Sepuluh

43 13 4
                                        

Kalau jauh nyariin kalau dekat berantem yaitu Adik dan Kaka

-DeepLoss-

Alvira keluar dari kamar lengkap dengan pakaian olahraganya dan rambut yang selalu ia kuncir kuda. Ia berjalan keluar rumah yang ternyata ada mamahnya yang sedang mengurus tanaman. Fyi, setiap sabtu minggu mamanya selalu ke Jakarta untuk melihat keadaan Alvira dan Alvaro.

"Mah Vira joging ke taman ya" pamit Alvira dibalas anggukan oleh mamahnya. Saat membuka pagar Sesil -keponakan Andra- menghampirinya dengan senyuman yang tercetak di wajahnya.

"Ka Vira mau lari ya? Aku mau ikut boleh gk?" Alvira mensejajarkan tubuhnya lalu mengacak rambut Sesil gemas.

"Boleh dong sayang" Sesil tersenyum girang lalu menarik Alvira kerumahnya untuk siap-siap. Setelah siap Alvira menggandeng Sesil hati-hati karena Sesil memakai sepatu roda. Sesampainya di sana Alvira joging dengan tangannya yang menggenggam tangan Sesil.

Sesekali Alvira mengajari Sesil bermain sepatu roda karena Sesil belum terlalu handal dalam permainan tersebut. Tetapi kegiatan mereka terhenti saat Alvira merasakan ada yang menubruknya dari belakang dan terdengar suara tangis yang membuat Alvira menolehkan kepalanya.

"Astagfirullah maaf ya dek yang mana yang sakit" Alvira berjongkok lalu memeluk anak itu.

"Bangun dulu yuk kita duduk dibangku aja" Alvira membangunkan anak itu lalu membawanya dan Sesil untuk duduk dibangku taman. Posisi Alvira berada di tengah-tengah.

"Ghina jangan nangis dong" Sesil menatap Ghina yang masih menangis.

"Loh kamu kenal dia?"

"Iya dia kan teman aku di sekolah" jelas Sesil, Alvira menganggukan kepalanya mengerti lalu melihat keadaan Ghina. Ternyata tidak ada yang lecet sedikit pun. Tetapi kenapa Ghina masih menangis?

"Ghina jangan nangis dong. Tubuh kamu gk ada yang luka kok. Kalo kamu nangis terus nanti cantik kamu hilang loh" Alvira mengusap air mata Ghina yang sudah menghentikan tangisnya.

"Ghina kesini sama siapa?"

"Sama kaka Ghina"

"Kakaknya kemana?" Alvira mengedarkan pandangannya ke sekitar taman.

"Tadi kakak pergi katanya mau beli minum tapi lama banget jadi aku kesel nangis deh. Eh pas aku liat ada Sesil aku mau nyamperin Sesil eh malah nabrak kakak tadi" jelas Ghina dibalas anggukan mengerti oleh Alvira.

"Yaudah sekarang kan kamu gak sendiri lagi. Jadi gak usah sedih, mending kita main bareng aja yuk!" Alvira mendirikan badannya lalu mengulurkan tangannya pada Sesil dan Ghina yang dibalas dengan bersemangat oleh mereka.

Mereka bertiga pun bermain bersama dengan tawa yang menghiasi bibir mereka. Dari kejauhan Galang memperhatikan mereka dengan senyum bahagia tercetak di bibirnya.

-DeepLoss-

Alvira yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar dengan baju tidur yang sudah melekat ditubuhnya. Ia menghampiri Alvaro dan mamahnya yang sedang duduk di ruang tv.

"Sore mah,ka" sapa Alvira lalu duduk disebelah Alvaro lalu menyenderkan kepalanya dibahu Alvaro yang sedang terfokus dengan handphonenya.

"Sore sayang" sapa mamahnya yang masih fokus menatap tv.

"Oh iya mah nanti malem anak-anak pada mau nginep disini. Soalnya kan nanti kalo aku udah lulus jarang ketemu sama mereka makannya aku mau ngabisin waktu sama mereka" mendengar itu Alvira terbangun dari posisi nyamannya menatap kakaknya tak terima.

"Yaudah mamah mau masak dulu deh buat temen-temen kamu" Ara pun bangun meninggalkan anak-anaknya ke dapur. Tiba-tiba Alvira memeluk Alvaro kencang membuat Alvaro kaget atas perbuatan Alvira.

DeepLossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang