Enam

54 16 2
                                        

Semua orang punya ceritanya masing-masing. Dan semua orang juga gak harus tau semua cerita satu sama lain.

-DeepLoss-

Galang melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalanan kota Jakarta dengan hati yang berkecambuk. Dia ingin ketenangan hingga ia memutuskan untuk bertemu seseorang yang selama 2 tahun ini sudah meninggalkannya.

Tidak butuh waktu lama Galang sudah sampa di salah satu TPU kota Jakarta tempat orang itu beristirahat untuk yang terakhir kalinya. Dia melewati satu-persatu gundukan tanah dengan tangan yang membawa sebuket mawar merah hingga kakinya berhenti melangkah didepan batu nisan yang ia cari.

Dia menatap batu nisan tersebut dengan pandangan yang sulit di artikan. Dia berjongkok mengusap batu nisan yang bertuliskan nama orang yang sudah 2 tahun ini meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Alvina Dayita Delmora

-DeepLoss-

"Jadi kalian adek kaka?" tanya Farel santai sambil mulutnya sibuk mengunyah kue kering. Berbeda dengan teman-teman Alvira yang masih melongo karena terkejut saat mengetahui Alvaro dan Alvira adalah saudara kandung.

"Iya, tapi gue pengen satu sekolah jangan sampe tau kalo gue sama Alvira saudara kandung, gue ngasih tau kalian biar ada yang jagain Alvira kalo gue lagi gak ada. Kalian bisa kan rahasiain ini?" jelas Alvaro dibalas anggukan setuju oleh teman-temannya.

"Selow aja ka kita bakal jagain Vira kok. Vira kan sahabat kita dan soal rahasia itu bakal kita jaga rapat-rapat" ucap Reva lalu dibalas anggukan setuju oleh teman-teman Alvira.

"Kalian gak marah sama gue?" ucap Alvira pelan takut-takut teman-temannya marah karena Alvira merahasiakan semuanya dari mereka.

"Semua orang juga punya alasan Ra, gue juga tau pasti lo punya alasan buat gak ngasih tau ini" ucap Kirana lembut. Membuat Alvira tersenyum lega.

"Makasih ya guys" ucap Alvira dibalas anggukan oleh teman-temannya lalu mereka berpelukan. Membuat Farel menatap mereka jijik.

"Dasar wanita!" desis Faren. Dan seperkian detik batal sofa mengenai mukanya membuat Farel yang sedang asik makan tersedak.

"Astagfirullah aerr uhuk!" ucap Farel buru-buru mengambil air yang ada di meja lalu meminumnya hingga tandas.

"Haha mampus!" ucap Adriana dengan tawa jahatnya.

"Dasar sepupu jahanam!" ucap Farel sambil menatap Adriana tajam. Adriana hanya membuang muka cuek.

"Eh iya si Galang kemana?" tanya Alvaro saat menyadari Galang tidak ada.

"Tadi sih pas lo berdua pulang Galang juga ikutan ilang" ucap Farel dibalas anggukan mengerti oleh Alvaro.

"Jangan-jangan Galang cemburu waktu liat Vira ditolongin kak Varo. Eciee Vira" ledek Adriana.

"Apaan sih Na" ucap Alvira jutek.

"Sok-sokan ngeledek lo juga cemburu! Lo gak tau aja Ro tadi sepanjang jalan kerumah lo Adriana ngedumel gak jelas!  Untung aja dia sepupu gue kalo bukan gue turunin di tengah jalan! Udah gitu ya masa Alvira dibilang nusuk dia dari belakang" ucap Farel bawel membuat Adriana menunduk menahan malu.

"Apaan sih lo?! Bohong Ra lo kalo percaya sama dia musyrik!" ucap Adriana menatap Farel tajam.

"Lo kira gue budek! Orang semalem gue abis ngorek kuping jadi kan kuping gue bisa ngedenger kata-kata lo dengan jelas walaupun lo ngomongnya pelan" ucap Farel. Teman-teman mereka hanya bisa diam melihat pertengkaran dua sepupu itu. Saat Adriana ingin menjawab suara Kirana mengintrupsi pertengkaran mereka.

"Udah selesai berantemnya?" ucap Kirana menatap kedua sepupu itu lelah. Dibalas anggukan oleh Farel dan Adriana.

"Yaudah kita balik!" ucap Kirana mendirikan badannya. Membuat Farel menatap Kirana tak terima.

"Ntaran aja ya beb! Kuenya enak nih, sayang kalo gak di abisin" ucap Farel memelas.

