26. Blood Donors

1.1K 67 40
                                        

Happy reading.

Seorang gadis duduk di koridor tunggu dengan gelisah, tubuhnya bergetar hebat karena rasa panik yang berlebihan, sesekali ia melirik pintu ruang UGD yang di dalamnya terdapat laki-laki yang ia sayangi sedang ditangani oleh dokter.

Gadis itu adalah Kimmy, sedari tadi ia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Galang karena demi apapun Kimmy tidak rela jika sampai terjadi apa-apa dengan laki-laki itu.

Ternyata firasat Kimmy benar, untung saja ia secara diam-diam mengikuti ke mana Durio pergi, jika tidak Kimmy tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Galang.

Rasanya ia ingin meraung-raung begitu melihat tubuh lemah Galang yang terpental di aspal, ia menangis sejadi-jadinya sambil memapah Galang, membawa laki-laki itu masuk ke dalam mobil di bantu oleh supir keluarganya.

Kimmy mendengus untuk yang kesekian kalinya begitu ponsel yang ada dalam genggamannya bergetar. Siapa lagi orang yang sibuk menghubunginya jika bukan Durio sang kakak.

"Kak Galang, maafin Kimmy yang nggak bisa bantu kakak waktu di pukul sama kak Rio," lirih gadis itu sendu, airmatanya sesekali mengalir mengingat kejadian tragis yang Galang alami.

"Pak Dokternya lama banget sih keluarnya, kak Galang nggak bakal kenapa-napa kan?" tanyanya pada diri sendiri.

"Lihat aja kalau sampai kak Galang kenapa-napa Kimmy nggak akan pernah maafin kak Rio," janji gadis itu, ia kembali melirik pintu ruangan UGD dengan gelisah.

Tidak lama berselang dokter yang menangani Galang keluar, Kimmy cepat-cepat berdiri menghampiri sang dokter dengan jantung yang berdegup tidak karuan.

"Pak Do-Dokter, keadaan kak Galang gimana? Dia baik-baik aja kan? Di-dia pasti selamat kan? Nggak bakal ninggalin Kimmy 'kan?" tanya Kimmy beruntun, sang dokter yang tadinya ingin membuka mulut jadi menutup mulutnya lagi, ia tersenyum maklum.

"Maaf, adek ini siapanya pasien, ya?" tanyanya kemudian.

Kimmy langsung tersenyum canggung, "Sa-saya mantannya," jawab Kimmy polos.

Dokter tersebut menahan tawa melihat kepolosan Kimmy, ia yang tadinya tegang menjadi sedikit terhibur dengan kejujuran Kimmy yang ia pikir teramat sangat jujur.

"Oh, kalau boleh saya tau di mana keluarganya karena ada yang ingin saya bicarakan mengenai kondisi pasien," ucap sang dokter, setelah berhasil menetralkan raut wajahnya.

"Pak dokter, Kimmy nggak tau di mana keluarga kak Galang, Kimmy nggak ada nomor telepon mereka buat menghubungi. Pak dokter, bisakah dengan Kimmy aja bicarainnya?" tanyanya pelan sekaligus ragu.

"Baiklah, mari ikut saya," katanya kemudian setelah berpikir beberapa saat.

Kimmy mengikuti langkah si dokter dengan pelan, dalam hati ia terus berdoa agar Galang baik-baik saja.

"Silahkan duduk," ucap si dokter begitu ia dan Kimmy telah sampai di dalam ruang kerjanya.

Kimmy mengangguk mengikuti perintah sang dokter, ia masih terlalu cemas dengan kemungkinan akan kondisi Galang.

Ya allah Kimmy nggak kuat kalo kak Galang sampai kenapa-napa, semoga kak Galang baik-baik aja. Ya allah, Kimmy gemeteran banget ini.

"Jadi…" Dokter tersebut memulai, "Pasien kehilangan banyak darah, kami tim dokter harus sesegera mungkin menemukan donor darah yang cocok, jika tidak nyawa pasien tidak akan tertolong," jelas sang dokter, Kimmy menegang mendengar penuturan tersebut.

"Ja-jadi gimana pak dokter?" tanyanya dengan tubuh semakin gemetar.

"Iya, stok darah pasien sedang habis di bank darah, jadi terpaksa kita harus mencari pendonor secepatnya," katanya lebih detail.

The Coldest GuyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang