Rapuh

636 69 5
                                    


Arthu tengah menunggu di dalam sebuah kamar di hotel berbintang. Kamar yang begitu luas itu akan ditempati James William sebagai tempat peristirahatannya malam ini. Setelah menerobos masuk ke dalam hotel, mengambil rekaman CCTV, serta dengan bantuan Ralph meretas kunci elektronik akhirnya dia dapat memasuki kamar William.

Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Jika apa yang dikatakan Ralph benar, sebentar lagi James Wiliam tiba di kamar ini. Kemampuan Ralph dalam hal meretas memang tak bisa diragukan. Tak hanya biodata diri dan aktifitas James di dunia hitam, bahkan jadwalnya pun dia dapatkan.

Mata Arthur terus mengawasi jam dinding, menantikan kedatangan James. Dia sudah mempersiapkan Murasame untuk ini. Tak lupa, Arthur juga membawa flas disk yang diberikan Ralph padanya.

Tepat pukul sepuluh, bunyi tombol yang ditekan terdengar dari pintu masuk. Langkah kaki terdengar setelah itu, mendekat ke arahnya. Mengetahui mangsanya sudah tiba, Arthur cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Setidaknya, tempat itu lah yang paling aman untuk bersembunyi.

Beberapa saat setelah Arthur masuk ke dalam kamar mandi, suara pintu kamar terbuka. Arthur sengaja membuka sedikit pintu kamar mandinya, dan ternyata benar. Orang yang masuk adalah James William. Mangsanya kali ini.

James menaruh kopernya terlebih dahulu di meja yang tak jauh dari tempat tidur sebelum menjatuhkan dirinya di atas kasur. Dia menghela nafas lelah sembari menatap langit-langit kamarnya. James mendudukan dirinya lalu melepaskan dasi yang mengikat kerahnya. Membuka kancing kemejanya satu persatu hingga Arthur dapat melihat tubuh bagian atas James yang polos.

Sepertinya dia sebentar lagi akan mandi karena setelah itu dia membuka celananya lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil bathrobe. Arthur menutup sempurna pintu kamar mandi dan bersiap-siap. Telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Lebih dekat. Lebih dekat hingga akhirnya grandel pintu bergerak karena pintu dibuka oleh James. Saat James sudah masuk ke dalam kamar mandi itu lah Arthur langsung menutup pintunya kembali dan menodongkan Murasame padanya.

"A...apa yang... terjadi??" tanya James ketakutan. "Diam lah, atau pedang ini akan menusuk jantungmu," bisik Arthur di dekat telinganya. Tubuh James gemetar, dia tak menyangka akan ditodong seperti ini di dalam kamar hotelnya. Dan lebih parahnya lagi dia tak mebawa bodyguards bersamanya saat ini.

"A-aapa yang kau inginkan?!" James mengangkat kedua tangannya. Tubuhnya mulai berkeringat, terutama di bagian dahinya. Padahal suhu di sana berkisar antara 25-30 derajat, tapi entah kenapa dia tengah merasakan kepanasan saat ini.

"Aku menginginkan data-datamu. Bisa kau tunjukkan dimana kau menyimpannya?" tanya Arthur. James terdiam sesaat. Data yang dimaksud Arthur pasti tentang bisnisnya di dunia hitam dengan Port Mafia. Tentu saja dia berpikir dua kali lebih keras untuk hal ini. Jika dia sembarangan memberikannya, Port Mafia pasti akan melenyapkannya.

"Cepat katakan dimana kau menyimpannya!!" seru Arthur kesal karena James terlalu banyak berpikir. Arthur sengaja menggoreskan sedikit pedangnya di leher James sebagai pemberitahuan bahwa dia tak sedang main-main saat ini.

James meringis kecil saat Murasame menggores lehernya. Darah segar mengalir keluar dari goresan itu. Dia langsung mengangguk cepat. "Baiklah!! Baik!!! Tapi tolong, jangan bunuh aku!!!" seru James memelas. James memutuskan untuk memberikan data yang Arthur inginkan. Saat ini nyawanya tengah terancam. Masalah yang akan timbul karena dia memberikan datanya pada Arthur nanti saja dia pikirkan. Dia lebih memilih menyelamatkan nyawanya lebih dulu saat ini.

"Tentu saja. Aku hanya menginginkan datamu," balas Arthur. James mengangguk, walaupun di hatinya dia masih tidak yakin pada Arthur. "Aku menyimpannya di dalam koperku," Arthur mengangguk mengerti lalu menyuruh James untuk mengambilkannya untuknya. Dari kamar mandi, Arthur masih terus menodongkan Murasame padanya.

ALTERWhere stories live. Discover now