Ada batasnya kapan manusia itu lelah mengejar jawaban
***
Aku menggebrak meja dengan intonasi tidak terlalu keras, kami berdua tertawa menikmati candaan kejadian tadi pagi saat terlambat.
"Aku nggak nyangka orang sedingin kamu bisa nembak cewek, dan hebatnya kamu berhasil"
Langit mengaduk minumannya "anti mainstream kan? Lagian bunga buat nembak lo yang ketinggalan dirumah palingan juga udah di ambil sama Bunda, kan Bunda suka sama bunga"
Aku tertawa sekali lagi sambil menggelengkan kepala, "aneh kamu Lang, nembak cewek kok di depan gerbang sekolah, pas terlambat lagi"
"Ah, yang penting diterima" jawabnya enteng.
Tanpa sengaja mataku menangkap sosok Angga yang sedang duduk menikmati ketoprak dengan lahap, seperti tidak pernah makan dua hari, atau bisa dibilang seperti bad mood gara-gara ditinggal doi gitu.
"Lang, Angga udah tau?"
Langit mendongak menatap ke arahku, wajahnya mendadak berubah. "Udah" setelahnya Langit bungkam dengan pandangan mengarah ke bawah.
"Kapan kamu bilangnya?"
Langit menghela napas berat, "dia sendiri yang nyuruh aku buat nembak kamu"
Aku terkejut sejenak, tidak percaya. Apa mungkin Angga melepaskanku untuk Langit? Aku menatap Langit, mencari celah kebohongan di mata hitam pekatnya.
"Jadi gini ceritanya..."
Sore itu waktu rapat acara perkemahan, setelah semuanya pulang Angga mendekat ke arahku, dia membisikkan sesuatu.
Dan dia bilang
"Lang, gue nyerah. Lo bisa nembak Anggi"
Detik itu juga aku merasa kaku, bahkan saat seorang yang aku cintai melintas untuk mengejar orang yang tadi berbisik di telingaku, aku tidak tahu. Aku merasakan kebahagiaan bahkan luka yang bersamaan.
Mendapatkan seorang Anggita adalah impian Langit, namun menyakiti hati musuh sendiri itu sama sekali tidak ada dalam daftar list.
Angga adalah rival, namun posisi Angga rela melepas adalah bagian dari rasa dan luka paling berat untuk dilakukan. Dan aku tidak tega.
Angga adalah orang yang terlebih dulu mencintai orang yang aku cintai, dan membiarkan hati orang yang dicintainya lepas agar bebas bersamaku aku rasa itu tidak adil.
Awalnya aku memilih mengalah, hanya untuk ketidakadilan perasaan yang menyakiti Angga, bukan karena aku tidak mencintai Anggita lagi, bukan. Tapi karena aku pernah merasa di posisi Angga yang harus melepas seseorang agar bebas. Dan itu menyakitkan.
Namun niat itu terkurung kala pada malam harinya di Kafe Lavender, Angga mengatakan lagi padaku jika dia benar-benar ingin melepas seseorang yang bertahun-tahun telah mengisi hatinya, dia bilang
"Pada dasarnya cowok itu memang harus tau artinya perjuangan, maka dari itu mengejar adalah salah satu cara untuk melakukan perjuangan. Namun semua manusia punya batas lelah, suatu waktu dia akan berhenti pada titik dimana manusia itu akan sadar tentang hasil perjuangannya..."
Kalimatnya terpotong, Angga menarik napas dalam-dalam.
"Anggita adalah takdir seorang Langit Elang Pradana bukan seorang Rangga Putra Wijaya jadi kembalilah padanya, mulai malam ini Angga, sahabat kecil Anggita akan melepas dan membiarkannya terhempas bebas dengan kebahagiaan yang semestinya dia dapatkan"
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [PROSES PENERBITAN]
TienerfictieCerita ini sudah tamat diharapkan vote dan komen, jangan lupa follow author, thank u 🌻 [International High School Sky Blue Series] Mencintai Elang Samudera itu seperti kupasan kulit jeruk, asam dan pahit tertuang ke dalam mangkuk. Sekalinya kau jat...
![Elang [PROSES PENERBITAN]](https://img.wattpad.com/cover/117624466-64-k44431.jpg)