VIII

4.4K 357 6
                                        

Suara bell rumah terdengar saat Gibran dan Ara baru saja menyelesaikan makan malam mereka.

"Biar aku yang buka." Ucap Gibran pada Ara yang berniat menghentikan aktivitasnya mencuci piring untuk membuka pintu.

"Siapa yang datang?" Tanya Ara saat Gibran kembali ke dapur.

"Mama. Itu lagi di ruang tamu."

"Eh. Kok malem banget datangnya."

"Katanya abis arisan dirumah temennya. Kamu selesain aja dulu nyuci piringnya, nanti nyusul ke ruang tamu." Ara mengangguk dan buru-buru menyelesaikan kerjaannya.

Entah kenapa, jantung Ara deg-degan saat berjalan menemui Mama mertuanya itu. Dulu saat tinggal dirumah Gibran sebelum pernikahan, Ara hanya berbicara seadanya dengan Mama. Bahkan hampir semua penghuni dirumah itu. Dan sekarang, Ara tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Mama mertuanya menyukainya atau tidak pun, Ara tidak begitu tahu.

"Mama." Sapa Ara menyalami Mama kemudian duduk di sofa yang ada disamping Gibran.

"Mama kesini pake apa?" Tanya Gibran pada Mamanya.

"Tadi berangkatnya sama temen Mama, dianter kesini pun tadi sama dia. Tapi dia langsung pulang ke Lotim. Mama malam ini mau nginep disini dulu." Jelas Mamanya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Gibran hanya menganggukan kepala, sedangkan Ara langsung berdiri menyiapkan kamar untuk Mama mertuanya.

"Aku siapin kamarnya dulu Ma."

Sesampai dikamar tamu, Ara menghela nafas kasar. Benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain, sekalipun itu Mama mertuanya.

Bisa dihitung jari, berapa kali Ara berinterksi dengan Mama. Dan sejauh ini, menurut Ara Mama sedikit menakutkan. Ia sangat jarang tersenyum bahkan tidak menyembunyikan sikap saat ia sedang kesal atau marah.

"Cukup Ma. Menikahi Ara itu pilihanku. Dan aku nggak pernah merasa menyesal. Ara itu nggak seperti apa yang Mama pikirkan."

"Itu karena kamu baru menikah dengan dia Bran. Bagaimana dengan 2 atau 3 tahun kedepan. Saat perlahan sifat aslinya muncul."

"Dia baik Ma. Dia orang baik." Tekan Gibran meyakinkan Mamanya.

"Kamu menyimpulkan dia baik hanya dari beberapa pertemuan kemudian memutuskan menikahinya tanpa berpacaran. Tanpa saling mengenal lebih dalam dulu."

"Aku nggak berada di usia dimana aku masih membutuhkan waktu untuk berpacaran Ma. Dan untuk saling mengenal karakter masing-masing, kami tengah menjalani tahap itu. Mungkin Mama juga berpikir jika umur Ara yang terpaut 10 tahun denganku membuat dia tidak bisa mengimbangiku. Tapi Mama salah, dia bersikap jauh lebih dewasa dari usianya dalam artian yang baik Bu."

"Jika dia memang sudah dewasa, bukankah seharusnya sekarang dia tengah hamil. Harusnya dia mengerti pada usiamu yang sudah seharusnya memiliki seorang anak."

"Semuanya butuh proses Ma."

"5 bulan itu bukan waktu yang singkat Bran."

Ara terdiam dibalik dinding ruang tamu saat mendengar percakapan Gibran dengan Mamanya. Ia tidak bermaksud menguping, ia hanya ingin memberitahu jika kamar yang akan ditempati Mama mertuanya itu sudah siap. Namun langkahnya terhenti saat mereka menyinggung tentang Ara.

Ternyata bukan tanpa alasan Mama mertunya bersikap dingin padanya.

Hamil?

Ara menelan ludah mengingat keinginan Mama mertuanya untuk anaknya, Gibran. Tapi Gibran sendiri, tidak pernah menyinggung itu pada Ara.

Hari Setelah Akad [ SELESAI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang