Gibran menikmati sarapan dalam diam dan sesekali menahan senyum saat mendapati Ara yang sejak membuka mata tidak berani menatap langsung matanya lebih lama.
Pipi Ara bahkan akan memerah saat mendapati Gibran memandang kearahnya. Membuat Gibran gemas sendiri dan ingin mengurung istrinya itu kalau saja ia tidak memiliki janji konsultasi dengan salah seorang pasiennya.
"Sakit Ra? Kok diam saja dari tadi." Tanya Gibran yang jelas-jelas tahu bahwa saat ini Ara tengah dirudung rasa malu.
"Ng--nggak kok." Jawab Ara cepat dan kembali menunduk melanjutkan makannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Gibran beranjak dari duduknya dan menarik kursi yang ada disamping Ara.
Laki-laki itu memegang kedua bahu Ara agar menghadap ke arahnya.
"Ke--kenapa?" Tanya Ara gugup dengan mata yang mengedarkan pandangan agar tidak menatap langsung mata Gibran disertai pipi yang memerah.
Dan kali ini Gibran tidak bisa menyembunyikan tawanya. Tawa yang bisa dihitung jari oleh Ara saking jarangnya Gibran melakukannya.
Gibran menangkup wajah Ara. "Tahu nggak? Ekspresi malu-malunya kamu ini buat aku pengen ngurung kamu seharian didalam rumah." Bisiknya lalu mengecup hidung mancung istrinya itu.
Ara hanya diam, tidak tahu harus membalas apa. Ia juga sejujurnya sangat ingin bersikap biasa saja, tapi entah kenapa tubuhnya tidak ingin diajak bekerja sama.
"Aku berangkat kerja dulu." Ujar Gibran kemudian.
Saat Ara akan ikut berdiri untuk mengantarkan Gibran sampai pintu, laki-laki itu menahannya.
"Sudah, nggak usah. Kamu lanjutin sarapan saja. Habis itu istirahat ya, kamu kelihatan pucat." Pesan Gibran lembut dan Ara hanya menganggukan kepala. Ia mengambil tangan Gibran untuk dicium dan membiarkan Gibran menciumnya. Tapi kali ini bukan di kening, melainkan dibibirnya.
"Aku berangkat. Assalamu'alikum."
"Walaikumussalam."
Ara menutup wajahnya yang memerah setelah mendengar deru mobil Gibran menjauh.
"Kenapa sekarang nyiumnya dilain tempat." Gumam Ara. "Ini jantung juga kok ya berdetak kencang terus dari semalam."
Ara kembali menyantap sarapannya hingga habis lalu membereskan dapur yang sedikit berantakan. Setelah itu ia memutuskan untuk istirahat sejenak.
○○○
"Bran, nanti ikut seminar di kampus Juan nggak?" Tanya Gio begitu mereka keluar dari ruang rapat untuk membahas operasi salah satu pasien kembar siam.
"Kapan acaranya?"
"Besok tanggal 18."
"Lihat besok lah, kalau gue nggak ada piket." Kata Gibran sembari sibuk membuka lembaran kertas hasil dari rapat tadi.
"Makan siang nanti ke warung depan Rumah Sakit yuk, bosan juga makan makanan kantin." Ajak Gio.
"Boleh." Balas Gibran.
Gio menoleh pada Gibran yang berjalan disampingnya. Menatap penuh curiga wajah Gibran yang tidak terlihat dari biasanya.
"Sebenernya gue nggak mau nanya ini dan nggak penting banget. Tapi ini benar-benar mengganggu gue." Kata Gio tiba-tiba, membuat Gibran menatapnya dengan kerjitan alis dalam. Merasa bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hari Setelah Akad [ SELESAI ]
RomanceKetika Gibran dan Ara berusaha menjalani aktivitas rumah tangga pada umumnya walau tanpa di dasari cinta, alasan yang seharusnya sebagian besar pasangan miliki untuk menikah. Sejak awal Gibran dan Ara berusaha menjadi suami dan istri yang baik. Namu...
![Hari Setelah Akad [ SELESAI ]](https://img.wattpad.com/cover/115891953-64-k199364.jpg)