Coming Alive
There was a big rain cloud hanging over me
You came along like a lightning bolt from heaven
Then you stole my heart and you set me free
You can't hide the feeling
Yeah you make it right
I'm coming alive
From the morning sun to the midnight hour
From the break of day to the dark of night
You're in my head and my heart and it feels much better
Yeah it feels so good and it feels so right
You can't hide the feeling
Through the days and the nights
Then I might be dreaming
We've got time on our side
Sore itu Jakarta diguyur hujan membuat beberapa orang terpaksa harus menunda kepulangan nya menuju rumah masing-masing. Cathaya berdiri di Lobi Fisip bersama beberapa orang yang mungkin bernasib sama dengan nya.
Wajah antusiasnya tergantikan oleh wajah murung, Cathaya gak suka hujan, bukan karena sehabis hujan jalanan jadi becek tetapi saat hujan hatinya selalu resah.
Cathaya menghela napas seraya memandangi sepatu converse yang warnanya mulai kusam akibat terlalu sering ia gunakan saat pergi ke kampus atau belanja ke supermarket.
Ia lantas bersandar pada salah satu pilar, kedua tangan nya ia lipat di depan dada, dan sesekali ia mengusap-usap kedua lengan nya.
Kalau saja ia mendengarkan perkataan Valerie untuk selalu menyimpan payung lipat di dalam tas pasti saat ini ia sudah bisa jalan ke halte busway dan tidak perlu membuang waktu menunggu di Lobi.
Jika sudah begini Cathaya memilih untuk memasang earphone pada kedua telinganya lalu jari telunjuknya menyentuh simbol radio, akhir-akhir ini ia suka sekali mendengarkan radio karena Cathaya belum sempat memperbaharui playlistnya maklum tugas kuliah yang membuatnya demikian.
Suara penyiar radio mulai mengisi ruang di telinga Cathaya menggantikan suara gemuruh hujan dan suara orang-orang yang sedang bercengkrama.
Sementara itu matanya mulai memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, kebanyakan dari mereka memasang wajah masam, sesekali mata Cathaya menerawang langit yang mendung bertanya-tanya kapan hujan akan berhenti.
"sepayung sama gue yok daripada menua disini lo"
"eh gue duluan ya"
"hei, akhirnya kamu jemput juga"
Meskipun kedua telinganya tertutup oleh earphone samar-samar Cathaya masih bisa mendengar suara di sekelilingnya. Satu per satu orang mulai meninggalkan lobi Fisip membuat hati Cathaya semakin resah.
Pikiran nya kembali memutar kejadian saat ia kelas 10, kala itu Cathaya terjebak di halte sekolah selama beberapa jam bersama dengan orang-orang dewasa yang tidak ia kenal sama sekali. Saat itu Mamanya tidak bisa menjemput Cathaya karena hujan turun begitu lebat sehingga menyebabkan banjir dan pepohonan di bahu jalan tumbang juga menyebabkan akses penting dari rumahnya ke sekolah tidak bisa dilewati oleh mobil.
Untungnya saat itu ia tidak apa-apa, hanya saja ia masih trauma sampai saat ini.
Cathaya gak mungkin berlari menerobos hujan bisa-bisa esok hari ia malah demam tinggi dan kemungkinan terburuknya ia tidak bisa mengikuti UAS.
Ia menunduk lagi memperhatikan kakinya yang ia ketukan ke lantai secara perlahan hatinya mulai resah karena di Lobi hanya tinggal dia dan dua orang laki-laki yang sepertinya senior dari Jurusan lain.
Tiba-tiba ada bayangan orang yang sedang berjalan mendekat ke arahnya, perlahan-lahan Cathaya menaikan kepalanya lalu ia tercengang ketika matanya mendapati si pemiliki bayangan berjalan semakin dekat ke arahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Trilemma
Ficção GeralTrilemma (noun) : Logic. a form of argument in which three choices are presented, each of which is indicated to have consequences that may be unfavorable. Judul sebelumnya: Moonlight.