I

9K 474 17
                                        

Tolong bantu koreksi jika ada kesalahan ya.
Terimakasih.

.

.

.

Ara hanya duduk diam diruangan baru yang terasa begitu asing baginya. Ruangan yang tiga kali lebih besar dari kamar tidurnya di rumah, dengan banyak perabotan mahal serta ranjang king size.

Wangi dari pengharum ruangan bahkan tidak bisa membuatnya sedikitpun merasa nyaman. Bosan memandang tv yang ia nyalakan tanpa suara, pandangannya beralih pada jendela yang menyuguhkan halaman belakang rumah yang di penuhi oleh banyak orang yang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan Gibran.

Ara menerima lamaran laki-laki itu. Jangan tanyakan, bagaimana ia bisa mengiyakan lamaran tersebut. Karena semua telah Ara serahkan pada Yang Maha Kuasa. Dimana sejak Gibran mengatakan ingin menjadikan Ara istrinya. Ia tidak bisa mengenyahkan kata-kata laki-laki itu dari pikirannya. Ara menolak, sangat menolak lamaran laki-laki yang tidak pernah diinginkan itu.

Tapi, sudut kecil dihatinya merasa ada yang salah saat otaknya terus-terusan menyatakan tolakan untuk lamaran tersebut. Hingga Ara meminta petunjuk-Nya, dan berakhir dengan memberikan 'iya' sebagai jawaban untuk lamaran Gibran.

Saat itu, tidak ada raut wajah bahagia. Hanya Gibran yang menunjukkan wajah lega.

Kemudian tanpa menunggu waktu lebih lama, Gibran membawa keluarganya untuk melamar Ara pada orangtuanya. Ayahnya dengan mudah menerima lamaran tersebut karena sebelumnya Ara telah meminta izin serta berbicara lebih dulu dengan Ayahnya.

Dan saat itu masih tidak ada satupun yang menunjukkan raut wajah bahagia, melainkan banyak senyum yang terkesan dipaksakan.

Usai acara lamaran, beberapa hari kemudian keluarga Gibran datang untuk menjemput Ara. Sesuai adat Lombok, yang dinamakan bait penganten.

Dimana beberapa keluarga mempelai laki-laki datang untuk menjemput mempelai wanita dan beberapa keluarga mempelai wanita ikut mengantarkan mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.

Dua hari kemudian dilanjutkan dengan sorong serah. Dimana keluarga mempelai laki-laki memberikan uang yang diminta oleh keluarga mempelai wanita. Dan sebagian uang itu akan dibagikan kepada orang-orang yang di undang ke acara tersebut.

Diacara itu, Ara dan Gibran tidak ikut hadir. Karna itu memang khusus acara untuk keluarga kedua mempelai. Dan yang bisa megikuti acara itupun hanya laki-laki.

Selesai sorong serah, orang-orang mulai disibukkan oleh persiapan pernikahan akad nikah yang akan dilaksanakan dua hari lagi.

Di Lombok ini disebut dengan nama begawe beleq. Orang yang akan menikah, aqikahan, sunatan dan melakukan acara-acara lainnya pasti begawe beleq. Tapi tergantung pada mampu atau tidaknya orang tersebut. Karena begawe beleq membutuhkan lumayan banyak biaya juga tenaga kerja.

Suara ketukan pintu membuat pandangan Ara dari orang-orang yang sibuk di halaman belakang rumah teralih. Ia segera mengambil jilbab untuk dikenakan lalu berjalan menuju pintu kamar dan membukanya.

"Ada apa?" Tanya Ara begitu membuka pintu dan menemukan Gibran yang berdiri disana.

"Waktunya makan siang, keluarlah."

"Nanti saja." Tolak Ara.

Sedikitpun tidak ada niat gadis itu untuk memasukkan makanan dalam perutnya. Yang ia butuhkan hanya menyendiri, hingga ia cukup siap menghadapi keadaan disekelilingnya sekarang.

Hari Setelah Akad [ SELESAI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang