[already completed] - [dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan] [ada di WEBTOON]
Cantik sih, terkenal, hidupnya juga dikelilingi para cogan. Cuma ya gitu, orangnya bego, pecicilan, keras kepala, suka ngelawan, ga punya sopan. Terus tiba-tiba...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gabisa liat orang tenang apa?"
"Nyusahin banget jadi orang."
"Siapa suruh ke Indo,"
"Dia kenapa bisa tiba-tiba sakit coba,"
Chanyeol bersungut-sungut sendiri daritadi, sementara gue cuma selonjoran males, naikin kaki ke atas dashboard, diem di bangku sambil ngamatin gedung-gedung yang kita lewati.
Males denger Chanyeol ngedumel mulu daritadi.
"Makanya kalo gabisa jauh-jauh dari ortu mending gausah pergi-pergi,"
"Bikin susah aja."
"Nyebelin banget."
"Harusnya dia sadar kondisi fisiknya lemah."
"Ugh,"
"Sehun juga nyebelin."
"Ganggu orang aja."
"Gabisa apa dia aja yang ngurus Yoora?"
"What the day!"
Sialan. Gue gatahan lagi ngedenger Chanyeol ngedumel sendiri. Gue langsung nurunin kaki gue, dan menoleh ke arah Chanyeol yang lagi nyetir dengan kesal. Sesekali, suara decakan Chanyeol kedengeran.
"Kamu kenapa, sih? Sensi banget." kata gue memandangi Chanyeol.
"Siapa coba yang nggak kesel, udah tau tadi kita lagi mesra-mesranya, eh malah di gangguin. Coba aja tadi kamu nggak ngangkat telfonnya,"
Gila ni orang.
"Yajadi kamu mau kalo sepupu kamu sakit?" tanya gue.
"Ya... Nggak sih. Cuma waktunya nggak pas tadi."
Gue mendengus sebal. "Kalo tadi aku nggak ngangkat telfon, mungkin kamu udah nerkam aku, tau."
Chanyeol nyengir. "Hehehe, kok tau?"
Gue langsung ngambil ancang-ancang untuk ninju bahu Chanyeol. Sumpah, dia ini ngeselin banget.
"Eitss," Chanyeol nahan kepalan tangan gue yang hampir nyentuh bahunya. "Becanda, becanda. Aku tuh becanda kali,"
Gue narik kepalan tangan gue lagi.
"Ngomong-ngomong, kamu udah besar ya, Ni. Jadi gasabar-"
Apanya yang besar?
Gue langsung ngelotot sebal. "Apa lo bilang?!"
Dia pasti lagi mikirin gue yang nggak sengaja telanjang tadi. Plis deh, yang udah lalu biarlah berlalu, jangan diungkit lagi. Huhu, malu banget gue, njing.