Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

11. Pencitraan

3.7K 227 1
                                        

Inilah akhirnya, alur yang ku dapat dari Cinta. Tidak ada makna kata hanya sebatas luka yang tertata


***
Kelabu menggelantung menghapus mega biru yang menggantung, setetes butiran kristal bening jatuh menyapa bumi. Bersama dengan kalimat Liana tadi, yang masih berotasi di pikiranku.

"Kemarin aku lihat Elang sama anak kelas IPS di kafe Lavender"

Sial.

Aku menendang Batu yang hanyut terkena sapuan hujan, menimbulkan tetesan air jatuh di sepatuku. Jam menunjukan pukul lima sore, belum malam tapi kondisi hujan yang memakan senja jadi malam.

Hujan deras seperti ini masih ada juga yang nugas di ruang osis, heran deh sama mereka, apa tidak bisa di kerjakan dirumah saja? Kan enak bisa sambil minum coklat panas ditemani selimut gambar nanas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan deras seperti ini masih ada juga yang nugas di ruang osis, heran deh sama mereka, apa tidak bisa di kerjakan dirumah saja? Kan enak bisa sambil minum coklat panas ditemani selimut gambar nanas. Ah, jadi pengen pulang.

Jangan dipikir aku tidak bosan menunggu Angga keluar dari ruangan menakutkan itu, ruang osis yang letaknya di lantai dua pojok kelas sepuluh IPS yang kabarnya banyak cerita mistis.

Yang bikin merinding lagi, Angga pernah cerita kalo pintu ruang osis pernah ketutup kenceng sendiri padahal nggak ada angin lewat, terus dia liat bayangan lewat di korden jendela.

Serem, tapi yang bikin sarap Angga nggak takut buat ngerjain sesuatu sendirian di ruang osis, kadang sampai larut malam juga, padahal udah pernah ngalamin hal serem. Dasar sarap emang. Kalo ditanya dia cuma jawab 'gue kan ketos, masak cuma sama begituan takut.

Padahal menurutku dia berani karena kepepet jabatan sekaligus keadaan, kalo enggak ya mana mungkin mau.

Sambil menunggu Angga turun dari ruang osis aku berjalan ke arah koridor, entah mengapa seperti ada magnet yang menarikku sampai kesana. Semacam aku akan menemukan suatu keindahan hujan disana.

Mataku jatuh pada dua insan yang sedang berdiri disana, aku menyipitkan mataku berharap apa yang aku lihat adalah halusinasi. Berkali kali aku mengedipkan mata namun hasilnya nihil.

Disana, tepat beberapa meter dari tempatku berdiri. Elang dan anak kelas sepuluh yang aku tidak tahu namanya sedang berdiri dengan senyum mengembang dan pipi merona.

Pikiranku kembali pada Liana tadi.

"Namanya Dara, anak kelas sepuluh IPS 2"

Samar aku mendengar mereka sedang bercakap cakap, tapi suaranya tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan, hujan memakan obrolan mereka. Aku menajamkan pendengaranku hingga aku tahu fakta yang membuat bibirku tak bisa berkata.

"Kamu ada hubungan apa sama kakak kelas?"

"Siapa? Kak Rinjani? Aku nggak ada apa apa sama dia, selama ini aku deket sama dia cuma iseng aja, buat pencitraan"

Jadi selama ini aku cuma buat pencitraan? Puisi, surat, chat bahkan kafe Lavender
dia anggap pencitraan?

Pencitraan?

Elang [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang