Manusia Itu Memang Lemah

479 61 14
                                        



Fritz memandang kosong pada sebuah pohon jambu yang terletak di halaman rumah. Dia kira, setelah menceburkan dirinya dari atas jembatan dia akan segera mati. Tapi sepertinya, Tuhan memiliki rencana yang lain terhadapanya.

Fritz tak menyangka tubuhnya akan jatuh tepat di samping seorang warga yang tengah mencari ikan di sungai itu. Orang itu langsung saja menyelamatkan Fritz setelah mendengar suara sesuatu yang besar tercebur ke dalam air.

Setelah menaikkan tubuh Fritz ke atas perahurnya, orang itu segera membawa Fritz menuju rumahnya. Fritz sempat pingsan beberapa jam karena banyak meminuma air saat jatuh sebelum akhirnya sadar dan mendapati dirinya belum juga mati seperti yang dia harapkan.

Sudah beberapa hari dari kejadian bunuh dirinya yang gagal itu. Selama itu pula, dia terpaksa tinggal di tempat orang yang telah menyelamatkannya karena orang itu bersikeras untuk menahan Fritz. Penyelamatnya itu takut jika Fritz melakukan percobaan bunuh diri lagi di tempat lain.

Walaupun sudah berjanji tak akan mencoba untuk membunuh dirinya lagi, namun dia tetap harus tinggal di sana selama beberapa hari. Akhirnya Fritz yang tak memiliki pilihan lain pun mengangguk setuju.

Selama tinggal di sana, sang pemilik rumah sangat baik padanya. Tuan Bart, nama orang yang telah menolongnya, dan keluarganya sangat menerima kehadiran Fritz di tengah-tengah mereka. Setelah sekian lama sendirian, Fritz dapat sedikit merasakan hangatnya mempunyai sebuah keluarga.

Ketiga anak Tuan Bart pun selalu mengajak main Fritz sehingga anak itu tak merasakan kesepian atau bosan selama tinggal di rumah itu. Meskipun kediaman Tuan Bart tampak sangat sederhana, Fritz sangat nyaman tinggal di sana. Kehangatan yang diberikan oleh orang-orang yang berada di dalamnya lah yang membuat Fritz nyaman.

Tuan Bart tak memaksa Fritz untuk mengatakan alasannya bunuh diri beberapa hari yang lalu. Pria tua hanya diam, menunggu Fritz berbicara sendiri padanya. Itu pun jika Fritz benar-benar ingin bercerita. Jika tidak, dia tak akan memaksa.

Kebahagiaan kecil yang Fritz dapatkan secara tak terduga membuatnya bimbang. Jika dipikir-pikir, memang konyol alasan yang mendorongnya untuk bunuh diri.

Hanya karena Arthur menelantarkannya setelah malam itu, Fritz jadi bertingkah kekanak-kanakan. Dia kabur dari asramah, berluntang-lantung di jalan, dan berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Fritz bertekad untuk menjadi lebih kuat lagi dari saat ini dan kemarin. Masih banyak kebahagiaan di depannya, meski tanpa Arthur. Dia akan melanjutkan hidupnya lagi, dan tak akan berpikir untuk bunuh diri lagi.

Meski untuk mewujudkan tekadnya itu dia harus mencari tempat tinggal yang baru, karena Fritz tak mau kembali ke panti. Berada di panti hanya akan membuat hatinya semakin terluka karena terdapat Arthur di sana.

Fritz mengambil nafas dalam-dalam sebelum dihembuskannya lagi. Dia hendak masuk ke dalam rumah saat melihat sosok Arthur yang tengah berdiri di samping pohon jambu yang sedari tadi dia pandangi.

Lucu sekali takdir mempermainkan dirinya. Disaat Fritz sudah tak ingin menyelami rasanya terhadap Arthur, tiba-tiba sosoknya berdiri di hadapannya sembari menatap dirinya dengan pandangan yang tak bisa Fritz artikan.

Lima menit berlalu, Fritz masih yakin bahwa sosok itu hanya khayalan yang dibuat matanya untuk menguji tekadnya. Namun saat sosok itu tiba-tiba berjalan mendekat, Fritz baru sadar jika itu benar-benar Arthur bukan khayalannya semata.

Fritz baru ingin masuk ke dalam, tak ingin melihat Arthur apalagi bercengkrama dengannya. Lagipula dia tak menyangka Arthur akan tiba-tiba muncul pada dini hari seperti saat ini. Tapi saat Fritz dan ingin mengambil langkah pertamanya untuk menghindar, Arthur langsung menerjangnya dan meraih tangannya.

ALTERWhere stories live. Discover now