2. a Brand New Day

13.2K 772 54
                                    


Seorang gadis dengan mengenakan atasan kemeja putih polos dan bawahan rok hitam selutut sedang berjalan menyusuri koridor yang bahkan ia tak tau kalau ia berada di koridor gedung apa.

Seharusnya ia tak kesiangan hari ini maka ia akan bisa berangkat bersama teman-nya namun entah kenapa dihari pertama ospek teman-nya berubah jadi tega meninggalkan dia yang masih tertidur lelap.

Kalau ia mempunyai banyak kata tidak berfaedah maka ia akan dengan senang hati memberikan itu semua kepada teman-nya tapi ya tetap saja teman-nya itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena teman-nya sudah bersusah payah membangunkannya, lagipula siapa suruh ia tidur jam 3 pagi hanya demi menonton tumpukan dvd yang jelas-jelas sekarang membawanya kedalam masalah.

Dia berdecak, kesal ketika melihat angka di jam tangan-nya. dia tau pasti kalau sekarang dia benar-benar berada dalam masalah.

Dia terlambat di hari pertama ospek.

"satu, satu, dua test Big Boss disini. Gimana? Maba udah masuk semua ke Gimnasium?" seorang laki-laki dengan mengenakan jaket almamater terlihat sedang berjalan ke-arah-nya sambil sesekali berbicara dengan seseorang melalui walkie-talkie

Suasana koridor ini benar-benar sunyi lantas membuat suara berat lelaki itu terdengar jelas membuat aliran darah-nya mengalir lebih cepat. Pasti, laki-laki itu akan bertanya gak mungkin enggak.

Dan benar saja dari kejauhan mata-nya sudah menyipit melihat seorang gadis berdiri mematung.

Semakin dekat, tatapan mata-nya kini tidak sesipit tadi.

Dan sekarang laki-laki itu membuat dia terlihat seperti kurcaci, tubuh tinggi lelaki itu membuat dia harus menengok ke atas karena tinggi dia hanya sebatas leher laki-laki itu saja.

"Kamu Maba? Terlambat di hari pertama ospek? Kenapa bisa ada di gedung Fakultas Pertambangan dan Perminyakan? Nyasar?" sebagai senior yang sedang monitoring, laki-laki itu langsung menghujani-nya dengan pertanyaan yang jelas-jelas dia tau jawaban-nya.

"i-iya" ujar Gadis itu gelagapan. Gimana enggak? Senior yang ada di hadapan-nya ini air wajah-nya udah hampir murka.

"test Big Boss, Big Boss" tiba-tiba walkie-talkie nya bunyi.

"Big Boss disini over," ujar-nya sambil berkaca pinggang.

Gemes banget rasanya masih ada aja Maba yang nyasar, Pikirnya.

Lalu mata-nya memincing, melirik papan nama Maba yang saat ini berada di hadapannya dengan raut wajah pasrah.

"Big Boss, lo dimana?"

"gue lagi di Gedung FT, ada Maba nyasar. gue ke Gimnasium dulu ya, Bawa nih bocah"

"oke" percakapan melalui walkie-talkie berakhir, kini ia kembali berhadapan dengan gadis itu.

Ia menatap-nya sesaat, melihat gadis dihadapannya ini udah lemes, sedih, gimana gitu buat dia jadi Iba tapi tetep aja gemes.

"kenapa bisa telat 'sih? Yaudah ayo ikutin saya" ujar-nya kesal, lalu berjalan satu meter di depan gadis itu.

Sementara gadis yang berjalan mengekori-nya ini hanya bisa menatap punggung-nya kesal. Iya, gadis itu tau kalau dia baru saja membuat kesalahan dan memang wajar kalau dihukum atau di perlakukan seperti beberapa menit lalu. Tapi entah kenapa, gaya-nya tuh senga? Kayak,

sok banget ganteng 'sih lo?

setelah kurang lebih lima menit berjalan, akhirnya mereka tiba di ambang pintu masuk Gimnasium, disana udah terlihat banyak orang duduk lesehan.

TrilemmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang