29. Sad and Happy

1.3K 212 12
                                    

“Akhirnya salaman juga sama bapak rektor kamu dek” Alsy menyambut kedatangan Chandra yang baru saja keluar dari gedung.

Akhirnya setelah empat tahun merasakan jungkir balik di dunia perkuliahan, Chandra wisuda juga yang menurut Alsy adalah keajaiban dunia nomor delapan. Lupakan sejenak bagaimana tidak pedulinya Chandra soal kuliahnya pada semester awal.

“Alhamdulillah anak mama bisa wisuda juga” Mama Chandra mengusap bahu anak nya sayang lalu memeluk nya erat dan Chandra masih setia dengan cengiran yang menampakan gigi putih rapih nya.

“Selamat ya” kali ini giliran Papa Chandra menyalami anak bungsu nya. Ucapan nya singkat namun sangat berarti untuk Chandra.

“Makasih Pa” Chandra tersenyum bahagia.

Keluarga Winata mengenakan seragam batik warna merah marun untuk menghadiri acara wisuda anak bungsu nya meskipun Papa nya pernah punya niatan untuk menenggelamkan nya di rawa-rawa karena gak mau kuliah di Jakarta tapi pada akhir nya ia tersenyum bangga melihat Chandra bisa mengenakan toga.

Indeks Prestasi nya memang tidak bisa dibandingkan dengan Mahasiswa yang meraih predikat cum laude tapi dia juga gak bodoh-bodoh banget intinya IPK nya cukup baik untuk di lampirkan di CV.

“Ayo ayo foto dulu” Alsy terlihat paling sibuk diantara anggota keluarga lain nya sementara Chandra yang wisuda hanya diam saja sesekali ia tersenyum mungkin sangking bahagia nya bisa wisuda.

Setelah meminta tolong kepada seseorang, keluarga Winata berpose di depan gedung rektor. Chandra dengan tinggi 183cm nya berdiri di tengah-tengah lalu diapit oleh Mama, Papa, dan Alsy.

“dek kamu kok diem aja sih?”

“speechless kak, sangking bahagia nya bisa wisuda” ujar Chandra lalu menatap anggota keluarga nya secara bergantian.

“itu baju nya di lepas dulu, kamu kayak kegerahan” Mama Chandra prihatin melihat keringat yang bercucuran dari dahi anak nya.

“bentar ma ini tuh kebanggaan gak apa-apa gak tiap hari ini. Chandra belum ketemu temen-temen nih”

“belum ketemu Cathaya juga ma, mau pamer itu anak mama” celetuk Alsy ngasal, Chandra langsung melirik nya tajam sedangkan Mama dan Papa nya hanya senyum sambil menggelengkan kepala.

Setelah bertemu dengan keluarga nya Chandra menghampiri teman-teman nya termasuk Bian yang juga wisuda pada hari ini, masuk bareng keluar juga bareng.

jangan tanya berapa banyak bunga dan cokelat yang Chandra terima, sangking banyak nya ia harus meminta tolong kepada salah satu junior untuk membawakan nya ke dalam mobil.

“Hai selamat ya”

Suara itu mengalihkan perhatian Chandra dari teman-teman nya. Ia menoleh dan kedua matanya mendapati seorang wanita mengenakan baju kebaya berwarna peach dan toga di kepala nya.

“Thanks. Selamat buat lo juga Flo” Chandra tersenyum simpul lalu menyambut uluran tangan Flo.

“Foto lah kapan lagi” Bian menghampiri Flo dan Chandra yang baru saja melepaskan jabatan tangan nya.

Lalu mereka bertiga berfoto bersama menggunakan kamera dslr yang kebetulan dibawa oleh Bian. Bian ini memang penuh persiapan orang nya.

“Sama Chandra berdua boleh?” Ujar Flo pada Bian lalu dengan senang hati Bian menyingkir membiarkan Flo dan Chandra berfoto bersama meskipun Bian mendapatkan tatapan tajam dari Chandra.

Flo melingkarkan tangan nya pada pinggang Chandra sementara Chandra yang canggung mau tidak mau merangkul bahu Flo.

“Thanks ndra udah mau foto sama aku” gumam Flo dan Chandra enggan menjawab.

TrilemmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang