Ara membawa mobilnya dengan malas, hari ini karena Pak Ryan ada meeting jadi Pak Anto supir pribadi dirumahnya harus mengantar Pak Ryan ke kantor. Matanya fokus ke depan, kedua tangannya menyetir mobil itu.
Terkadang walaupun raga Ara ada di dalam mobil namun pikirannya tidak disituh.
Dia mengingat kejadian semalam saat Aldin meminta maaf padanya, saat Aldin meminjam ponsel dan meminta password Ara, saat Aldin berbohong tentang lupa membawa ponsel. Kejadian itu membuat perasaan Ara bercampur aduk untuk hari ini.
Ara sangat senang karena Aldin menyadari kesalahannya tapi Ara juga kecewa karena Aldin sudah berbohong padanya.
Saat mobil sedang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, di depan mobilnya dari jarak yang mulai dekat seseorang menyebrang namun berhenti di tengah-tengah.
Pikir Ara daripada orang itu tertabrak lebih baik dia memutar stir mobil ke kiri "AAAAAAAAAA.." Teriak Ara spontan.
Akibatnya sekarang mobil yang dia tumpangi menabrak pohon, tubuhnya terhuyung ke depan dengan dahi menubruk stir mobil dari situh Ara sudah tidak melihat lagi rasanya gelap.
Orang yang sedang berjalan dimana Ara kecelakaan menghampiri mobil Ara yang tengah menabrak pohon dan dihadiahi dengan asap yang mengebul di di depan mobilnya
"TOLONG! TOLONG!" Teriak orang tadi membuat semua orang berkumpul di tempat itu "Kita bawa ke rumah sakit terdekat aja!" Ucap orang tadi sambil membuka knop pintu mobil Ara dan menggotong Ara keluar oleh orang-orang yang berada disituh.
***
"Eh tumben lo sendiri Ran," tanya Sesil
Kini Sesil dan Pelangi menghampiri Rani yang sendirian sedang sarapan di kantin.
"Ara mana?" Tanya Pelangi
Sesil dan Pelangi langsung saja duduk di hadapan Rani "Tau tuh belum datang, macet kali." ucap Rani santai yang di jawab anggukan oleh Pelangi.
"Eh, gue bingung deh sama lo Ran," Ucap Pelangi membuka mulut menatap Rani heran
"Kenapa?" Kata Pelangi sembari mengaduk jusnya yang akan dia minum
Pelangi menunjuk Rani dengan jari telunjuk kanan "Lo itu kan sepupuan sama Aldin, tapi ko nggak akrab ya? Jarang berangkat bareng ke sekolah lagi."
Mendengar itu Rani sedikit tertawa menatap Pelangi "Eh Pela, gue emang sepupuan sama dia tapi bukan berarti kemanapun gue pergi harus sama dia." Rani menyengir "Ya, gue ngga mau lah dia terlalu merhatiin gue."
Kringg.. Kringgg... Krriiinggg..
"Udah bel, kok si Ara belum datang juga yah?" Kata Sesil dengan mata mencari-cari di sekitarnya
***
"Maafin papa sayang," Kata Pak Ryan yang sedang duduk di samping Ara sambil memegang tangan puterinya yang saat ini belum sadar "Papa tau papa selama ini egois selalu nggak ada waktu buat Ara."
Tangan Ara dia tempelkan di pipinya, suara tangis Pak Ryan mulai terdengar, tangan kanan Pak Ryan mengusap puncak kepala Ara pelan "Bangun sayang, papa janji kalau kamu sudah bangun papa nggak akan biarin kamu sendirian." Tangan Ara bergerak sedikit di pipi Pak Ryan, Pak Ryan yang merasakan itu menghapus buliran air mata yang sempat membasahi pipinya, dia menatap Ara dengan berharap semoga puterinya itu sadar.
Mata Ara mengerjap-ngerjap membuka sedikit demi sedikit, pertama kali yang dia lihat adalah selang oksigen yang ada di hidungnya, infusan yang ada di lengan kirinya dan Pak Ryan "Pa.. Papa?" Ucapnya dengan suara khas baru siuman "Ara dimana pa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YOU'RE MINE
Novela Juvenil[END] Kamu adalah alasanku tersenyum. "Aku milikmu, tapi aku sendiri tidak bisa memilikimu." -Ara "Kamu milikku, selamanya." -Aldin Copyright, 2016.
