranku sudah melayang kemana mana, dengan begitu aku langsung menggelengkan kepalaku. Mengusir pikiran-pikiran negatifku tentang Niall. Ayolah, bahkan Eleanor dan Sophia terlihat santai saja.

"Ada apa, Nialler?" Tanya Sophia menggeser duduknya. Menyuruh Niall untuk duduk diantara dirinya dan Eleanor, ia mengisyaratkan kami untuk duduk melingkar.

"There's something i need to tell ya girls, terutama kau Ally." Ujarnya membuatku menunjuk diriku bingung.

"Aku?" Ia mengangguk. Lalu mulai membuka suaranya lagi. "I like a girl." Eleanor yang mendengar itu memekik histeris. "Oh my god! Akhirnyaaaaa!?"

"Ssshhh, jangan berteriak Ele. Aku tak ingin the boys mendengarnya. Ini hanya rahasia kita ber—" ia terdiam sebentar, mengarahkan jari telunjuknya ke arahku, Sophia, Eleanor, dan terakhir dirinya sendiri.

"Baiklah, ini rahasia kita ber-empat." Lanjutnya lagi.

Aku terkekeh pelan melihat tingkah Niall yang kelewat polos. "Okay, jadi apa rahasia yang akan kau berikan untuk kami simpan?" Tanyaku sedikit penasaran.

"Akurasaakumenyukaisahabatmu." Ujarnya dengan sekali tarikan nafas.

Aku, Eleanor, dan Sophia melongo. Kami tidak bisa menangkap apa yang ia katakan, meski hanya satu katapun, Tidak.

"Apa?" Eleanor menyatukan kedua alisnya bingung. "Kau berbicara lebih cepat dari Liam, Ni." Timpal Sophia.

Niall terkekeh sebentar sebelum melanjutkan ucapannya yang sukses membuatku hampir mengeluarkan kedua bola mataku.

"Aku menyukai sahabatmu Ally, Barbara."

•••

"Sebenarnya apa yang kalian lakukan dikamar, bersama Niall?" Tanya Liam ketika kami baru saja menuruni tangga.

"Ini rahasia perempuan." Ujarku asal, membuat Niall menatapku tak percaya. Dan yang lainnya tetawa.

"Kau tidak melakukan apa-apa kan pada kekasihku, Ni?" Introgasi Harry, matanya menatap kearah Niall sedangkan tangannya meraih pinggulku untuk mendekat kepadanya.

"Ayolah, otakku tidak mesum sepertimu. Keriting!" Balasnya sambil memutar bola matanya jengah.

"Ssshhh, sudah sudah. Biarlah itu menjadi rahasia kita ber-empat, kalian tidak usah ingin tahu." Lerai Eleanor.

"Ya, sebaiknya kita segera makan. Karena perutku sudah berbunyi sedari tadi." Niall berjalan menuju ruang makan, lalu diikuti dengan yang lain.

"Kau yakin tak melakukan apapun dengan si pirang itu?" Bisik Harry, aku meninju perutnya pelan. "Tentu tidak, bodoh." Ia terkekeh lalu kami bergabung bersama yang lain dimeja makan.

"Wah, siapa yang memasak pasta ini?" Tanya Eleanor, "Ini sangat enak!" Lanjutnya lagi.

"Terima kasih Ele." Balas Louis, "Kau yang memasak Lou?" Kini giliran Sophia bertanya. Louis menggelengkan kepalanya. "Enak saja, aku yang memasak semua ini." Celetuk Harry menyikut Louis pelan.

Well, aku tidak kaget lagi kalau seperti ini. Kuakui, masakan Harry memang lezat.

"Oh Harry, kau yang terbaik." Ucap Niall memberikan blow-kiss pada Harry. Itu membuat semua nya terkekeh geli.

"Ew, hentikan itu Niall. Kau menjijikan." Balas Harry memutar bola matanya.

Makan malam kali ini dihiasi dengan canda tawa dan obrolan-obrolan ringan. Sesekali kami tertawa karena lelucon yang dilontarkan Louis dan Harry.

Setelah makan malam, kami menutuskan untuk mengadakan movie marathon. Kegiatan ter-mainstream jika kami berkumpul. Anehnya, kami tidak merasa bosan.

Jam sudah menujukkan pukul 10 malam, film yang kami tonton pun sudah berjalan setengah jalan. Niall berbaring di atas sofa dengan menopang kepalanya dengan tangan kirinya.

Sedangkan dibawah, tepatnya diatas karpet. Eleanor, Louis, Sophia, Liam, Harry, dan Aku duduk menyender pada sofa. Aku berada dalam dekapan Harry, begitu juga Eleanor dan Sophia.

Saat sedang serius-serius nya menonton, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Sontak si empunya ponsel pun segera merogoh kantung celana jeansnya, ternyata orang itu adalah Harry. Ia melepas kedua tangannya yang sedang mendekapku dan berjalan menjauhi kami.

Tadinya aku berniat untuk mengikutinya, namun sepertinya itu terkesan terlalu posesif? Jadi kuurungkan niatku, dan memilih melanjutkan menonton bersama yang lain.

Sekitar hampir setengah jam ia menerima telfon dari -siapa yang aku pun tidak tahu- di halaman belakang, rasa penasaran akan siapa penelfon itu pun semakin bertambah. Karena tak biasanya ia menjauh saat mengangkat telfon. Oh atau mungkin karena disini ada sahabat-sahabatnya? Entahlah.

Tak lama kemudian, akhirnya ia kembali lagi ke ruang keluarga. Memposisikan dirinya ditempat semula dan kembali dengan raut yang sulit ditebak. Ia tidak mendekapku lagi, hanya duduk disebelahku dan pandangan nya lurus kearah televisi.

Aku yang sedari tadi memperhatikan nya dengan bingung pun tak dihiraukan nya. Sebenarnya ada apa dengan nya? Mengapa setiap habis menerima telfon sikap nya berubah?
Gadis batinku bertanya tanya.

"Guys, sepertinya aku akan tidur duluan. Good night all." Pamit Harry seraya bangkit dan langsung meninggalkan ruang keluarga, serius Harry kau tidak menghiraukanku?

Bukannya menjawab, yang lain justru menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku hanya menaikkan kedua bahuku, pertanda tak tahu.

"Sebaiknya aku menyusulnya, Good night guys!" Tanpa menunggu jawaban mereka aku segera bangkit dari duduk ku dan menghampiri Harry di kamarnya. Kalian ingat kami masih berada di basecamp?

"H-Harry?" Dimana dia?

Tak kunjung mendapatkan jawaban, aku mencarinya ke kamar mandi. Tapi Nihil, ia tidak ada. Lalu, aku mendengar suara Harry dari arah balkon. Pun aku segera menghampirinya.

"H-Harry?" Panggilku sekali lagi. Ia membalikkan tubuhnya menatapku, mata hijau emerald nya tak pernah gagal membuatku tidak jatuh padanya.

"Ada apa?" Tanyanya.

"Harusnya aku yang bertanya, ada apa?" Ia terlihat bingung dengan ucapanku. "Aku? T-tidak ada. A-aku baik-baik saja."

"Kau yakin? Sikapmu aneh sehabis menerima telfon tadi."

"Begitukah?" Tanya nya, aku mengangguk.

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"

*****

Kalo vote dan comment nya banyak gue double update;)x

 NEW YORK CITYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang