Mas Adam sudah berjanji akan mengajak Mbak Pipit dan Deev ke tempat makan ramen miliknya. Usaha keluarga yang sudah turun-temurun hingga tiga generasi. Tempat yang nyaman dan lokasi yang strategis membuat tempat makan ini tak pernah sepi pengunjung. Terlebih di bagian barat ada suatu tempat yang diberi nama 'teenager area'. Tempat itu benar-benar didesain khusus untuk remaja. Kelewat asik untuk sekedar duduk-duduk sambil bercanda ditambah suguhan internet gratis yang tak ayal selalu ramai setiap hari. Biasanya, dua minggu sekali Deev selalu diajak kesini, kadang bersama Mbak Pipit, kadang bersama anak panti yang lain.
"Deev, kamu mau dibuatkan ramen yang mana?" Mas Adam membawa daftar menu lengkap dengan celemek dan topi koki yang melekat di tubuhnya.
"Kaya biasanya aja deh Mas, nggak terlalu pedas, ditambah banyakin ebinya" Deev terkekeh sambil menyerahkan daftar menu ke Mbak Pipit.
"Kamu nggak bosan apa Deev? Dari dulu makannya yang itu itu aja" ujar Mbak Pipit sambil membolak-balik daftar menu.
"Enggak kok Mbak, itu ramen paling enak yang pernah Deev makan."
"Kamu ada-ada aja Deev, ya udah Mas ke dapur dulu ya."
Ini yang istimewa lagi dari Mas Adam, dia selalu turun tangan dalam pembuatan ramen untuk Deev, Mbak Pipit, dan anak-anak panti lain.
"Mbak, dulu kok Mbak Pipit bisa ketemu orang sebaik Mas Adam itu gimana sih, Mbak?"
"Dulu, waktu Mbak pertama kali masuk kampus, nggak sengaja Mbak nabrak Mas Adam di jalan karena Mbak sibuk liatin jam takut telat" jawab Mbak Pipit sambil tersenyum mengingat awal pertemuannya dengan Mas Adam.
"Kaya sinetron banget deh, Mbak!" Deev berseru semangat.
"Ya namanya juga takdir Tuhan Deev, semua kan terjadi karena suatu alasan."
Derap kaki dan suara ramai yang sampai ke gendang telinga Deev membuatnya menoleh ke arah pintu masuk. Tiga laki-laki masuk ke dalam dengan tawa yang tak berhenti.
"Gila lo, Ghan! Masa iya ayam tetangga lo, lo cabutin bulunya!" ujar seseorang dengan tawa yang mengundang perhatian para pengunjung lain.
"Jangan berisik, tempat umum," balas satu orang lagi.
Empat orang laki-laki yang bergurau ramai menarik perhatian Deev. Mereka adalah teman-teman satu sekolahnya. Ada Dirman juga disana yang notabene sekelas dengan Deev. Dan yang tidak terlewatkan dari pandangannya adalah laki-laki dengan balutan polo berwarna putih yang ia temui beberapa jam yang lalu di makam ibunya.
Laki-laki itu sempat menoleh dan beradu pandang dengan Deev. Dengan segera Deev menolehkan kepalanya kembali ke Mbak Pipit.
"Kenapa, Deev?" tanya Mbak Pipit.
"Nggak apa-apa kok Mbak."
Dirman dan Ghani segera berjalan ke kawasan teenager area, sedangkan Shakeel berjalan ke arah timur masuk ke dalam ruangan terbuka dengan batas pintu kaca.
"Mbak, Deev ke toilet dulu ya?" ujar Deev dan langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban dari Mbak Pipit.
Deev melangkahkan kakinya ke arah laki-laki itu berjalan. Rasa penasarannya membuat Deev kadang melampaui batas. Shakeel itu tiba-tiba berhenti berjalan dan menoleh. Sontak, Deev terperanjat.
"Kamu kenapa ngikutin saya?" Shakeel menatap Deev tajam dan mengintimidasi.
"Ma..maaf," jawab Deev sedikit takut karena tatapan tajamnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya."
"Kalau aku bilang aku penasaran sama kamu, apa kamu percaya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Uncountable Memories
Novela JuvenilMenurut kamu, memori itu sebuah hal yang bisa terhitung atau tidak? Shakeel terbiasa hidup dengan memori yang penuh luka. Jika didefinisikan dengan warna, hidupnya yang semula indah seperti ketika warna pelangi disatukan, tiba-tiba menjadi hitam sec...