"Bawa aja ka" ucap Alvira membuat mata Farel berbinar. Membuat Alvaro mencebikkan bibirnya karena makanannya akan dihabiskan oleh teman-temannya.

"Beneran nih?" tanya Farel dibalas anggukan oleh Alvira. Dengan semangat Farel mengambil semua toples kue kering yang ada disana.

"Jangan dibawa semua dong ka gue juga mau!" protes Reva lalu mereka sibuk mengambil kue yang akan mereka bawa.

"Gue ambilin plastik deh ya biar kalian gampang bawanya" ucap Alvira dibalas anggukan semangat oleh teman-temannya kemudian berlalu menuju dapur.

"Loh jangan dibawa semua dong!" Protes Alvaro tak terima.

"Yaelah Ro kan si Vira bisa bikin lagi!" ucap Farel mengambil plastik yang di berikan Vira. Lalu memborong kue kering buatan Alvira.

"Iya ka, nanti aku bikinin cheese cake deh" ucap Alvira membuat mata Alvaro berbinar.

"Makasih adeku tersayang" ucap Alvaro memeluk Alvira kencang. Membuat teman-teman mereka geleng-geleng kepala sambil sibuk memasukan kue kering ke dalam plastik.

"Vira makasih ya! Oh iya kan lo mau bikin cheese cake besok lo bawa ya" ucap Reva memasang puppy eyes miliknya. Alvira mendorong Alvaro yang sedang memeluknya erat. Setelah itu ia membalas dengan anggukan. Membuat yang ada di sana berseru senang.

"Oh yaudah kita pamit dulu ya udah sore lagian mendung juga takut hujan" pamit Kirana dibalas anggukan setuju yang lainnya.

"Oh yaudah kalian hati-hati ya" ucap Alvira lalu mengantarkan teman-temannya menuju depan rumah.

-DeepLoss-

Melihat awan mulai gelap menandakan hujan akan datang Galang kembali menatap nisan itu sambil tersenyum sedih.

"Gue balik dulu ya Na udah mau hujan, kalo ada waktu gue bakal kesini lagi kok" ucap Galang sambil mengelus batu nisan tersebut mendirikan badannya kemudian berlalu menuju parkiran untuk pulang kerumah. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang menatapnya tajam.

"Ngapain lo kesini?" ucap orang itu dingin.

"Ketemu Vina" ucap Galang tak kalah dingin.

"Jangan pernah lo kesini lagi!" ucap orang tersebut dengan tatapannya yang makin menajam.

"Kenapa? Kenapa lo ngelarang gue buat ngejenguk Vina?" ucap Galang sengit. Membuat orang yang berada dihadapannya tersulut emosi lalu menerjangnya.

Bugh satu pukulan mendarat di pipi kiri Galang.

"Karena elo udah ngebunuh Vina!" ucap orang tersebut murka. Dengan hujan yang sangat deras mengguyur mereka.

Bugh satu pukulan mendarat di pipi kanan Galang.

"Jadi lo gak pantes buat nginjekin kaki lo kesini!" ucap cowo itu saat Galang tidak membalas membuat cowo itu makin tersulut emosi. Lalu memukul sudut bibir Galang,pelipis dan perut lalu ia menginjak kaki Galang sadis seakan tidak terima Galang menendang perut cowo itu lalu dia menonjok rahang cowok itu telak. Setelahnya Galang menarik kerah baju cowok itu menatap cowok itu tajam.

"Asal lo tau sebenci apapun lo sama gue, gue tetep anggep lo sahabat gue! Dan satu lagi gue gak ngebunuh Vina!" ucap Galang dingin lalu menghempaskan orang tersebut ke tanah. Kemudian berjalan dengan tertatih menuju motor sportnya.

-DeepLoss-

Galang berdiri di depan rumah sahabatnya dengan penampilan yang sangat kacau. Ia tidak mungkin pulang dalam keadaan yang seperti ini. Tubuhnya yang basah, darah yang mengalir di setiap wajahnya, baju dan celananya yang sobek dan kotor.

Galang mengetuk pintu sambil menunggu pintu terbuka Galang memijat kepalanya yang terasa pening. Saat mendengar suara pintu terbuka ia mengerjap matanya beberapa kali saat melihat sesosok manusia yang hanya diam di depannya, dia tidak bisa melihat dengan jelas karena tiba-tiba matanya memburam dan seperkian detik semuanya gelap.

-DeepLoss-

Jangan lupa vote dan comment;) maafkan kalo ada typo:D

DeepLossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang