23. Another Side

1.5K 223 17
                                        

Cerita ini dilanjut ya, heran giliran mau di revisi banyak yang vote. Yasudah selamat membaca.

***
Terkadang ada satu titik dimana seseorang dapat menemukan orang yang ‘pas’ untuk mengisi ruang di hatinya dan itu terjadi pada Chandra.

Laki-laki itu duduk di salah satu kursi taman sambil menghisap sebatang candunya, melihat Cathaya yang sedang sibuk kesana kemari mengejar anak-anak kecil.

Wajah gadis itu terlihat bahagia meskipun ada peluh yang mengalir dari dahinya. Kalau bukan karena Cathaya demi apapun ia berpikir puluhan kali untuk datang ke tempat ini.

“Ndra temenin gue nyari TK dong gue lagi sedih nih butuh hiburan” ujarnya sambil memohon.

“Taman kanak-kanak maksud lo?” Chandra sempat heran kenapa pula Cathaya harus pergi kesana demi menghibur dirinya.
Cathaya mengangguk lengkap dengan wajah sedih yang Chandra hapal itu dibuat-buat dan sekarang disinilah mereka, di taman kanak-kanak yang membuat Chandra menghela napas sabar.

“aya...aya lo tuh aneh pangkat tak hingga ya, orang butuh hiburan ke club lah ini ke taman kanak-kanak”

Kalau saja Chandra tidak melihat Cathaya dengan cara yang berbeda ia berani jamin kalau dirinya tidak akan jatuh hati dengan gadis ini tapi pasalnya

Cathaya itu diluar ekspektasinya.

Gadis itu tetap tegar setelah menerima kabar tanggal pernikahan mamanya.
Selalu menyempatkan liburan semester untuk pulang ke London demi menjenguk Papanya seorang diri.
Dan masih bisa bersikap baik terhadap orang yang menyakitinya, ya Cathaya sudah menceritakan soal mantan pacarnya itu.

Chandra membuang puntung rokoknya sembarang ketika Cathaya berjalan menghampirinya lalu gadis itu duduk di sampingnya seraya mengelap peluh di dahi dengan punggung tangannya.

“gimana? Udah seneng belum?” tanya Chandra dan Cathaya tersenyum samar.

“seneng banget” jawabnya antusias seraya memandangi anak-anak yang mulai masuk ke dalam kelas.

Tangan Chandra tergerak untuk mengusap pucak kepalanya “Aya,”  Chandra ragu tapi ia harus menanyakan hal ini.
“gak kangen sama nyokap lo?” Cathaya menoleh menatap Chandra sebentar lalu mengalihkan pandangannya lagi.
Chandra tahu apa yang sudah terjadi diantara Cathaya dan Mamanya entah kenapa nalurinya tergerak untuk menanyakan hal ini.

“lo tau gak? Waktu SMA dulu gue pernah berantem sama Mama gue terus gue kabur dari rumah dan besoknya Mama sakit”

Cathaya diam, pandangan nya kosong.

“setelah tiga hari akhirnya gue pulang, gue terlalu mementingkan ego gue sampe lupa kalau tanpa Mama, gue gak akan ada di dunia ini, tanpa dirinya gue gak mungkin bisa main segala macam instrumen, tanpa dirinya gue gak bisa melakukan apa-apa”
Chandra diam mengambil jeda.

“ketika lo tumbuh dewasa lo merasa bisa melakukan apapun sendiri tapi pada hakikatnya lo bisa begitu karena nyokap lo”

“gue sudah biasa di tinggal-tinggal mama dari kecil Ndra, jangan kaget kalau gue mandiri” sela Cathaya, nada bicaranya terkesan dingin.

Pekerjaan Mama Cathaya sebagai dokter tanpa batas mengharuskannya bertugas di pedalaman selama beberapa bulan, Chandra tahu itu.

“gue gak pernah protes ketika mama gue kembali mengejar passion-nya daripada mengurus gue. Gue hari-hari hidup sama asisten rumah tangga dengan perasaan khawatir apakah mama gue baik-baik saja? Atau tidak?”

TrilemmaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang