Semester baru tengah berjalan. Beberapa minggu telah terlewati. Angin pagi berhembus sepoi-sepoi saat Junex, Elid dan Lea berangkat bersama ke sekolah. Junex memakai jaket berkerah dengan corak kotak-kotak yang jika dilihat dari jauh nampak seperti kemeja. Ia cukup suka memakainya karena tidak cukup hangat dan tidak membuat dingin pula. Pakaian ini sangat cocok dengan cuaca hari ini.
"Apa kalian menyiapkan tugas kalian?" Yang berkata demikian adalah Junex, namun tidak langsung disahut oleh Lea maupun Elid.
"Aku ketiduran. Pelajaran Matematika membuat umurku berkurang satu hari," kata Elid yang memilih menempelkan earphone ke telinganya. Salah satunya dibiarkan terjuntai.
Lea memilih memakan keripik kentang daripada mendengarkan Junex.
Junex mendesah dalam, lalu menggeleng-geleng sendiri, "Sepertinya kita tidak akan berhasil masuk Jack Rose," katanya dan langsung menghentikan langkah kedua cowok itu. "Jika terus-terusan seperti ini, impian kita tidak akan tercapai. Kita harus masuk ke kelas Jack Rose. Terutama kamu, Elid, setelah kamu masuk ke kelas Jack Rose, apa yang mungkin dikatakan ayahmu?"
"Mungkin ia bingung," kata Elid dengan tidak serius.
"Bukan begitu. Maksudku, apakah ayahmu akan bangga?"
"Aku tidak yakin..."
"Akh, sudah lah. Misalnya seperti aku, aku akan menjadi aman dan perjanjian dengan ayahku akan menjadi batal, apabila aku memasuki Jack Rose. Aku akan terhindar dari pemaksaan menjadi polisi," kata Junex menjelaskan. "Begitu juga dengan kalian, pasti keluarga kalian akan bangga dan menuruti semua yang kalian inginkan."
Seperti mendapat pencerahan, Lea dan Elid tiba-tiba seperti disuplai kekuatan baru.
"Kamu benar. Kita harus masuk ke kelas Jack Rose," seru Lea.
"Kita harus segera memasuki kelas Jack Rose. Kita tidak boleh lengah," kata Elid menyemangati dirinya.
Junex tersenyum bangga. Ia mengangguk. "Betul. Kita tidak boleh berhenti berjuang hanya karena soal yang sulit untuk dipecahkan, soalnya masih banyak lagi soal yang lebih susah."
Lea menatapnya dengan aneh. "Maksudnya?"
"Ok, ayo kita berjuang," seru Junex.
Ketiga sejoli penuh semangat itu langsung berlari cepat menuju ke sekolah. Saat Junex ingin memasuki kelas X-C, ia tidak sengaja melihat di pojok kelas ujung terdapat tiga orang cowok. Ia mengamati secara diam-diam. Di sana, satu cowok yang lebih kecil dari mereka menunduk dan bersikap menurut dengan kedua cowok di depannya. Tapi ada kejanggalan saat kedua cowok itu malah mendorong-dorong cowok itu dan memukul kepalanya. Astaga, itu pem-bully-an!
"Lihat, di sudut sana," perintah Junex. Lea dan Elid langsung melihat. Ia mengamati benar kedua siswa bullies itu. "Tunggu dulu. Bukankah mereka siswa Jack Rose? Mereka memakai blazer hitam dan bros mawar."
Lea tersentak tidak percaya. "Astaga, aku tidak percaya siswa sepintar dan sesempurna Jack Rose melakukan hal sekeji itu."
"Aku pernah melihat itu di SMP. Tapi, senior biasanya memaksa untuk meminta uang kepada juniornya. Tapi, ternyata di SMA, masih ada juga ya," sambung Elid.
"Semakin dewasa, tindakan kriminalitas itu semakin tinggi. Kamu harus tahu itu," kata Lea lebih kepada mengingatkan.
"Aku rasa ini jauh lebih parah," kata Junex saat miris melihat kedua cowok itu malah memukuli cowok kecil itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daydream*
Teen FictionMenjadi transformasi paling berbeda di keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Junex. Ayahnya, Antonio adalah polisi. Ibunya, Cecilia adalah polwan. Kakaknya, Tommi adalah polisi muda. Adiknya, Ria, bercita-cita menjadi polwan, serta adik bungsunya, D...
