Hari sudah pagi saat Junex sudah terjaga. Sekarang pukul lima pagi. Tidak seperti biasanya ia akan terbangun tepat pada pukul tujuh pagi, apalagi sekarang liburan sekolah, dan itu pun Cecilia harus bersusah payah untuk membangunkannya. Bagi ibunya itu, membangunkan Junex di pagi hari sama artinya menukar posisi gunung Sibayak dan Sinabung.
Ia menggeliat sejenak untuk meregangkan tubuh, kemudian menghirup udara pagi-pagi yang ...
Yang... yang bau pesing lagi? Oh, tidak! Jangan lagi...
Junex mengendus-endus mencari sumber bau pesing. Sepintas dipikirannya sudah terbesit bahwa yang melakukan perbuatan tercela ini, yaitu kucing kesayangan David, Junex Junior. Oh, mulai macam-macam dengan Tuan Junex? Pada kesempatan pertama, ia boleh selamat karena ditolong oleh David. Dan pada kesempatan kedua, ia tidak akan membiarkan kucing itu selamat. Ia akan mati sekarang juga!
Junex langsung berpikir yang lain saat merasakan ada sesuatu yang menendang kakinya. Jangan sampai prediksi benar bahwa ada orang lain di tempat tidurnya. Ia menyibakkan selimut.
"DAVIIIIIID!"
"Pa, sepertinya ada masalah lagi di kamar Junex," seru Cecilia yang tengah memasak di dapur. Ia sedang dibantu oleh Ria. Antonio berdeham dan mengangguk.
"Kenapa kamu tidur di kasurku, dan kenapa pakai pipis segala, hah!?" pekik Junex membabi buta, tidak tahan melihat tindakan adiknya. Ia semakin gemas saat adiknya itu malah bersikap biasa dan tidak merasa berdosa sama sekali. David bangkit sambil mengucek-ucek matanya yang terasa berat.
"Ada apa, Kak. Kok heboh pagi-pagi begi..." Belum sempat David selesai berbicara, kepalanya langsung dipukul kakaknya.
"Kucingmu ngompol kasurku, kamu juga ngompol kasurku, dan bentar lagi satu keluarga ini ikut-ikutan ngompol di kasurku," seru Junex menggemparkan suasana kamarnya. Ia memukuli adiknya dengan guling dan bantal.
David segera melonjak untuk menghindari penyerangan kakaknya yang sangat brutal. Agar tidak berakhir dengan kematian yang sadis, ia berlari-lari menghindari kakaknya.
"Oh, kamu mau bermain-main denganku!?" kata Junex mengejar adiknya serta merta membawa guling, senjatanya.
Tiba saatnya David tiba di pojok kamar. Ia tidak bisa lari ke mana lagi. Ia menatap wajah kakaknya yang begitu horor saat ini. Junex nampak seperti seorang pembunuh yang sebentar lagi akan mengakhiri hidup korbannya.
"Kakak harus dengarkan aku dulu. Aku punya alasan melakukannya. Aku sebenarnya takut sendirian tidur di kamarku," seru David mencoba merelai, "Itu karena aku menonton The Ring semalam. Aku takut sadako-nya mendatangiku."
"Kenapa harus ngompol segala. Apa kamu tidak bisa ke WC sebentar?"
"Aku takut sadako-nya keluar dari WC," sahut David polos.
Junex menyerngitkan dahinya. "Itu bukan alasan. Aku rasa kamu sudah keterlaluan. Rasakan ini!" Ia memutar-mutar guling sebagai pemanasan. Mencoba memusatkan kekuatan pada ujung guling. Berlagak seperti Satria Baja Hitam yang akan mengerahkan sisa tenaganya. "Kamu akan merasakan kekuatan super power-ku!"
"Tunggu dulu. Kalau kakak pukul aku, aku akan panggil Papa," ancam David dengan sikap sombong.
Junex mendengus sinis. "Oh, rupanya kamu mulai pandai mengancam ya. Aku tidak takut!"
Langsung saja Junex memukul adiknya, namun selincah mungkin David menghindar, lalu menangkap gulingnya.
"Nggak kena, nggak kena, nggak kena," seru David mengejek seperti menyanyi sebelum menjulurkan lidah. Lalu ia langsung melakukan hal yang tidak diduga. "Pa, kak Junex mau ikut latihan tinggi badan!" jeritnya sangat kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daydream*
Novela JuvenilMenjadi transformasi paling berbeda di keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Junex. Ayahnya, Antonio adalah polisi. Ibunya, Cecilia adalah polwan. Kakaknya, Tommi adalah polisi muda. Adiknya, Ria, bercita-cita menjadi polwan, serta adik bungsunya, D...
