chapter 31

581 18 7
                                        

kesunyian menyelimuti rani dan ical. suasana kamar rani tampak tenang dan damai. keduanya sama-sama sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. ical sibuk bermain game zombie di ponselnya, sedangkan rani sibuk menonton film thaliand drama.

drrtdrttdrrt..

getaran ponsel rani membuat sang pemilik langsung meraih ponselnya di atas nakas. seketika ia terbelalak kaget. orang yang menelponnya adalah dinar. ia lupa jika malam ini dinar ingin mengajak mereka video call bersama.

ical yang tadinya sibuk dengan gamenya, kini beralih menatap rani. pria itu bingung dengan raut wajah rani yang kaget menatap layar ponselnya. ical pun mempause gamenya dan berjalan menghampiri rani. ia naik ke atas ranjang dan duduk di samping gadis itu.

"kenapa nggak di angkat aja?"tanya ical. rani menatap ical sendu.

"gue nggak mau liat bunda sedih gara-gara keadaan gue yang lagi sakit. gue nggak mau bikin bunda cemas."lirih rani.

"bunda nggak bakalan tau sama keadaan lo, kalo lo nggak pasang muka lemas kayak gitu."ujar ical pelan. Pria itu langsung menggeser tombol hijau di layar ponsel rani. Seketika wajah dinar beserta desi pun langsung terlihat dari layar ponsel.

"Hai sayang.."sapa dinar dengan senyum hangatnya."kamu apa kabar?bunda kangen sama kamu."

"Iya bun, rani juga kangen sama bunda."lirih rani dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan nangis dong anak mami. Entar jelek lho."goda desi. Senyum tipis pun terbesit dari bibir rani."ical kenapa diam aja?kamu wajahnya kayak asem gitu, kenapa? Nggk suka ya kamu liat mami?"

"Suka lah mi. Anak mana coba yang nggak suka liat orang tuanya nelpon."jawab ical datar.

"Terus muka kamu asem banget kayak ketek papi kamu itu, kenapa?"tanya desi.

"Habisnya ical kesal sama mami. Udah berapa hari pergi ke jerman, hubunginnya baru sekarang. Pulangnya kapan sih mi?"tanya ical yang terdengar kesal.

"Besok kami pulang kok. Kamunya sabaran dikitlah."sahut desi. Wanita itu menatap putranya dengan tatapan heran.

"Mungkin ical udah gerah kali mih jagain aku. Sekarang kan dia udah punya pacar. Aku rasa karena kehadiran aku bikin waktu dia bersama pacarnya tersita."ujar rani dengan senyum kecut nya.

Terlihat raut wajah kaget dari dinar dan desi. Kedua wanita itu nampak saling lempar pandang tak percaya dengan ucapan rani barusan.

"Kamu....u--udah punya pacar cal?"tanya dinar hati-hati.

Ical menghela nafasnya pelan dan menyahut."iya bun."

"Mami nggak setuju!"tolak desi dengan tatapan tajamnya."mami mau kamu putusin pacar kamu sekarang juga!"

"Tapi mih-"

"Mami nggak mau tau yah cal. Pokoknya kamu putusin pacar kamu itu detik ini juga. Hanya rani yang pantas buat kamu cal."ujar desi.

"Des, udalah. Kamu jangan terlalu maksain ical. Terserah dia mau pacaran sama siapa aja itu hak dia."ujar dinar yang mulai menenangkan desi.

Sedangkan ical?pria itu sedang mengepalkan tangannya marah. Rani yang melihat pancaran mata yang ical yang tidak bersahabat itu pun seketika menjadi takut.

"Maaf yah..aku baru ingat kalo aku ada PR hari ini. Aku putusin sambungannya yah."ujar rani pelan. Dinar dan desi hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan. Rani pun segera menekan tombol merah di atas layar ponsel miliknya.

"Gue harus pulang."sahut ical dingin. Pria itu segera meraih ponselnya di atas sofa.

"Ical."panggil rani lirih. Ical yang hendak melangkahkan kakinya menuju pintu kamar pun terhenti."soal yang di omongin mami, gue rasa lo nggak perlu kepikiran. Mami mungkin hanya berusaha menggoda kamu aja."

move on [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang