Kau tahu? Dunia ini begitu sempit, sampai mempertemukan Langit yang terjepit diantara labuhan rakit.
***
Ruangan persegi itu berjejer nampak sepi, hanya ada satu dua orang yang menempati. Sisanya sibuk memesan makanan dikantin atau sekedar menghabiskan waktu untuk bergosip ria sebelum otak mereka kembali mengepul mengahadapi tulisan tulisan.
Putih dan abu abu menggantung menutup biru yang biasa jadi warna favorit langit, sisa kristal kecil juga masih menempel ditanah dan bergelayut diantara daun daun pepohonan.
Langkah kakiku berhenti didepan kelas berlabel XI MIPA 1 setelah beberapa kali melewati ruang kelas lain dan mengabsen isinya pula. Aku mulai memasuki kelas yang isinya rata rata penghafal tabel periodik, dan hukum newton.
Mataku langsung terarah pada benda diatas mejaku, dejavu. Satu kata yang mewakili keseluruhan pendapatku. Aku berjalan mendekati mejaku dan menengok kanan kiri.
"Dari siapa?" tanyaku pada Atala yang duduk dibangkunya dengan bekal yang ia bawa.
Atala mendongak, "dari anak baru. Nggak tau namanya siapa"
Hah? Anak baru?
"Sejak kapan ta?" tanyaku penasaran dengan buket mawar merah itu.
"Sejak lo ke kantin tadi, dia tanya meja lo terus ditaruh situ"
Pikiranku mulai rancau, darimana dia tau namaku? Kenalan aja nggak pernah, atau jangan jangan dia itu tukang sulap, tukang magic. Atau apa, siapa sih dia itu.
"Nggi, pacar baru ya?"
Refleks aku menoleh menatap Atala yang senyam senyum sambil mengunyah makanan. Aku menggelang cepat.
"Adek kelas lo kemanain?"
Sial, darimana mereka tau aku dekat dengan Elang. Padahal aku tidak pernah memberi tahu mereka soal kedekatanku dengan Elang. Kami juga jarang bertemu setelah kejadian secangkir kopi itu.
Aku memilih duduk sambil mendengarkan ocehan dari Atala soal Elang yang entah sejak kapan membuat kedua pipiku memanas.
Jam pelajaran dimulai sejak aku duduk sepuluh menit yang lalu dibangku, pelajaran PKN kali ini membosankan. Tidak hanya hari ini hari kemarin dan hari seterusnya pelajaran PKN tetap paling membosankan bagi anak anak MIPA 1, buktinya ada yang bergosip ria di buku tulis dengan teman semeja, ada yang diam diam membaca novel dibalik buku paket tebal PKN, ada yang main game di kolong laci, lebih parahnya lagi ada yang tidur sambil memasang earphone berbantal tas dan ditutupi jaket.
Aku menghela napas berat, menatap pintu kelas yang warnanya terlihat bagus karena belum lama ini dicat.
Lalu perhatianku tertuju pada seorang pria bersepatu abu abu oranye lewat dengan tampang melirik ke dalam kelasku. Mata kami sempat bertemu walau hanya satu detik. Dan itu sukses membuat jantungku kembali berdetak dua kali lebih kencang.
'Tenang Anggi, tenang
Aku menghela napas lagi, tapi perhatianku dialihkan lagi oleh seorang pria dengan seragam kelihatannya baru, tidak. Itu bukan kelihatannya lagi tapi memang seragam baru. Dan itu adalah anak baru. Pandangan kami bertemu agak lama, tidak seperti dengan Elang tadi, dan pandangan itu terputus saat dia berjalan menjauh dari kelas. Dan saat itu juga.
"Anggi, coba jelaskan sepuluh pilar prinsip prinsip Demokrasi Pancasila"
'Ah, senangnya😵
***
Halilintar beradu dengan gemuruh disertai sorot kilat yang dilengkapi dengan kristal bening yang jatuh dari langit, bumi menumpahkan segala kejenuhannya dari kondensasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [PROSES PENERBITAN]
Teen FictionCerita ini sudah tamat diharapkan vote dan komen, jangan lupa follow author, thank u 🌻 [International High School Sky Blue Series] Mencintai Elang Samudera itu seperti kupasan kulit jeruk, asam dan pahit tertuang ke dalam mangkuk. Sekalinya kau jat...
![Elang [PROSES PENERBITAN]](https://img.wattpad.com/cover/117624466-64-k44431.jpg)