Chapter 06 : Kelompok Telat

28 5 0
                                    


Mudah-mudahan ini berhasil, tinggal beberapa saat lagi...

Tiga pasang mata muncul dengan misterius di balik tembok. Dengan siaga mereka mengamati gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup. Tidak jauh dari gerbang itu berdiri kokoh seorang guru. Ia mondar-mandir dengan gelisahnya sambil sesekali menekuri jam tangannya. Joe pasti menanti-nanti mereka. Jika gerbang itu ditutup, ini yang ke delapan belas kalinya mereka terlambat. Luar biasa, mereka berhasil memecah rekor sebagai siswa yang datang telat selama tiga minggu berturut-turut.

"Bagaimana?"

Junex melihat lelaki itu mulai menggerakkan dan menutup pintu gerbang. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat. Yes! Terlambat. Berhasil! Ditutup juga akhirnya. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk menanti guru itu menutup gerbang sekolah. Tapi tidak apa lah, semua demi kelancaran rencananya.

"Bagaimana?" suara bisikan itu muncul kedua kalinya.

Junex menoleh ke sampingnya. Sahabat sejolinya, Elid nampak tidak sabaran. Begitu pula Lea. Lalu ia mengangguk-angguk kepada cowok itu sebagai petanda keberhasilan rencana mereka.

"Kita akan tunggu lima belas lagi, dan kita akan benar-benar telat secara ketelaluan," kata Junex. Kedua sahabatnya mengangguk.

Tepat setelah lima belas menit, mereka berdua berjalan dengan santai menuju gerbang. Dengan wajah tidak berdosa mereka berpura-pura menunggu Pak Joe yang biasa mengawasi siswa-siswa yang datang telat.

"Tumben Pak Joe nggak ada, biasanya ia pasti sudah menunggu kita," kata Junex yang menyender ke gerbang. Matanya mencari-cari sosok guru yang rajin menjaga gerbang itu.

"Ia pasti segera datang," kata Lea sambil mengunyah-unyah permen karet dan bermain ponselnya—yang secara teknis, apabila dilempar ke ayam tetangga langsung meninggal di tempat.

"Apa mungkin ia mengundurkan diri karena tidak tahan menghadapi kita lagi?" Pertanyaan Elid membuat Junex mengangkat bahu.

"Bagaimana kalau kita masuk saja. Biar Pak Joe langsung melihat kita," saran Lea dan langsung diterima kedua sahabatnya bulat-bulat. Elid pun langsung menggeser pagar, lalu membiarkan kedua temannya lolos.

Begitu situasi masih tidak menunjukkan kehadiran Joe, ketiga sejoli itu langsung memasuki kompleks. Dengan santai dan tertawa berlebihan mereka melewati lapangan upacara.

"Juneex! Eliid! Leaa! Diam di tempat!" suara dari to'a menggelegar dahsyat. Ketiga siswa itu tersentak. Jantung mereka hampir loncat dari dada. Mereka berbalik sambil mengumpat.

Joe menghampiri mereka dengan langkah kasar. Ia senyum sinis dan tersirat sebuah kebencian besar. Dari gurat wajahnya mungkin ia sudah menemukan ide untuk menghukum mereka dengan cara yang berbeda. Yah, mengingat hukuman standar yang ia lakukan kepada siswa yang datang telat masih belum membuat jera ketiga sejoli itu.

"Pak, aku telat lagi," seru Junex ceria. Joe lantas memukul kepala Junex dengan kertas tergulung.

"Nenek-nenek yang jatuh dari lantai empat pun tahu kalau kamu itu telat, Bego," bentak Joe gemas. Junex meringis. Elid dan Lea tertawa renyah.

"Siapa suruh ketawa !?"

"Bapak lucu. Yang ada nenek-neneknya malah mati, Pak," kata Elid tidak tahu-menahu. Ia terus ketawa.

"Bapak unik," kata Lea geli.

Urat di kepala Pak Joe rasanya hampir pecah melihat tingkah seenaknya dari ketiga anak tersebut.

"Diam!" katanya dengan suara menggelegar. Ketiga anak manusia tersebut diam. Ia melanjutkan dengan menggunakan to'a, "Kalian akan aku hukum hari ini. Kalian berlari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali."

Daydream*Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang