Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

9. Kebohongan (A.A)

3.7K 211 0
                                        

Sekarang dimana letaknya, langit pernah mengalahkannya, sampai jingga rindukannya?

***

Satu minggu, suara bariton itu tak pernah terdengar di kepalaku lagi. Chat nya juga berhenti seperti di telan titik. Harusnya aku bangga, bisa menuruti permintaan orang yang pernah aku sayangi. Tapi menjauh darinya seperti membuang lembaran fotokopi kertas berharga.

Pikiranku rancau, hingga bunyi ketukan pintu mengembalikan kesadaranku.

"Dasar kebo, baru juga jam 4 udah molor"

Aku terduduk dan siap menimpuk Angga dengan guling dekapanku. Dengan santai Angga berjalan lalu menjatuhkan diri begitu saja di markas besarku.

"Apaan sih Ngga, keluar nggak lo dari kamar gue"

Aku mendorong Angga, sampai anak itu terjatuh dari kasur dan menyebabkan bunyi bedebum. Sepertinya sakit, emang...

"Lo sadis amat sama temen sendiri,  yaudah biasa aja kali. Lo kalo main ke rumah gue juga ngacak ngacak kamar gue"

Aku mengehela nafas berat, bisa liat kalo ini kamar cewek?

"Ga baik tau anak cowok main ke kamar cewek, udah keluar sana. Biasanya juga gue yang main ke tempat lo"

Angga berdiri dan mengacak rambutnya frustasi. Dia menghela nafas panjang dan menatapku lelah.

"Gue di spam sama adek kelas, bantu gue.."

Hah?

Yang di spam situ? Kok sini harus ikutan repot? Enakan tidur.

"Makanya punya muka itu slow aja, jangan ganteng ganteng"

Dengan gerakan yang tidak bisa di tebak, Angga jongkok di depanku dan menggenggam tanganku.

Kedua mataku membulat sempurna, matanya memancarkan aura teduh yang selama ini belum pernah aku lihat, nafasnya naik turun seperti sedang menetralkan degub jantung. Seperti ingin bicara tapi tertahan.

Jangan jangan, Angga mau.....

"Nggi, adek kelas nge-spam gue, dia minta di cariin sepatu buat ekstra basket. Pinjemin ya..gue capek di spam mulu"

Tetoretoret.....

Bunyi terompet ala zonk berbunyi di kepalaku. Ah sial, harusnya aku tidak berfikiran sampai ke situ.

Aku menepis tanganya.

"Cuma gitu doang lagaknya biasa aja kenapa sih, bikin.. "

Ucapanku terpotong oleh permainan sorot matanya yang menyebalkan.

"Bikin apa hayoooo? Bikin baper ya?"

Ah dasar, si ketos gila. Kok bisa ya aku berteman dengan spesies kaya gini.

"Mau minjemin kan?"

Aku menghela nafas berat, entah kenapa menjadi seorang Anggita mudah sekali nurut, bukan karena orangnya penurut. Tapi males ngeladenin si pembujuk.

Aku berjalan menuju rak sepatu, setelahnya aku melempar sepasang sepatu warna oranye tepat ke arah Angga, modus nimpuk si sebenernya.

"Apaan?" tanya Angga cengo.

Dih, gilanya kambuh.

"Kan tadi lo bilang mau minjem sepatu buat adek kelas, ya itu sepatunya. Kalo lo suruh gue buat ngasih ke adek kelas ogah ya"

Angga kembali merengek nggak jelas, dengan tangan yang bikin ribet plus kebelet kebelet.

"Ayolah, Nggi. Lo kasihin ke orangnya ya, gue males ketemu dia.  Lagian orangnya ada di bawah kok"

Haa?

Aku tersentak, diam di tempat. Jadi Angga kesini bawa adek kelas? Dasar ketos gila!!!!!

"Ngapain bawa ke rumah gue, ah dasar lo.."

Dengan cepat aku menuruni tangga sambil mendumal tidak jelas, aku tidak mau menampung adek kelas disini. Takutnya ntar dia malah bikin gosip kalo rumah ku berantakanlah, pelayanannya kurang baik lah apalah dia kata ini hotel?...... Aku tidak ingin hal hal buruk menganggu pikiranku.

Benar saja, di ruang tamu seorang gadis mungil dengan rambut kuncir dua duduk di manis disana.

"Kak" sapanya padaku.

Tanpa basa basi, aku mengulurkan sepatu ke arahnya. Aku tidak suka bertele tele jadi orang.

"Makasih kak" ucapnya sambil terulur mengambil sepatuku.

Aku mengamati wajah cewek ini, sepertinya aku pernah melihatnya mengobrol dengan..

Elang.

Aku mengambil posisi duduk dan membuka pembicaraan dengannya.

"Udah dari tadi?"

Dia mengangguk dengan senyum mengembang di bibir tipisnya.

"Kesini sama Angga?"

Dia mengganguk lagi. Semu merah tergambar di kedua pipinya.

Aku hanya ber-oh ria, kemudian sesuatu dalam diriku meminta langsung pada inti.

Sebelumnya, aku menghela nafas.

"Kamu kenal Elang?"

Pertanyaan itu membuatnya sedikit terlonjak, kemudian sikapnya kembali biasa lagi.

"Iya Kak, temen SMP"

Pikiran tentang A.A kembali memecah parah logikaku, pikiran dan hati bergejolak tanya, tidak, tanya, tidak. Dan setelah sekian detik.

"Satu kelas? Kenal cewek yang deket sama Elang nggak?"

Sial

Pertanyaan ini terlalu monoton, bisa bisa gadis mungil ini menduga aku ada sesuatu dengan Elang. Bodonya Anggita....

"iya Kak, kebetulan cewek yang Elang deketin cuma satu mungkin si Agnes yang kakak maksud"

What? Agnes?

Siapa itu? Jantungku berdegup seperti ingin pecah, bahu dan tumit seakan baru saja terkena senapan.

"Agnes siapa?"

Cewek itu melirik ke atas seperti membuka kembali memori masa lalunya.

"Setauku pacarnya Elang, tapi nggak pasti juga Kak, soalnya hubungan mereka nggak semulus puisi yang sering Elang buat"

Aku menelan saliva dengan susah payah, jadi TOD itu? Pembohong.

"Boleh tau nama panjangnya?"

Cewek itu dengan lancar menyebutkan nama 'itu tanpa memperdulikan sesuatu yang menampar sesuatu di dalam sana.

"Agnesia Audrey"

Benar, tulisan di notebook biru itu A.A artinya Agnesia Audrey. Ternyata selama ini aku tertipu, dia telah berbohong dengan mengatakan belum ada orang lain yang menempati hatinya.

Sakit rasanya, tapi aku bisa apa? Toh aku bukan siapa siapa. Rasanya tidak sia sia Angga membawa gadis mungil ini kesini, aku jadi tau banyak soal Elang.

***

Maaf ya pendek, next chapter panjang kok.

Vote dan komen

Blue sky

Elang [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang