21- Pelacakan Tahap Satu

168 13 3
                                        

"Siapa?"

Sabita dengan muka menyebalkannya menjawab, "gua, hehehe."

Aku yang mendengar candaannya itu hanya memutar bola, mendiamkan anak aneh yang satu itu.

"Lo berdua ngomongin apaan dah?" Tanya Alysa dari meja belakangku dan Sabita.

"Sstt Aly my love diem aja yah, jangan ikut campur sama urusan kita." Sabita merangkul pundakku kemudian menggoncang-goncangkannya. Entahlah dia memang seperti itu apabila dalam mood yang bagus.

"Yeh, tae." Ucapku sambil melepaskan rangkulan Sabita.

"Percaya sama gua, itu Sarah. Bisa aja dia diem-diem gitu menghanyutkan. Yoi gak Al?"

Alysa hanya mengangkat kedua bahunya untuk merespon pernyataan Sabita.

Mungkin bisa jadi itu Sarah, tapi bagaimana jika bukan?

***

"Nadila! Mau pulang bareng gak?"

Aku menggeleng, "nanti gua pulang dijemput ojek kak, gak enak kalo gak jadi."

Kak Daffa yang mendengar jawabanku tersenyum kecewa. "Yaudah kalo gitu aku duluan ya Nadila, hati-hati."

Aku tersenyum, "iya kak, hati-hati juga ya!"

Lalu, aku duduk di tempat biasa aku menunggu jemputan. Yaitu, teras masjid. Sabita dan Alysa sekarang sedang ekskul, dan Caca sudah pulang lebih dulu daripada aku.

"Loh, Nadila? Lo belum dijemput?" Tanya seseorang yang memiliki suara khas perempuan lembut.

"Eh iya Sar, lo juga belum?"

Sarah menggeleng lalu duduk di tempat kosong yang ada disampingku.

Sebenarnya, sedaritadi pikiranku selalu terbayang-banyang akan perkataan Sabita tentang Sarah. Tapi, aku berusaha membuang pikiran tersebut jauh-jauh karena aku belum memiliki cukup bukti untuk memvonis Sarah.

"Gimana sama Alvian? Lancar?" Ucap Sarah yang membuatku bingung setengah mati.

"Hah? Apanya yang lancar?"

"Ish, kan Alvian suka sama lo. Nah gua nanya gimana perkembangannya Nadila, hahaha." Jawabnya sambil tertawa kecil.

"Loh? Lo tau tentang itu?"

Sarah menatapku gemas, "yaiyalah Nad, gua kan temennya."

"Ohh, iya juga ya hehehe."

Sarah tersenyum kecil mendengar jawaban dariku.

Didalam kepalaku sekarang hanya ada dua kata, menanyakan ke Sarah tentang ancaman tidak jelas itu atau diam saja. Sepertinya, pilihan pertama menang kali ini.

"Sar, gua mau cerita deh." Ucapku memecahkan keheningan diantara kami.

"Apa? Cerita aja." Sarah menatap kearahku, bersiap mendengar kelanjutan perkataanku.

"Jadi, gua tuh dapet email gitu dari orang yang gak dikenal semacam ancaman. Menurut lo gua harus apa?"

Sarah yang telah mendengar perkataanku mengerutkan dahi, "Kalo gua jadi lo ya Nad, gak bakal gua gubris orang iseng kayak begitu. Soalnya, biasanya kalo enggak. Emang dia ngancamnya gimana?"

Nadila Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang