Penguntit

171 17 0
                                        

Deev berangkat dengan Raga seperti janjinya kemarin. Seperti serial drama korea kesukaan Aline, entah kenapa semesta memaksa mereka berpapasan dengan Nami di koridor. Gadis itu berjalan pelan dan menatap Raga dengan raut penyesalan.

"Apa liat-liat? Mau ngajak balikan?" cetus Raga sarkas. Deev mencubit lengan sahabatnya gemas.

"Jangan gitu, Ga. Kasihan dia, ih," ucap Deev lirih.

"Emang dia punya perasaan pake harus dikasihani?" Raga membalas perkataan Deev dengan suara keras yang disengaja.

Boom. Nami berlari dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya. Deev hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya pagi ini.

"Baru pagi, udah ngajak ribut mantan."

"Duh, kayanya nggak ikhlas deh kalo gue sebut dia mantan, anggap aja gue khilaf ya."

"Udah ah, temenin gue cari sarapan di kantin dulu, yuk!"

"Beliin gue es jeruk ya?"

"Iya deh, biar adem itu hati yang udah kebakar," balas Deev sambil tertawa.

"Sialan."

Semangkuk bubur ayam dan segelas es jeruk sudah terhidang di hadapan mereka. Deev menyantap bubur ayam Mang Sardi, favoritnya untuk pilihan sarapan di sekolah. Kantin sepi, hanya ada beberapa siswa yang duduk menghabiskan sarapan seperti Deev.

"Selama gue nggak ada kemarin, lo pulang dianter siapa?" Raga menggigit ujung sedotan es jeruk gratis kepunyaannya.

"Lebih sering sih, ngangkot," jawab Deev santai.

"Hm, jangan kira gue nggak pernah perhatiin lo, ya."

"Perhatiin apa sih? Aneh deh lo."

Raga tersenyum mengejek, telunjuk tangan kanannya ia tempelkan di dahi Deev, mendorongnya pelan, "Jadi, sahabat gue ini, si cerewet paling nyebelin, udah berani pulang bareng Shakeel nih?"

Pipi Deev tersipu dan menggembung. Rona merahnya tak mau bersembunyi, padahal sudah dipaksa oleh si empunya.

"Apaan coba." Deev mengalihkan wajahnya menengok ke lain arah. Matanya menangkap laki-laki yang berdiri di depan pintu kantin. Tatapan mereka bertemu pada garis yang sama, membuat Deev tersenyum tipis bermaksud menyapa.

"Bunga-bunga bermekaraaan," celetuk Raga bodoh ketika melihat Deev terlibat kontak mata dengan Shakeel di ujung sana. Alhasil, satu jitakan kembali ia terima.

"Suka banget sih menganiaya cowok ganteng," Raga mengerucutkan bibir berpura-pura marah. Sayangnya, Deev tetap tidak meghiraukannya. Matanya sibuk mencari ke mana Shakeel saat ini. Nihil, dia sepertinya sudah pergi.

"Gara-gara elo kan!" ujar Deev sewot.

"Yee..apaan coba? Orang gue dari tadi sibuk pacaran sama es jeruk."

Bibir Deev mengerucut, menatap Ragas sebal. Padahal Raga memang bukan sosok yang harus disalahkan di sini. Ya ampun Deev, kamu kenapa sih?!

***

Koridor masih sepi, hanya ada satu dua siswa yang berjalan menuju kelasnya. Maklum, masih terhitung sangat pagi untuk berangkat ke sekolah. Namun, mata Shakeel terkunci pada dua orang siswa yang bercakap tak jauh dari hadapannya.

Raga bersandar di pilar yang sepertinya sedang adu mulut dengan gadis yang rambutnya diikat kucir kuda di hadapannya. Tak lama setelah itu, mereka pergi berjalan ke arah yang sama, lalu berbelok menuju letak kantin berada. Entah mantra apa yang membuat Shakeel mengikuti Raga dan Deev seperti pengintai. Ini sama sekali bukan Shakeel. Namun, kakinya dengan enteng berjalan begitu saja. Beberapa langkah menuju pintu masuk kantin, seseorang memanggilnya. Shakeel menengok dan mendapati Arman―teman sekelasnya―ada di sana.

"Kenapa, Man?"

"Anu..tadi gue pas berangkat ketemu Bu Dian, katanya nanti sepulang sekolah lo disuruh ke kantor guru.

"Oh, oke, makasih." Arman mengangguk lalu pergi menuju arah kelas mereka.

Ya ampun! Ini sama sekali bukan Shakeel Keano Adhitama. Laki-laki dengan image pendiam dan dingin hari ini menjadi penguntit dan berdiri di depan pintu masuk kantin seperti orang bodoh. Gue keracunan apa sih? Apa karena diracunin lagu dangdutnya Dirman setiap hari, gue jadi goblok gini, ya?

Garis matanya bertemu dengan Deev. Bibir perempuan itu menarik senyum tipis yang dapat Shakeel lihat karena ia duduk tidak jauh dari pintu masuk. Ya ampun sejak kapan gue disenyumin aja jadi dag dig dug gini? Elah, gue beneran udah goblok. Laki-laki itu kemudian bergegas kabur dari sana seperti maling yang ketahuan pemilik rumahnya. Detik itu, hilang sudah image dingin dan pendiam Shakeel bagi dirinya sendiri. Sepanjang jalan menuju kelas, dalam hati Shakeel tidak berhenti merutuki dirinya sendiri.

Shakeel duduk di bangkunya. Satu per satu siswa mulai berdatangan. Ribut menyalin PR yang sengaja tidak dikerjakan di rumah. Sam belum juga datang, padahal Shakeel sudah memintanya untuk berangkat lebih pagi. Tapi ya nggak masuk akal sih kalau bad boy sekolah jam setengah tujuh sudah sampai di kelas. Paling Sam masih merem di kasur dengan celana boxer bergambar hello kitty yang sudah Shakeel hafal betul. Kalau diceritakan lebih dalam lagi, kasihan Sam, bisa hilang citra bad boy most wanted miliknya.

Baru saja ditunggu-tunggu, pesan dari Sam masuk ke ponselnya yang membuat Shakeel melebarkan mata.

Samudera Rezvano : Milan kecelakaan, pulang sekolah buru ke sini sama Ghani dan Dirman, gue bolos, bilang aja sakit.

Shakeel Keano : Di mana?

Samudera Rezvano : Rumah sakit Permata Hati.

Uncountable MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang