Chapter 09 : Masa Lalu Sahabat Kecil

14 3 0
                                    

"Apaa!? Kita ke rumah nenek lagi!?" pekik Junex histeris begitu Antonio mengatakan keputusannya. Suaranya bahkan menyebar ke penjuru ruang keluarga, mengusik kesibukan keluarganya di situ.

"Saya juga sebenarnya tidak mau ini terjadi. Tapi apa boleh buat, kita tidak boleh menolak keinginan Nenekmu," sahut Antonio saat menyeruput kopinya. Kembali fokus ke koran paginya.

Cecilia begitu antusias di dapur. Menyiapkan masakan kesukaan ibu mertuanya untuk liburan besok. Ia tampak begitu senang, dan jelas, Junex menyesali itu. Tidak mungkin kalau ibunya mau menolak rencana ini. Padahal andai saja Cecilia bilang beberapa alasan agar rencana ini dibatalkan, sang nenek tidak berani menyanggahnya. Cecilia memang menantu kesayangan nenek. Tapi apa daya jika wanita itu tak pernah menginginkan demikian.

"Aku nggak mau ikut," cetus Junex sambil melipat tangan. Ia satu-satunya manusia yang memberenggut di ruang keluarga itu.

"Kakak tidak boleh berbicara seperti itu. Kakak harus ikut. Apalagi setelah ayah memberitahu masalah perlawanan kakak terhadap kelas khusus di SMA," kata Ria yang tengah sibuk menyusun buku-bukunya ke dalam tas. Ia melihat sinis kepada kakaknya. "Aku rasa itu memang sedikit keterlaluan."

"Lagipula bagaimana kamu bisa berkelahi dengan kelas lain," kata Tommi yang tengah siap-siap hendak pergi.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Itu sih mereka sendiri yang merasa terusik saat aku melawan," kata Junex melakukan pembelaan.

"Tapi, kakak memang harus ikut. Nenek sangat tahu nilai kakak juga anjlok. Mulai dari Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Semuanya, deh," sambung David yang tengah bermain mobil-mobilan di lantai. Ia sengaja tidak sekolah saking tidak sabarnya liburan ke rumah nenek.

Junex memandang kedua adiknya. Ria dan David angkat bahu. Mereka santai saja menerima kenyataan, toh artinya mereka tidak pernah bermasalah dengan nenek. Junex pun merasa kesal.

Baginya, liburan kali ini tak ubahnya seperti mengantar dirinya sendiri ke tempat rehabilitasi. Di situ Junex akan diomelin, diceramahi beberapa bab hingga bisa dibukukan, dan bayangkan betapa susahnya nanti dokter THT memeriksa telinganya yang telah kotor karena kata-kata tidak penting Si Nenek.

Demi mengantisipasi semua itu, ia harus merayu keluarganya satu per satu agar bisa mempengaruhi supaya membatalkan rencana ini. Pertama, Junex menatap Antonio dengan mimik polos dan penuh keyakinan. Mudah-mudahan Papa bisa luluh.

"Wah, kayaknya istriku butuh bantuan," kata Antonio menghindari Junex. Junex tahu sekali kalau ayahnya sengaja menghindarinya. Tega sekali...

"Dik," kata Junex merayu kedua adiknya. Sekejap kedua adiknya semakin sibuk.

"Wah, kayaknya aku harus ke sekolah nih," kata Ria.

"Kayaknya aku ngantuk nih," kata David menghindar.

"Kak," kata Junex merayu Tommi. Ia memanggil "Kakak" di saat kondisi mendesak saja, padahal ia selalu memanggil namanya.

"Kayaknya aku harus pergi kerja nih," kata Tommi mulai merasa tidak enak.

"Ih, tega banget sih kalian semua," jerit Junex. Ia kini sendiri di ruang keluarga. Junex bangkit dari sofa penuh kesal. Ia memicingkan mata kesal. Setelah meraih tas selempangnya lalu pergi dengan mengentak-entakkan kakinya. Kemudian menghentamkan pintu keras-keras.

Antonio menjulurkan kepalanya dari dapur. Kepala Ria dan David muncul dari belakang. Tommi mengintip ke ruang keluarga. Begitu keempat orang itu bertemu di ruang keluarga, mereka bersorak-sorai menanggapi kepergian Junex.

"Papa berhasil. Aku nggak menyangka rencana ini berhasil dan berjalan lancar. Kak Junex tidak tahu berbuat apa," kata Ria salut atas rencana Antonio.

Daydream*Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang