Happy reading.
Sampai hari ini Kimmy dan Durio masih dalam fase saling mendiamkan, keduanya tidak ada yang ingin menegur duluan. Kimmy juga orang yang tidak ambil pusing soal itu, kalau Durio memang ingin begini ya sudah, Kimmy tidak akan mau memutuskan Galang sebelum ia tahu apa alasannya.
Bicara soal Galang, menurut Kimmy laki-laki itu adalah cowok paling kejam di hidupnya. Bagaimana tidak, cowok itu serius dengan perkataannya yang 'menyita ponsel Kimmy' terbukti dengan kemarin ketika Kimmy ingin meminta ponselnya lagi Galang langsung pergi dari pekarangan rumah gadis itu.
Yeah, yang bisa Kimmy lakukan hanya mengumpat sepanjang langkahnya memasuki rumah, yang berakhir dengan galau sepanjang tadi malam. Seriusan, nggak ada ponsel itu tidak enak. Untung saja Kimmy ada laptop, jadi ada kegiatan marathon drama korea.
Kimmy sarapan pagi sendirian, ia telah memakai seragam sekolah dengan atribut yang lengkap. Ia mengunyah rotinya dengan pelan, seraya menunggu supir datang ke rumahnya.
Setelah selesai, Kimmy segera menyampirkan tasnya ke punggung, lalu berjalan keluar rumahnya, supir keluarganya sudah menunggunya di dalam mobil.
Tiba-tiba di tengah perjalanan menuju SMA Twelsone hujan turun cukup deras, Kimmy bersyukur karena ia naik mobil, tidak memaksakan naik angkutan umum, ia tidak akan bisa ke sekolah kalau saat menunggu di halte, hujan mengguyur dan membuat seragamnya basah.
Hawa dingin mulai dirasakan oleh Kimmy, membuat ia berkali-kali menggosokkan kedua tangannya agar terasa hangat, ia memeluk diri sendiri, berharap hawa dingin yang menusuk kulit segera mereda.
"Udah sampai, neng," tegur Mang Yudi.
Kimmy mengangguk samar, "Mang, ada jaket Kimmy nggak di belakang? Atau jaket Kak Rio?" tanyanya.
"Ada Neng, jaket Den Rio, kalau jaket Neng Kimmy mah nggak ada," jawabnya.
Kimmy pun menyembulkan kepalanya ke bagian belakang, tempat ia suka menaruh barang belanjaan, memang benar hanya ada jaket Rio di sana, ah... bodo amat jaket cowok yang penting nggak kedinginan lagi.
Kimmy mengulurkan tangannya mencoba untuk menggapai jaket berwarna hitam dengan nama Durio Em Fordio disepanjang lengan jaket sebelah kiri, setelah itu ia memakainya dengan cepat, lalu segera turun dari mobil.
"Makasih Mang Yudi," ucapnya, Mang Yudi menggangguk lalu segera meninggalkan gerbang sekolah Kimmy.
Kimmy memasangkan tudung jaketnya untuk menghindari kepalanya terkena rintik-rintik hujan, dengan sedikit berlari ia melangkah mendekati Keenath yang sudah ada di koridor.
"Hei," sapanya seraya menepuk pundak Keenath pelan.
Laki-laki itu menoleh, senyum simpul tercetak di bibirnya begitu tahu itu adalah Kimmy. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas mereka berdua.
"Kenapa chat gue nggak dibales?" tanya Keenath, memulai percakapan.
"Hape gue di sita," Kimmy mendengus kasar mengingat 'pujaan hatinya' ada di tangan Galang.
"Hah? Kok bisa?" kedua alis Keenath berkerut heran, ini 'kan bukan saatnya ujian, kenapa ada acara sita-menyita segala.
"Ya, bisalah... eh, udah jangan bilangin ponsel gue mulu, galau gue jadinya," Kimmy mengibaskan tangannya di udara, sambil mengerucutkan bibir sebal.
"Oke," keduanya pun memasuki kelas yang mulai ramai, di meja depan ada sebuah proyektor yang akan di pakai untuk presentasi nanti, oleh karena itu Kimmy membawa laptop karena setiap kelompok yang maju ke depan harus punya bahan presentasi sesuai dengan materi yang sedang dipelajari, Kimmy bahkan membuat bahan presentasi menggunakan aplikasi microsoft powerpoint untuk kelompoknya sampai semalaman suntuk yang berakhir dia nge-drakor tadi malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coldest Guy
Teen FictionPrivate random. [Completed] [Twelsone School Series 1] Jika Galang membenci Kimmy, maka Kimmy sebaliknya. Jika Kimmy tersenyum karena Keenath, maka Galang akan merasa benci. Copyright © 2017 by valendafs Cover by : horxans 05-06-2017 (Start) 25-01-2...
