Junex mendapati kertas bergambar mawar di mejanya, lalu ia memperhatikan sekitarnya. Mungkin saja orang yang menaruhnya masih di sini. Tapi... tidak ada satu pun yang mencurigakan. Teman sekelasnya nampak sibuk menikmati istirahat.
"Ada apa?"
Junex menjulurkan kertas itu, lalu disambut ekspresi sigap Elid. "Ancaman teror berikutnya," katanya setengah hati. Awalnya ia ingin membohongi Elid, tapi ia sudah memutuskan tidak perlu melakukan itu lagi.
"Apa ada yang mencurigakan?" kata Elid saat memeriksa ke laci meja dan bawah kolong meja.
Junex mulai memeriksa tasnya. Astaga! Ia mendapati buku-buku PR dan beberapa buku mata pelajaran terkoyak-koyak di dalam. Jack Rose benar-benar tega melakukan ini.
"Padahal tugasku ada di dalam buku ini," kata Junex baru sadar. Ia mengumpulkan serpihannya, menyatu-nyatukan pecahannya, namun percuma saja.
"Sebaiknya kamu kerjakan lagi sekarang sebelum waktu istirahat berakhir," saran Elid. Tepat saat cowok itu selesai berbicara, Sacquin muncul dari pintu. Wah betul juga, pikirnya. Kebetulan juga ada Sacquin.
"Sac, aku pinjam tugasmu ya," kata Junex, dan langsung bergerak ke seberang, menghampiri meja itu. Jangan tanya kenapa ekspresi Sacquin ketakutan, seolah tidak mau memberikan bukunya kepada Junex. Atau lebih tepatnya ia takut memberikannya kepada cowok itu.
"Jangan, jangan, Jun," kata Sacquin berusaha melangkah dengan cepat untuk menghalau Junex, tapi gagal. Junex telah merogoh tasnya dan matanya membelalak setelah mendapati sesuatu.
Junex nampak marah saat menoleh ke arah Sacquin. Ia tidak mengeluarkan apa-apa dari tas cowok itu. Ia melangkah mendekatinya dan menatapnya dengan kecam.
"Sejak kapan..."
Sacquin ketakutan. Ia menggeleng dan mulai panik.
"Sacquin, sejak kapan kau..."
"Ada apa ini? Kenapa kamu memarahi Sacquin?" kata Elid yang bingung melihat kedua temannya. Terakhir begitu ia duduk, ia melihat Junex merogoh tas Sacquin dan kini cowok itu malah nampak marah kepadanya.
"Lihat tasnya!" perintah Junex, tapi matanya masih menatap Sacquin, mencoba mencari jawaban dari mata cowok itu. Sacquin hanya menunduk dan ketakutan.
Elid mulai memeriksa tas Sacquin. Ia benar-benar terkejut. Sama halnya yang dialami Junex, buku-bukunya semua dirobek dan berantakan.
"Sejak kapan kamu mengalami itu," kecam Junex kasar.
Sacquin masih menunduk. Ia semakin cemas. "Itu...Tidak apa-apa. Itu hanya..."
"Apa? Kamu mau bilang kamu yang mengoyakkan bukumu sendiri, begitu?" potong Junex dengan kasar. Ia memegang kedua bahu Sacquin, memaksanya menatapnya. "Dengar," katanya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Sejak kapan kamu diteror seperti ini?"
Sacquin mendesah pelan saat mengatakan, "Seminggu yang lalu."
Semuinggu yang lalu? Ini berarti Sacquin sudah diteror sebelum Junex. Tapi kenapa Sacquin tidak mengatakannya?
Junex melepas bahu Sacquin, lalu memegang kepalanya tidak tahan. Sebelumnya ia merahasiakan teror Jack Rose supaya sahabatnya tidak terserang ancamam teror. Tapi, pada kenyataannya salah satu sahabatnya sudah diteror lebih dahulu. Sudah begitu lama pula Sacquin merahasiakannya. Aku memang bukan sahabat yang baik, kata Junex dalam hati.
Junex beralih ke Elid. Ia mendekati cowok itu sambil mengerahkan kerahnya, seperti mengancam. "Jujur, kamu pasti menerima teror juga!" katanya setengah marah. Matanya membelalak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daydream*
Teen FictionMenjadi transformasi paling berbeda di keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Junex. Ayahnya, Antonio adalah polisi. Ibunya, Cecilia adalah polwan. Kakaknya, Tommi adalah polisi muda. Adiknya, Ria, bercita-cita menjadi polwan, serta adik bungsunya, D...
