Ara melempar tas dan sepatunya ke sembarang arah, dia membantingkan tubuhnya di kasur matanya dari tadi sudah berkaca-kaca, dia mengambil guling untuk menompang pipinya.
Mata Ara tertuju pada langit-langit kamarnya "Rese banget sih lo jadi cowok!" gumam Ara pada diri sendiri "Kenapa lo malah bentak gue tadi?!"
Tok.. Tok.. Tok.. Tok......
"Ara?" Terdengar suara Pak Ryan jelas di telinga Ara, dia cepat-cepat menghapus buliran airmata yang sudah membasahi pipinya.
"Iya, bentar pa." kata Ara lalu bangun dan membuka pintu kamarnya "Kenapa pa? Tumben papa pulang cepet biasanya lembur?" Ara berusaha tersenyum
Pak Ryan mengelus rambut belakang kepala Ara "Ara habis nangis ya?"
"Nggak kok, Pa." Jawab Ara cepat sebelum Pak Ryan lebih banyak bertanya lagi padanya "Ara cuma kangen aja sama papa, karena udah beberapa hari ngga ketemu." ucap Ara sembari memeluk Pak Ryan
Pak Ryan membalas pelukan puterinya itu "Papa juga kangen, maafin papa ya?"
"Lho, kan papa nggak salah kenapa minta maaf?"
"Waktu itu papa pernah buat kamu...."
Dengan cepat Ara langsung memotong omongan Pak Ryan tidak mau mengingat lagi hari itu, hari yang Ara anggap adalah hari tersial, karna pagi-pagi Pak Ryan sudah membuatnya menangis dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, siangnya hampir saja nyaris tertabrak oleh Aldin.
"Udahlah lupain aja pa, intinya papa jangan kayak gitu lagi sama Ara," Ucapnya sedikit mendongkakakan kepala karena tubuh Pak Ryan yang lebih tinggi dari Ara.
Pak Ryan pelan-pelan melepaskan pelukannya "Yasudah kamu mandi dulu habis itu sholat ashar ya, papa yakin kamu belum sholat." Pak Ryan menjepit pelan hidung puterinya "Papa juga yakin semenjak papa lembur terus kamu nggak pernah bangun subuh dan sholat." Kata Pak Ryan mengelus rambut Ara pelan.
Ara hanya nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya "iyah pa, kalau gituh Ara mandi dulu" Pak Ryan mencium kening puterinya lalu berjalan menuruni anak tangga.
***
Hari mulai menggelap, Aldin mengacak rambutnya kesal "Bego! Bego!" ucapnya yang sedang duduk diatas kasur di kamarnya
"Gimana kalau Ara ilfeel sama gue?" Aldin resah "Aldin lo bodoh! Main bentak anak orang seenaknya!" Telapak tangan Aldin mengusap wajahnya dengan kasar "Mana nggak punya nomornya lagi, gimana gue mau minta maaf coba" Dia berfikir lagi "Kalau gue minta ke Rani, nanti gue di ledekin. Kalo gue minta ke Sesil nanti banyak tanya, susah ya jadi orang ganteng?!"
Aldin mengambil handuk, dia pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dan beres memakai baju dia sholat magrib.
Setelah selesai sholat dia mengambil kunci motor dan memakai jaket beserta sepatu lalu keluar kamar menuruni anak tangga. "Aldin, mau kemana nak?" Tanya Bu Ella--Mama Aldin
"Kerumah temen ma sebentar doang, kalau papa nanya bilang aja gituh." Aldin menarik tangan Bu Ella mencium punggung tangannya "Assalammualaikum," Ucapnya lalu berlari kecil.
"Waalaikumsalam." Ucap Bu Ella menghela nafas "Hati-hati sayang," Kata Bu Ella menggeleng kepala.
Malam ini Aldin sudah memikirkan matang-matang, dia berniat akan kerumah Ara walaupun hanya sekedar minta maaf dan dia juga siap apapun resikonya.
Setelah sampai dirumah Ara, dia mengklakson motornya membuat pak satpam membukakan gerbang "Cari siapa den?" Tanya pak satpam setelah gerbang di buka sedikit

KAMU SEDANG MEMBACA
YOU'RE MINE
Ficțiune adolescenți[END] Kamu adalah alasanku tersenyum. "Aku milikmu, tapi aku sendiri tidak bisa memilikimu." -Ara "Kamu milikku, selamanya." -Aldin Copyright, 2016.