Masalah Keluarga

718 29 0
                                        

~ Gue mau bebas dari masalah ini. Gue mau hidup gue yang tenang kembali. Dan gue mau saat gue membuka mata lagi, yang terjadi hanya mimpi mengerikan ~

-Dinda Savira Lestari


---

"Mas buat apa lagi ke sini?!" suara itu memasuki telinga Dinda. Suara itu sangat jelas terdengar. Itu suara Mamanya

"Aku mau ketemu putriku. Jadi izinkan aku untuk bertemu dengannya," suara laki-laki terdengar dan sangat terdengar sangat lemah.

"Aku tidak akan izinkan Dinda bertemu denganmu, cukup dia sudah terluka di masa lampau!" suara Farah semakin besar. Dinda yang sudah penasaran akhirnya turun ke bawah.

"Mama siapa yang datang sih?" ucap Dinda saat masih berada di tangga. Wajah Dinda langsung memucat saat melihat orang yang datang, dia adalah Frans.

"Dia sedang apa di sini Mah?" tanya Dinda dengan wajah dingin, tanpa memanggil Frans dengan sebutan Ayah.

"Entahlah Dinda. Mungkin dia ingin menganggu kehidupan kita lagi," jawab Farah.

"Dinda tolong maafin Ayah. Ayah janji bakal perbaiki semuanya," Frans memohon kepada Dinda dengan penuh harap.

"Cih... Maaf, gimana caranya Dinda mau maafin. Dinda udah enggak bisa maafin Ayah lagi. Dinda sakit Yah, pas diolok sama teman Dinda pas kecil. Dinda diolok udah enggak punya Ayah," ucap Dinda dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

"Oke, Dinda bakal maafin," Dinda mendekati Frans.

"Tapi, kembaliin semua masa kecil Dinda yang udah direbut. Dinda mau rayain ulang tahun Dinda Tiga tahun belakangan ini sama Ayah," ucap Dinda.

"Enggak bisakan. Ayah enggak bisa lakuin permintaan Dinda," Dinda meremas bajunya.

"Puas, puas udah hancurin semuanya!" ucap Farah sangat marah dengan Frans.

"Lebih baik kamu pergi sekarang Mas," Farah menunjuk ke arah pintu luar.

"Aku enggak bakal pergi sebelum kamu dan Dinda maafin aku," Frans tetap teguh pada pendiriannya.

"Ayah lebih baik pergi," ucap Dinda dengan suara rendah.

"Tapi," Frans menolak untuk pergi dari sana.

"Pergi Yah!" hardik Dinda. Bajunya naik turun menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Baiklah Ayah akan pergi. Tapi, ingat Ayah masih belum menyerah," Frans membalikkan badannya lalu melangkahkan kaki keluar dari rumah.

Dinda menghempaskan diri ke sofa. Dinda menutup wajahnya dengan telapak tanganya. Isakan kecil keluar dari mulut Dinda.

"Hiks-hiks. Salah Dinda apa Mah?" Dinda berusaha menahan isakan untuk keluar dari mulutnya.

"Apa Ayah enggak capek apa gangguin hidup kita berdua?" Dinda terus bertanya pada Farah.

"Apa yang kemarin belum cukup untuk udah buat Dinda nangis?" Dinda keceplosan bahwa dia habis bertemu dengan Frans.

"Jadi kemarin kamu udah ketemu sama Ayah?" Farah bertanya pada Dinda.

Dinda bingung harus mencari jawaban apa. Dinda terdiam cukup lama. Membuat Farah semakin bingung.

Our Story [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang