Mengamankan Kemitraan

2.2K 105 0
                                        

3 bulan kemudian

*SHK's POV*

"Appa, memang harus aku? Tidak bisa Onew saja yang hadir? Otakku benar-benar sudah penuh saat ini," aku merengek. Aku tidak bisa percaya ayah memaksaku mewakilinya hadir di meeting lain (meeting kelima untuk hari ini) dengan rekan bisnisnya. Aku tidak suka berurusan dengan hal-hal yang yang serius. “Aku-butuh-menghasilkan-uang-lagi” menjadi bingkisan untuk rekan bisnisnya. Yang mereka pikir hanyalah bagaimana membuat uang mereka berkembang. Dan meeting dengan mereka sungguh-sungguh membosankan.

"Tidak bisa, harus kamu. Onew sudah ada meeting lain yang harus dihadiri. Di samping itu, kamu harus terbiasa dengan meeting ini karena sebentar lagi kamu akan menangani perusahaan. Kamu kan tahu, Aku tidak selalu ada untuk memandumu. Apa yang akan terjadi kalau aku sudah tidak ada?" Katanya dari meja kerjanya. Kadang aku berpikir appa lupa kalau aku adalah putrinya dan bukan karyawan/CEO magang, atau apalah sebutannya.

"Appa sudah mengatakan itu jutaan kali," Aku mengerlingkan mata. "Di samping itu, jangan berkata seperti itu Appa. Appa akan hidup seratus tahun lagi," kataku dengan manis, berharap dia tidak membahasnya lagi. Melihat dia tidak bergeming, aku mendesah. "Baiklah! Aku akan pergi," kataku, akhirnya menyerah. Aku tidak bisa menang kalau ayah sudah berbicara seperti itu. Aku sudah kehilangan ibu, tidak bisa kehilangan dia juga, bahkan kadang-kadang dia jadi over protektif. Sering malahan.

"Bagus. Aku akan bilang pada Tuan Choi untuk menemanimu, catat itu.”

"Apa?! Aku bisa pergi sendiri Appa, dia tidak perlu ikut."

"Oke, Aku akan suruh supir mengantarmu," katanya lagi.

"Aku punya mobil sendiri, aku tahu cara menyetir" Seperti kataku? Over protektif.

"Meetingnya bisa sampai larut. Berbahaya menyetir di malam hari"

"Aku bisa mengatasi. Aku sudah bukan anak-anak lagi, Appa! Biarkan aku pergi sendiri, atau aku tidak akan pergi," kataku, tahu bagaimana memainkan kartuku, karena pembicaraan seperti ini sering kali terjadi antara kami. Melihat tangan kanannya sudah memegang pelipisnya, aku tersenyum, aku tahu aku menang.

"Baiklah. Aish, ayahmu ini tidak akan menang melawanmu, anak keras kepala," katanya sambil menggelengkan kepala.

"Aku belajar dari yang terbaik," Aku tersenyum.

"Tapi langsung pulang setelah meeting selesai, arasso? Telepon jika ada masalah, Arasso?"

----

*SJK's POV*

Aku tahu seharusnya aku tidak perlu pulang dan makan siang bersama keluarga. Sepertinya aku tidak dibutuhkan disini. Ayah hanya senang berbicara dengan In Sung hyung, aku bukan siapa-siapa, hanya bayangan. Aku mengunyah makanan dengan tenang saat aku mendengarkan mereka berbicara bisnis.

"Aku rasa aku tidak bisa hadir meeting dengan investor besok, appa. Terjadi sesuatu di cabang Hongkong dan aku harus berangkat kesana" kata In Sung.

"Waeyo? Apa yang terjadi?"

"Tidak ada yang serius, aku bisa menangani. Tidak perlu khawatir, appa" hyung meyakinkannya.

"Tentu saja. Aku yakin kamu bisa," ayah tersenyum bangga. Tentu saja dia percaya kalau hyung dapat melakukannya. In Sung sangat sempurna di mata ayah – anak yang sempurna, penerus jaringan Hotel Song yang menjanjikan. Bukan berarti aku membenci In Sung hyung, kenyataanya, aku banyak belajar darinya. Dia pebisnis juga hyung yang hebat. Tapi kadang kala aku merasa cemburu, terutama jika sudah dibandingkan dengannya, hampir setiap waktu.

"Aku akan bilang pada sekretaris untuk menjadwal ulang meetingnya"

"Biar aku yang pergi," kataku.

"Apa?" ayah menghentikan suapannya.

"Appa, aku bisa menggantikannya. Aku tidak banyak meeting besok, jadi aku mempunyai waktu unt..."

"tidak," ayah menghentikanku. "Tidak bisa"

"Kenapa tidak?" tanyaku, tidak terkejut. Ini bukan pertama kalinya dia menolakku menjalankan tugas, tapi tetap saja aku merasa sakit.

"Iya, kenapa tidak, nampyeon?" ibu bertanya. "aku yakin Joong Ki dapat melakukannya, kan hanya meeting dengan investor."

"Memang hanya meeting, tapi akan berpengaruh besar pada pendapatan hotel. Dia masih harus banyak belajar" kata ayah tegas, ibu melihatku, bersimpati. Aku meneruskan makanku dalam diam, tidak perlu melawan dalam hal ini.

"Berbicara tentang bisnis, kami berencana melakukan kerjasama dengan Song Group Companies. Dan aku ingin kamu bertanggung jawab atas hal ini, Joong Ki," ayah melihatku, membuatku tersedak makananku. Benarkah? Apakah aku bermimpi? Ayah memberikan ku kesempatan seperti ini?

"Jinjja, appa?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

"Wow, Song Group of Companies, benar-benar sebuah kesempatan. Apa mereka benar-benar setuju bekerjasama dengan kita, appa?  Sangat sulit mendapatkan kesepakatan dengan mereka? Bagaimanapun, SGC adalah perusahaan top di Asia"  In Sung bertanya dan melihatku dengan bangga.

"Ya, memang tidak mudah meyakinkan mereka, dan akhirnya mereka melihat potensi perusahaan kita, kita adalah pemilik hampir seluruh hotel terbaik di Korea Selatan. Kesempatan seperti ini sangat langka. Beruntung kita telah terpilih di antara semua pemilik jaringan hotel. Di samping itu, Ketua Song adalah teman lamaku waktu di sekolah bisnis," kata ayah, aku tidak dapat berkata dan merasa bahagia karena dia mempercayakannya padaku.

"Ini kesempatan besar, benar kan, Joong Ki?" ayah bertanya padaku.

"Ya appa, benar. Aku tidak akan gagal. Terima kasih telah memberiku kesempatan," jawabku, bertekad untuk mendapatkan kesepakatan ini, tidak peduli apa, akan ku buktikan padanya.

"Baik, selanjutnya. Pertama-tama kamu perlu melakukan segalanya untuk mengamankan kerjasama ini," katanya, melihat ke mataku, "Dan jalan terbaik untuk mengamankan kerjasama ini adalah dengan menikahi putri satu-satunya ketua Song, Song Hye Kyo.”

---

...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang