Terakhir Kali

2.1K 73 24
                                        

*SHK's POV*

Aku terbangun lebih cepat pagi ini meski tidur sudah terlalu larut tadi malam. Sambil berbalik dan berguling, pikiran-pikiran terus membingungkan benakku, hingga sulit bagiku untuk tidur. Tidak bisa dipungkiri aku merasa cemas hari ini. Hari ini aku akan bertemu Joong Ki setelah sekian lama tidak melihatnya.

Apa aku membuat keputusan yang tepat? Haruskah aku mengatakan tidak? Tapi, ditambah lagi aku benar-benar tidak punya pilihan, iya kan? Aku tidak boleh mengatakan tidak. Itulah kesepakatannya.

"Mari kita melakukan perjalanan," katanya dan aku terkejut.

"Apa?" Tanyaku, kaget. Apakah dia mimpi atau semacamnya? Apakah dia lupa kalau kita seharusnya tidak berkomunikasi?

"Atau apa kamu lebih suka kalau kita menikah?" Tanyanya, mengejutkanku hingga hampir saja aku menumpahkan kopiku.

"Apa kamu gila?!" aku mendesak. Apa dia sudah gila?

"Ya. Jadi, jika kamu tidak ingin menikah, maka lakukanlah perjalanan denganku. Untuk satu hari."

"Beri aku satu hari terakhir bersamamu," katanya. "Izinkan aku satu hari untuk bersikap egois."

"Satu hari terakhir berpura-pura. Satu hari terakhir untuk merasakan bahagia," tambahnya membuatku terdiam di telepon.

"Untuk satu hari, aku ingin kita melupakan segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Untuk satu hari, mari kita berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja. Untuk terakhir kalinya, mari berpura-pura menjadi pasangan sejati."

"Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan menyingkir darimu. Aku akan lenyap dari hidupmu, jika memang kamu menginginkan aku melakukan itu. Katakan iya dan aku akan membiarkanmu pergi."

Kata-katanya terus menggema dalam benakku saat aku memakai makeup dan bersiap-siap untuk hari ini. Kami hanya berbicara di telepon tapi aku merasakan desakan dan kesedihan dalam suaranya. Apakah dia mengatakan yang sebenarnya saat dia bilang kalau dia akan membiarkanku sendiri? Apakah dia bersungguh-sungguh saat mengatakan kalau dia tidak akan menggangguku lagi?

Seharusnya aku merasa lega, iya kan? Itulah yang aku inginkan pada awalnya. Tapi kenapa aku merasa sedih? Kenapa tiba-tiba aku merasakan sedikit rasa sakit di dadaku saat mendengar kata-kata itu?

Berhenti berpikir berlebihan, Hye Kyo. Berhenti menganalisa hal-hal dan bersiap-siap saja. Lalui saja semua ini dan kamu akan baik-baik saja. Kerumitan dalam hidupmu akhirnya akan berkurang. Tapi kemudian...

Bagaimana aku menghadapinya? Dapatkah aku melakukan ini? Benarkah aku dapat menghabiskan 24 jam bersamanya? tanyaku pada diri sendiri saat aku memeriksa jam di samping tempat tidur, untuk mengetahui jam berapa sekarang dan menggunakan sisa waktu yang ada untuk memeriksa kembali isi tasku.

Kamu bisa melakukan ini Hye Kyo, Kamu bisa.

---

*SJK's POV*

Aku bangun cepat pagi ini lalu melakukan mempersiapkan untuk hari ini. Aku tidak begitu tahu harus merasa bagaimana tentang hari ini. Haruskah aku merasa senang karena akhirnya mendapat kesempatan untuk bersamanya lagi, menemuinya dari dekat, mendengar suaranya, melihatnya tertawa dan berada di sampingnya sepanjang hari? Atau haruskah aku merasa sedih karena aku berjanji padanya bahwa setelah hari ini, aku akan membiarkannya pergi?

Aku tidak berencana untuk mengatakan itu padanya, tapi aku merasa gugup saat menelpon, ketika aku merasakan keraguannya, aku langsung mengatakannya, yang membuatku bahagia dan sedih. Bahagia karena dia setuju dengan rencanaku. Sedih karena aku memiliki perasaan kalau dia setuju hanya karena apa yang aku janjikan padanya.

...Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang