Ruang tamu di rumah kediaman Junex terasa mencekam. Lea mondar-mandir dengan panik. Bahkan sangat panik. Junex dan Elid hanya bisa melihat cewek itu bergerak kesana kemari dengan hebohnya.
"Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku akan menjalani SMA paling luar biasa di seluruh dunia, tanpa teman se-o-rang-pun," katanya dengan heboh. Ia menekankan pada kata terakhir yang ia ucapkan.
"Ayolah, ini bukanlah hal yang terlalu buruk. Setidaknya kamu punya dua sahabat," kata Elid menenangkan. Saat cewek itu melihatnya, ia tersenyum manis. Lea menatapnya dengan jijik.
"Maaf, Lae. Aku terbawa arus, dan..."
"Dan merusak masa SMA kita ya, kan?" Lea memotong perkataan Junex.
Junex mengangkat bahu. "Ya, setidaknya itu adalah pengalaman baru untuk kita," katanya membela diri.
Merasa letih, Lea duduk di sofa di depan kedua sahabatnya. Ia menunduk sambil menutup mukanya.
"Ayolah, kamu tidak perlu depresi seperti itu. Kita hanya pernah melakukan perlawanan terhadap Jack Rose. Aku juga sebenarnya tidak ingin melawan, tapi karena mereka sudah keterlaluan, aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi," Junex membela diri. "Aku bahkan lupa impianku, untuk masuk ke kelas Jack Rose."
"Ok," kata Lea mencoba tenang. Desahannya sangat keras. "Sekarang apa yang akan kita lakukan?" katanya dengan membesarkan matanya di balik wajah yang masam.
"Bagaimana kalau... Kita akan lakukan demonstrasi kepada kepala sekolah," kata Junex singkat.
"I love it," seru Elid setuju.
Lea menganga sambil mengangkat bahu serta menggeleng. "Are you serious?" katanya dengan sangat tidak percaya. "Bagaimana bisa berdemonstrasi dengan jumlah tiga orang?"
"Aku bisa mengajak..."
"Kita nggak perlu ngajak keluargamu untuk ikut-ikutan demo, Elid," potong Junex dan Lea secara serentak. Elid memurung.
"Kamu terlalu naif jika mengatakan kalau ini akan berhasil, Jun," kilah Lea. "Melakukan demo di sekolah bukanlah main-main, Jun."
"Tapi, kita layak mencobanya. Aku sering melihat siswa demo di sekolah lain, dan hasilnya... Mereka didengarkan," kata Junex dengan sangat yakin. "Sasaran kita, yaitu kepala sekolah, Pak Jack. Mungkin kepsek terlalu sibuk dengan kegiatannya, sehingga ia tidak menyadari apa yang terjadi dengan sikap siswa Jack Rose. Demo ini akan menjadi cara agar keluhan kita didengarkan."
Lea menggeleng-geleng. "Aku tidak yakin ini akan berhasil!"
"Aku yakin ini akan berhasil," sahut Junex tidak mau tahu.
"Kalau kamu merasa ini berhasil," kata Lea bangkit dari sofa dan bergerak pergi. "Lakukan saja sendiri. Aku tidak ikut ambil andil dalam demonstrasi ini!"
"Tapi..." kata Junex tidak terima dan menjerit kesal.
☆☆☆
Belum ada cara jelas yang harus dilakukan Junex untuk menanggapi semua ini. Salah satu upaya yang mungkin bisa berhasil, yaitu berdemonstrasi di kantor Kepala Sekolah. Ini mungkin salah satu cara yang harus ditempuhnya agar ia melaporkan semua kelakuan siswa Jack Rose selama ini.
Ada dua hal yang harus diperjuangkan. Pertama, tidak seharusnya siswa mendapat ucilan, penghinaan, diskriminasi, serta pukulan yang kasar. Pem-bully-an harus dihentikan. Semua siswa bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Dan kedua, ia juga tidak terima adanya perbedaan antara kelas Jack Rose dengan siswa regular. Ini semua tidak adil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daydream*
Teen FictionMenjadi transformasi paling berbeda di keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Junex. Ayahnya, Antonio adalah polisi. Ibunya, Cecilia adalah polwan. Kakaknya, Tommi adalah polisi muda. Adiknya, Ria, bercita-cita menjadi polwan, serta adik bungsunya, D...
