Hari ini hari yang sibuk lagi bagiku, karena harus pindah dari meeting satu ke meeting yang lain. Aku mempelajari laporan yang disampaikan oleh asistenku dan setelah itu akan pergi ke meeting yang lain ketika ponselku berdering. Aku langsung menjawab, bahkan tidak melihat nama penelponnya.
"Yeoboseyo?"
"Hi," kata sebuah suara lembut yang feminin. Aku langsung tersenyum.
"Hye Kyo," kataku lalu berhenti, mengangkat kepala dari laporan yang kubaca. "Bagaimana keadaanmu?"
"Ya, uhm aku baik. Aku menelpon ingin mengucapkan terima kasih untuk coffee... dan uhmm.. untuk menjagaku semalam," katanya dan aku menutup map di depanku. Pekerjaan masih bisa menunggu.
"Jangan bilang begitu. Aku senang jika harus melakukannya lagi, meski aku inginnya kamu jangan pernah minum seperti itu lagi," kataku, ingin rasanya mengatakan padanya bagaimana khawatirnya aku, tapi tidak jadi. "Di samping itu, aku ini tunanganmu, ingat kan? Adalah tugas ku menjagamu. atau orang lain akan mulai curiga," aku menambahkan, mencoba mengatakan padanya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bagian dari perjanjian, tidak lebih. Tapi benarkah?
"Oh, baiklah," katanya terlihat ragu-ragu. "Uh, apakah kamu bebas jam makan siang nanti? Aku akan mentraktirmu makanan enak, sebagai ucapan terima kasih," katanya dan senyumku menghilang mengingat jadwal meetingku hari ini.
"Uhm, maaf, tapi aku sudah ada janji makan siang, meeting mengenai kemitraan," kataku meminta maaf.
"Uh, oke. Mungkin lain waktu," katanya, dan muncul ide di pikiranku.
"Bagaimana kalau makan malam?" tanyaku berharap.
"Makan malam juga oke."
"Oke, makan malam," aku tersenyum dan memberi isyarat kepada sekretarisku agar memulai meeting. "Maaf aku harus pergi, nanti aku jemput, oke?"
"Aku bisa menyetir sendiri," dia memprotes. Aish, Hye Kyo, benar-benar keras kepala.
"Tidak ada perdebatan. Aku jemput jam 7 malam. Siap-siap, bye," cepat kututup telepon sebelum dia memprotes lebih jauh. Tidak, aku tidak akan membiarkannya menyetir. Aku berjalan ke ruang konferensi dengan senyum tergambar di wajahku, memikirkan apa yang akan ku lakukan nanti. Dengan gadis seperti Hye Kyo, Aku tidak pernah tahu.
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tiba di rumahnya sekitar jam 6:45 malam, mengenakan kemeja casual dan celana hitam lalu ku tekan bel. Gerbang terbuka dan terkejut melihat pelayan yang kemarin malam lagi.
"Oh, Tuan. Joong Ki. Tuan datang lagi, silahkan masuk, Nona masih di kamarnya," katanya, melangkah ke sebelahku untuk mempersilahkanku masuk.
"Terima kasih. Oh ya, semalam situasinya agak kacau jadi tidak dapat mengingat, siapa namamu?" tanyaku.