Awal Dari Semuanya

1K 61 8
                                        

~ Gue bakal nurutin semua kemauan lo. Asal lo enggak ngambek lagi ~

-Mujahid Raga Angkasa

----

Pagi ini ada yang berbeda dari pagi yang lain. Itu karena tidak biasanya Dinda tersenyum lebar. Mujahid pun kebingungan karena perilaku dari Dinda.

Mujahid sudah terbiasa dengan sikap Dinda yang mulai mau berbicara. Tapi untuk kebiasaan baru Dinda yang ini Mujahid belum terbiasa.

"Selamat pagi semua," Dinda menyapa semua orang yang ada di meja makan. Lebih tepatnya Farah dan Mujahid.

Mujahid dan Farah melongo melihat Dinda yang menyapa dengan begitu bersemangat.

"Pagi," Mujahid dan Farah menjawab nya dengan singkat. Jujur Mujahid dan Farah sama-sama terkejut karena kelakuan Dinda.

"Mama sama Mujahid kenapa?" Dinda kebingungan saat melihat wajah Dari Farah dan Mujahid.

"Tan, Mujahid lagi enggak mimpi kan?" Mujahid menatap Farah yang sama-sama terkejut seperti dirinya.

Mujahid mencubit lengan nya dan merasakan sakit pada lengannya.

Dinda yang jengkel karena sikap Farah dan Mujahid mengulang pertanyaannya "Mama, kenapa sih?"

Farah dan Mujahid pun tersadar, lalu Mujahid berkata "Enggak pa-pa kok."

Dinda yang kebingungan hanya menutup mulut, karena dua orang yang sangat dekat dengan hidupnya. Itu pasti akan bertingkah bodoh lagi. Dan berujung membuat Dinda Tambah jengkel nanti.

"Mah, cepetan dong udah terlambat nih!" Dinda kesal saat melihat Farah masih memakan sarapan.

Farah melihat Jam tangan nya lalu menepuk jidatnya begitu pula Mujahid yang kelihatan panik.

"Ayo, cepatan kalian berdua bisa terlambat nanti," Farah Segera mengambil kunci mobil lalu keluar. Begitu pula dengan Mujahid dan Dinda segera memakan sarapan mereka.

Mereka berdua hampir terlambat tadi, untung gerbang sekolah belum tertutup kalau tidak mereka bisa saja dihukum. Mereka berdua langsung duduk di bangku masing-masing saat sudah sampai di sekolah.

"Untung aja enggak telat, kalau sampai gue telat gara-gara lo gue bakal cincang badan lo," Ancam Dinda dengan suara yang kecil. Walaupun sebenarnya ancamannya itu tidak ada gunanya.

"Ancaman lo basi," Mujahid mencibir Dinda.

"Bisa enggak kalau gue ngancem jangan lawan kata-kata gue," Dinda yang kesal segera mengambil buku untuk menenangkan pikirannya.

~:::~:::~

Dinda berada di kantin dengan muka yang masam karena masih kesal dengan kelakuan Mujahid.

"Din, lo kenapa?" Suara itu menginstrupsi pendengaran Dinda. Pemilik suara itu adalah Erlangga.

"Gue enggak pa-pa" Jawab Dinda dengan nada bicara yang ketus.

"Kalau enggak pa-pa, kenapa muka lo masam gitu?" Tanya Erlangga lagi.

"Lo bisa enggak sih diem," Dinda bertambah kesal. Dia sudah begitu kesal karena Mujahid sekarang dia bertambah kesal karena Erlangga.

"Hai Dinda," Ratu menyapa Dinda dengan di temani dengan Dila, Aya, dan Alika.

Dinda tidak menjawab sapaan itu karena dia sudah mencapai puncak kekesalan karena dua orang yang begitu menyebalkan untuk nya.

Ratu yang merasa aneh langsung menaruh telapak tangannya di dahi Dinda.

"Enggak panas kok," Ratu masih menempelkan tangannya.

Our Story [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang