Bunga itu adalah duka, yang dikirim oleh seseorang bertopeng hanya untuk membuka sebuah luka
***
Kabut bening mengambang, menapaki fajar yang mencuat diiringi sinar dari arah Timur. Disebuah rumah bernuansa putih ini aku berada. Tepatnya setelah aku gagal untuk melarikan diri dari kejadian semalam.
Sahabat kecilku sudah beberapa jam yang lalu berbaring dikasur putihnya sebelum aku datang untuk mengunjunginya. Tangannya sibuk menari diponsel.
"Ngga, apa kabar?"
Diam, dia seakan membisu tanpa menolehkan pandangan kearahku, lebih tepatnya pagi ini aku adalah radio yang sedang mengoceh kepada patung.
Aku menjatuhkan diri dikasur dan menarik selimutnya tetapi tangannya menangkis membuat tanganku terpukul pelan olehnya, aku menghela napas berat.
"Ngambek lo?"
Angga menarik selimutnya sampai menutupi kepala ponsel yang ia mainkan dibiarkan tergeletak disampingku. Getaran kecil terjadi di ponselnya mungkin itu dari anak anak osis.
"Lo kenapa sih Ngga? Yaudah kalo nggak mau ngomong gue pergi aja"
Saat aku ingin bangkit dari kasur, ia membuka selimut dan menatapku dengan muka datar.
"Semalem gue tunggu lo kemana aja?"
Ada getaran rasa bersalah menghantui, perihal semalam aku gagal melarikan diri dari Kak Adel, ini semua rahasia yang telah Tuhan rancang untuk mengisi sebagian alur dari hidupku yang tidak mungkin dipungkiri.
"Ya sorry, semalem ada tugas banyak"
Aku mengalihkan pandanganku, menatap dinding rumahnya lalu turun pada dua bingkai foto di samping tempat tidurnya.
"Kalo gitu, kenapa lo nggak ngasih tau gue? Gue nungguin lo sampai jam sepuluh, dan lo tau? Mama marahin gue gara gara lo"
Aku mengernyit, memandang muka asamnya. "Lagian ngapain pake ditunggu sih?"
Angga menghela napas, menatapku dengan wajah datarnya lagi. "Lo tau nggak, lo itu obat yang paling manjur buat nyembuhin gue"
Cicak didinding juga tau, ucapan klasik itu selalu dibunyikan seorang cowok kepada pacarnya. Tapi disini, mempertanyakan kenapa Angga sepagi ini kesambet jin tomang penunggu pos satpam.
Aku memutar tubuhku membelakanginya, dan berjalan menuju koleksi buku buku sastra.
"Pagi pagi nggak usah nyampah deh, Ngga. Omongan lo itu sebelas duabelas kayak playboy dikedai depan sekolah"
Tanganku terulur untuk memilah buku mana yang menarik perhatianku pagi ini. Angga berdecak kesal lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Udahlah gue mau mandi, mau sekolah"
Refleks aku memutar tubuhku, dan berlari kecil menahannya. "Eh, lo kan belum sehat, nanti kalo kenapa napa gimana?"
Angga menepis tanganku, kemudian mendorongku keluar dari kamarnya. "Yang nggak sehat itu lo, orang mau sekolah nggak dibolehin"
***
Pukul 10.0 a.m, pintu mulai dari pojok Utara berparalel hingga pojok Selatan entah itu atas ataupun bawah terbuka lebar, menampilkan gerombolan manusia manusia yang haus akan surga dunia.
Bagi siswa, surga dunia dapat dibedakan menjadi dua macam, pertama. Ketika matahari mencapai setengah puncak disertai bel penjuru berbunyi. Yang kedua ketika mendengar kabar jamkos selama tiga jam.
Jika terdapat soal seperti diatas, maka dengan mudah aku dan lainnya akan menjawab tanpa harus menengok kanan kiri.
Tapi bagi kami, surga dunia yang paling sering terjadi yaitu point pertama, atau kalian bisa menyebutnya jam istirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [PROSES PENERBITAN]
Teen FictionCerita ini sudah tamat diharapkan vote dan komen, jangan lupa follow author, thank u 🌻 [International High School Sky Blue Series] Mencintai Elang Samudera itu seperti kupasan kulit jeruk, asam dan pahit tertuang ke dalam mangkuk. Sekalinya kau jat...
![Elang [PROSES PENERBITAN]](https://img.wattpad.com/cover/117624466-64-k44431.jpg)