Es Yang Mencair

845 61 2
                                        

~ Hati yang dingin dan beku bisa di cairkan dengan kehangatan dari orang-orang terdekat mereka ~

-Huriah Fadilah Aliani (Author's)

---

'Drt-drt'
Erlangga langsung menerima telepon yang tertera nama 'Dinda'.

"Halo, kenapa lo telepon Dinda Tumben banget?"
Rheza Aditya Erlangga

"Lo, bisa enggak ke taman sekarang?"
Dinda

"Bisa, emang nya kenapa?"
Rheza Aditya Erlangga

"Ntar gue jelasin, sekarang lo datang aja dulu,"
Dinda

"Ok, gue segera ke taman sekarang"
Rheza Aditya Erlangga


Erlangga pun langsung memutuskan telepon dari Dinda.

Setelah mengganti pakaian nya, Erlangga langsung turun ke bawah.

"Kakak mau kemana?" Aya sedang memakan keripik singkong.

"Mau keluar," Erlangga pun langsung mengambil kunci motornya, lalu segera keluar dari rumah.

~:::~:::~


Malam ini adalah malam yang sangat dingin, tapi cukup ramai seperti yang terjadi di Taman kota.

Seorang gadis duduk di salah satu bangku taman. Gadis itu tak lain adalah Dinda.

Sudah beberapa menit berlalu setelah percakapan nya dengan Erlangga. Dinda mengoyang-goyang kan kakinya. Sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Banyak sekali pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara. Tapi Dinda tidak mempedulikannya.

Ada yang menepuk pundak Dinda dari belakang, Dinda pun langsung melihat ke arah belakang dan mendapati Erlangga yang sedang berdiri.

"Kenapa lo manggil gue ke sini?" Erlangga duduk di samping Dinda.

"Gue mau tau soal Aditya," Dinda langsung berterus terang karena dia bukan orang yang suka berbasa-basi.

"Mau tau apa lo soal dia?"

"Gue mau tau, kenapa setiap nama Aqil di sebut di depan Aditya ada rasa tidak suka di matanya?" Sorot mata Dinda sangat penuh rasa penasaran.

"Kenapa lo mau tau banget soal itu?" Erlangga menaikkan satu alisnya.

"Jawab aja pertanyaan gue!" Ucap Dinda nyaris membentak.

Erlangga yang merasa tidak bisa lagi menghindar pun menjelaskan semuanya.

"Jadi gini, dulu, Gue, Aditya, Aqil itu sahabat deket dan rasanya seperti saudara. Tapi, persahabatan Gue dan mereka berdua pun hancur gara-gara Aqil yang cemburu liat kepopuleran Aditya," Erlangga menarik nafas panjang.

"Aditya berusaha memperbaiki persahabatan kita bertiga, tapi akhirnya hasil nya nihil. Dan semuanya hanya berujung perselisihan dan semua pun hancur enggak ada yang kesisa lagi," Jelas Erlangga berpanjang lebar.

Dinda berusaha mencerna semua perkataan Erlangga, dan sekarang dia mengerti semua permasalahan.

"Tapi ada satu yang enggak gue pahami di sini," Erlangga berbalik melihat ke arah Dinda dan menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Dinda.

"Kenapa Aqil cemburu sama hal sepele? Padahal kan itu cuma kepopuleran," Pertanyaan Dinda pun akhirnya keluar dan berhasil membuat Erlangga terdiam.

Our Story [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang