~ Lo harus bisa maafin dia, karena semua ini cuma salah paham saja. Dan semua kesalahan ini bukan seluruhnya kesalahan dia ~
-Mujahid Raga Angkasa
---
Malam ini sangatlah dingin, langit ditaburi bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam. Dinda dan Mujahid sedang berada di luar rumah. Lebih tepatnya mereka berdua sedang berada di taman.
"Din, coba deh lo lihat anak itu," Mujahid menunjuk ke arah seorang gadis kecil sedang bermain dengan seorang bocah. Mereka berdua tampak begitu senang bermain bersama.
Dinda tersenyum saat melihat semua itu. Hatinya begitu damai saat melihat kedua anak itu bermain bersama.
"Eh, iya. Lo udah baikan belum sama si Nenek Lampir?" Mujahid bertanya pada Dinda tentang Ratu.
"Soal itu sih... Gue sama dia belum baikan," jawab Dinda sambil menatap sendu ke arah bawah. Dia masih sedikit sakit hati jika mendengar nama Ratu.
"Belum baikan atau lo yang belum maafin," Mujahid melipat tangannya di dada.
"Hehehe..." Dinda hanya menggaruk kepalanya yang terasa sedikit gatal.
"Tatap dan dengerin gue baik-baik Din," Dinda mendongakkan kepalanya untuk melihat Mujahid.
"Din, coba lo tempatin diri lo di tempatnya Ratu. Lo pasti bakal bingung gimana caranya ngejelasin sebuah fakta yang menyakitkan. Lo pasti mati-matian pikirin cara buat orang yang lo jelasin enggak sakit hati. Dan Ratu ada pada posisi itu Din, jadi gue mohon lo bisa ngerti," Mujahid berpanjang lebar. Dan Dinda hanya diam mendengarkan semua yang keluar dari mulut Mujahid.
Dalam hati Dinda membenarkan semua kata-kata Mujahid tapi entah mengapa logikanya malah berpikir sebaliknya. Logikanya berkata kalau salah akan selamanya salah. Dinda menatap ke depan. Dia menatap lurus tapi tatapannya kosong.
"Din, pikir kata-kata gue dengan hati lo. Jangan pakai logika karena gue tau kalau pikiran lo menolak semua kata-kata gue," Mujahid tau kalau Dinda sekarang dalam tekanan.
"Lo harus bisa belajar maafin dia. Maafin semua salahnya," Mujahid memegang pundak Dinda.
"Gue pergi beli dulu ya," Mujahid berdiri dari tempatnya.
Dinda mendongakkan kepalanya, "Lo mau beli apa?"
"Gue mau beli Es Krim," Dinda memasang sebuah senyuman yang bisa menaklukan semua orang.
"Beliin ya Hid," tatapan Dinda begitu memelas.
"Iya gue beliin kok," Mujahid hanya bisa mengiyakan permintaan Dinda. Dia segera pergi ke penjual Es Krim yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Tak butuh waktu lama Mujahid kembali dengan Dua buah Es Krim. Dia membeli Rasa Coklat dan Vanila.
"Lo mau yang mana?" Mujahid memperlihatkan kedua Es Krim itu pada Dinda.
Dinda berpikir sejenak, "Gue mau yang Coklat," Dinda menunjuk ke arah Es Krim Coklat.
Mujahid mendengus pelan, "Masih aja kayak dulu. Enggak pernah berubah," ucap Mujahid dengan suara kecil.
Dengan cekatan Dinda mengambil Es Krim dari tangan Mujahid. Membuka kemasannya lalu memakannya.
"Din, gue boleh tau sesuatu enggak," Dinda menoleh ke arah Mujahid.
"Boleh," ucap Dinda dengan singkat. Lalu kembali memakan Es Krim nya.
"Lo lagi naksir sama seseorang enggak?" Mujahid menatap Dinda dengan serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Story [TAMAT]
Teen FictionCover by : @Gina Pascabela Judul Lama : Mysterious Girl Dinda Savira Lestari anak berprestasi di sekolah, tapi sayangnya dia agak tertutup dan membuat dia agak susah untuk bersosialisasi. Hingga suatu hari tanpa sengaja dia membantu seseorang dan m...
![Our Story [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/120723022-64-k983658.jpg)