Happy reading.
Keenath melangkah memasuki gerbang SMA Twelsone dengan langkah malas, jika tidak dipaksa oleh Vian dia malas sekali menampakkan diri di sekolah, rasanya ingin bolos saja, tetapi bingung ingin pergi ke mana.
Teman-temannya pun dengan brengseknya malah pura-pura rajin ke sekolah, padahal biasanya jika di ajak ngiblis juga mereka langsung oke. Ah, sepertinya mereka memang sengaja agar Keenath bertemu dengan Kimmy.
Dengan langkah gontai, laki-laki itu berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai. Banyak siswi yang menyapanya dengan genit, Keenath yang dalam mood buruk hanya tersenyum kecut menanggapi.
"KEENATH!"
Suara itu. Keenath hapal sekali, ia memejamkan matanya frustasi, dengan langkah lebar ia berjalan cepat menuju kelasnya.
"KEENATH! NATH!! TUNGGUIN GUE!!"
Suara itu masih meneriaki namanya, mau apa lagi? Tidak puaskah dia menolak Keenath mentah-mentah kemarin? Ya, lebih baik Keenath menghindar. Karena luka di hati belum pulih sepenuhnya.
•••
Sepanjang pelajaran Kimmy sama sekali tidak fokus, yang dilakukannya hanya lirik-lirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Ia gelisah karena sepanjang pelajaran berlangsung Keenath tidak masuk kelas dari pelajaran pertama, hanya ada tasnya yang tergeletak di atas meja.
Kimmy menatap tas Keenath dengan sendu, setelah penolakan yang ia lakukan kemarin, bukan ini yang Kimmy mau. Kimmy tahu laki-laki ltu menghindarinya, Kimmy juga tahu ini karena salahnya juga. Tapi, apakah harus seperti ini cara Keenath menjaga jarak dari dirinya?
Akhirnya bel yang sedari tadi Kimmy tunggu berdenting. Kimmy cepat-cepat memasukkan alat tulisnya asal ke dalam tas, setelah itu berlari keluar kelas mencari keberadaan Keenath.
Kimmy menyeka kasar peluh yang membanjiri pelipisnya, sebenarnya ke mana Keenath? Di rooftop sepi, di taman belakang dan taman samping tidak ada, di lapangan basket indoor maupun outdoor tidak ada, di ruang ekskul tidak ada, di mushala tidak ada, sebenarnya Kimmy juga coba-coba saja ke mushala walaupun dia yakin Keenath tidak akan ada di situ. Ya kali, ketuanya iblis begitu masa tobat.
Kimmy berjalan gontai di koridor kelas 11. Gadis itu menundukkan kepalanya sendu, ia tidak nyaman dengan situasi seperti ini, ia ingin Keenath yang dulu. Ternyata sebuah rasa bisa mengubah keadaan secepat ini, yang tadinya sedekat nadi, sekarang sejauh matahari.
Pluk!
Seseorang menepuk pundak gadis itu dari belakang, Kimmy langsung menyunggingkan senyum penuh harapan, berharap itu adalah Keenath.
Tetapi begitu berbalik badan senyuman gadis itu langsung redup, digantikan raut tidak bersemangat.
"Muka lo kenapa? Keruh banget?" seseorang yang tadi menepuk pundak gadis itu menaikkan alis tidak mengerti.
Kimmy memaksakan senyumnya. "Nggak papa kok Kak Galang."
"Kantin yuk!" ajak Galang, sembari menarik tangan Kimmy untuk ikut dengannya.
Kimmy hanya mengangguk pasrah seperti kangguru yang dicucuk hidungnya.
Baru kali ini Kimmy tidak se-antusias biasanya ketika berada di dekat Galang, yang ada di pikirannya saat ini hanya Keenath, Keenath, dan Keenath. Mungkinkah perasaannya pada Galang sudah sirna? Mungkinkah Kimmy menyukai Keenath juga? Ah, Kimmy tidak tahu.
•••
Kimmy mengunyah siomay yang ada di hadapannya dengan lamban, harusnya dia bahagia karena bisa satu meja dengan anak-anak famous nan absurd ini, apalagi di samping kirinya ada Galang sang pujaan hati. Tetapi, rasa antusias Kimmy menghilang, seiring pikirannya yang terbang melayang memikirkan di mana Keenath sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coldest Guy
Ficção AdolescentePrivate random. [Completed] [Twelsone School Series 1] Jika Galang membenci Kimmy, maka Kimmy sebaliknya. Jika Kimmy tersenyum karena Keenath, maka Galang akan merasa benci. Copyright © 2017 by valendafs Cover by : horxans 05-06-2017 (Start) 25-01-2...
