Bel pertanda pulang berbunyi. Terdengar sorak gembira dari kelas sepuluh dua.
Savia yang mendengarnya pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan meregangkan pinggangnya yang sebentar lagi akan keram karena terlalu lama duduk.
Sedangkan Tifanny memasukkan barang-barang yang ada di mejanya ke dalam tas.
"Savia?"
Savia melihat orang yang memanggilnya. Ia berdecak sebentar lalu memasukkan barang-barangnya dengan cepat.
"Elah. Masih ngambek aja, Neng." Goda Ferdinan.
Savia hanya diam dan cemberut.
"Yaudah. Gue minta maaf. Sebagai permintaan maaf gue beliin deh cokelat kesukaan lo. Seberapa banyak yang lo mau. Gimana?" Tanya Ferdinan sambil menaikkan alisnya.
Savia terlihat berfikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan terbujuk hanya sebuah cokelat.
"Donat?"
Lagi-lagi Savia terlihat berfikir sejenak. Kedua makanan yang di tawarkan oleh Ferdinan adalah makanan kesukaan Savia. Tentu tawaran Ferdinan terlihat menggiurkan. Yakan?
Tapi ia menggelengkan kepalanya lagi. Kali ini lebih keras. Ia tidak akan terbujuk hanya karena sebuah cokelat dan donat. Itu tidak menebus rasa malu yang ia rasakan ke Jason.
Savia ingin beranjak pergi. Tapi tiba-tiba suara Ferdinan membuatnya berhenti.
"Donat plus cokelat. Deal?"
Savia menjentikkan jarinya.
"Deal. Lets go."
Masa bodo dengan kejadian tadi. Yang penting ia dapat traktiran makan donat dan cokelat kesukaannya.
Ferdinan yang mendengarnya lalu tertawa puas. Ia baru saja ingin menyusul Savia ketika ia mengingat sesuatu.
Sedari tadi, ada seseorang yang mendengarkan mereka dengan mukanya cengonya.
"Tifanny? Mau ikut? Gue naik mobil kok." Tawar Ferdinan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Tifanny.
"Eh? Ga usah kok. Makasih. Gue mau langsung pulang aja." Tolak Tifanny halus.
Ferdinan mengangguk.
"Lo pulang naik apa? Sekalian gue anterin mau?"
"Tar sepupu gue jemput gue. Makasih." Kata Tifanny sambil tersenyum.
Baru saja Ferdinan ingin berbicara. Suara Savia menghentikannya.
"Ferdinannnn. Ayooo."
"Iya tunggu."
Ferdinan menatap Tifanny lalu tersenyum. "Yaudah, gue duluan yah?"
Tifanny mengangguk lalu tersenyum.
"Iya. Hati-hati."
Ferdinan melambaikan tangannya sebentar lalu pergi keluar.
"Baik yah keliatannya. Tapi kok masih ngerasa ada yang aneh yah. Apa cuma gue aja yang terlalu curigaan? Entahlah." Gumam Tifanny sendiri, lalu melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi.
Sedangkan, Savia dan Ferdinan berjalan kearah parkir sambil berbicara seperti biasa. Padahal tadi Savia sangat marah kepada Ferdinan kan? Tapi ia bisa bersikap seperti biasa lagi hanya karena cokelat dan donat.
"Loh? Itu Jason kan?" Kata Ferdinan sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di motornya sambil memegang handphone.
Savia hanya diam. Ferdinan menghampiri Jason dan menyapanya. Begitu pula dengan Savia yang berada di belakang Ferdinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laf Amour
Teen FictionPada awalnya Savia menganggap semua orang akan tetap bersamanya. Tapi semua pikiran itu lenyap. Ketika sahabat masa kecilnya, Jason Maurier. Menghindarinya tanpa berkata apapun. Lalu, Savia berusaha mati-matian agar Jason kembali berteman dengannya...
