"Ma. Liat kaus kaki Savia ga?" Tanya Savia sambil menghampiri Mamanya yang sedang duduk di meja makan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
"Yah di lemari kamu bagian ketiga. Nih." Jawab Hany sambil memberikan roti yang sudah ia poles dengan selai coklat.
Savia menerimanya lalu memakannya. "Ga ada."
"Kalo mama cari ada gimana?" Tantang Hany.
"Cari aja. Savia tadi udah bolak balik liat tetap ga ada kok, Ma." Jawab Savia berani. Ia yakin sekali bahwa kaus kakinya tidak ada di tempat yang seharusnya ada.
"Oke." Hany beranjak dari meja makan menuju kamar Savia.
Setelah beberapa menit kemudian ia datang dengan Savier yang masih menguap.
"Ini apa dong kalo bukan kaus kaki kamu? Ha?" Kata Hany sambil menunjukkan sepasang kaus kaki yang ada di tangannya.
"WHATT. Serius tadi itu ga ada. Pasti mama ambil di tempat lain yakan. Ga mungkin di lemari. Orang tadi jelas-jelas Savia udah nyari kok." Bela Savia sambil mengambil kaus kaki yang ada di tangan Mamanya.
"Makanya. Nyari tuh pakai mata jangan pakai mulut." Kata Savier yang sudah terlihat sadar akan dunianya.
Savia hanya mencibir bibirnya sambil menatap Savier kesal. Hany hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Dan itu membuat Savia makin kesal.
Ia sangat yakin jika kaus kaki itu tidak ada di lemarinya tadi. Ia bahkan berani bersumpah.
"Non. Itu ada yang nyariin, Non." Kata Bi Inem yang tiba-tiba datang dan menghampiri Savia yang sedang misuh-misuh sambil memakan rotinya.
"Siapa, Bi?"
"Cowok. Ga tau siapa. Katanya mau nyariin Non Savia. Saya suruh tunggu di depan pintu Non. Ga berani ngasih dia masuk."
"Oke. Makasih, Bi." Kata Savia sambil beranjak berdiri. Dan Savier ikut berdiri.
"Cowok?" Tanya Savier sambil mengikuti Savia yang berjalan menuju ruang tamu.
Savia yang menyadari ada yang mengikutinya pun berbalik menatap Savier. "Ngapain lo ikutin gue?"
"Mau tau siapa. Mana tau maling atau apa. Kan zaman sekarang banyak yang modusnya gitu. Gue kan jaga-jaga doang." Kata Savier protektif.
Savia hanya menatap Kakaknya yang satu itu jengah. Savia membuka pintu dan melihat punggung seorang cowok.
"Siapa ya?"
Cowok itu berbalik dan menatap Savia sambil tersenyum. "Hai."
"Jason?" Kata Savia kaget melihat Jason yang berada di depannya saat ini.
"Mau ngapain kesini?" Ini bukan Savia tapi Savier dengan tatapan yang mengintimidasi ke arah Jason.
"Eh ada Kak Savier. Hai, Kak." Sapa Jason sambil tersenyum.
"Mau ngapain?" Ulang Savier lagi.
"Apaan sih, Kak." Kata Savia menatap Savier kesal.
"Mau maling, Kak." Jawab Jason masih dengan senyumnya.
"Ini lagi." Kata Savia kesal.
"Maling hati adeknya Kakak." Kata Jason lagi menatap Savier dengan senyum manisnya.
"Apa-apaan." Kata Savia menutup mukanya menahan malu.
Sedangkan Savier menatap Jason seakan-akan ingin membunuh Jason saat itu juga. Siapa yang berani menggoda adiknya Savier dengan gombal receh gitu? Siapa? Cuma Jason sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laf Amour
Teen FictionPada awalnya Savia menganggap semua orang akan tetap bersamanya. Tapi semua pikiran itu lenyap. Ketika sahabat masa kecilnya, Jason Maurier. Menghindarinya tanpa berkata apapun. Lalu, Savia berusaha mati-matian agar Jason kembali berteman dengannya...
