Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

5. Truth

4.3K 208 1
                                        

Aku hanya tidak ingin, hati hati yang lain tersakiti saat aku mengatakan
Aku mencintainya.

***

Pulang sekolah Angga menungguku di parkiran, dia melendetkan tubuhnya di mobil sambil memainkan ponselnya.

Aku mendatanginya lalu dengan cepat dia mengantongi ponselnya.

"Ehm, Ngga. Sorry gue nggak bisa pulang bareng lo"

Baru kali ini, aku menolak pulang bareng sama Angga. Biasanya sampai Angga pulang sore gara gara kumpul osis pun aku siap menunggunya.

Maklumlah, kita berdua udah sahabatan sejak beberapa abad yang lalu. Bahkan aku dan Angga sampai di bilang kek kembar.

Dilihat dari namanya aja hampir sama. Angga dan Anggi di tambah kita kemana mana selalunya bareng. Point plus banget buat benerin omongan orang kalo kita kaya saudara.

"Mau kemana? Tumben nggak mau pulang bareng gue?"

Sebenarnya aku tidak enak hati menolak ajakannya. Tapi mau bagaimana lagi aku kan ada janji sama Elang.

"G-gue mau, eh ada janji sama seseorang.."

Aku melirik jam tanganku, 3.30 PM berarti 30 menit lagi aku harus sampai di kafe itu.

"Sama siapa?"

Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal. Bingung aku harus jawab apa. Apakah aku harus beranalogi supaya Angga tidak tau.

Gue duluan..."

Aku berniat untuk pergi dari tempat itu, tapi Angga menghentikan langkahku. Dia memegang tanganku dengan erat.

"Jawab dulu Nggi, gue nggak mau lo ada rahasia  sama gue"

Aku menatap mata Angga, seakan terhipnotis aku menurutinya.

"Gue ada janji sama Elang di kafe Lavender, sorry ya Ngga gue harus pergi, soalnya gue nggak tau kafenya dimana"

Kurasakan genggaman Angga merenggang.

"Lo pulang duluan aja, nanti gue bisa minta tolong Mama atau Kak Adel buat jemput, Sorry Ngga"

Dan genggaman Angga terlepas begitu saja.

Aku berlari keluar dari area sekolah dan berjalan menuju trotoar jalan raya, siapa tau aku bisa menemukan angkutan umum yang bisa membawaku ke kafe itu.

Kafe yang asing di telingaku.

Agak jauh aku berjalan, sebuah motor menepi dan membuatku berhenti.

"Naik.."

Satu kata yang benar benar membuat jantungku selalunya begini.

Aku diam tak menggubris perkatannya. Sibuk memikirkan seseorang di depanku ini Elang atau Alan. Mereka benar benar mirip sekali.

"Kamu belum tau kafenya kan? Barengan aja ayo"

Aku tersadar dari lanunanku dan  baru saja menyadari jika yang menapak di depanku adalah Elang bukannya Alan.

"Oke deh.."

Baru saja aku ingin naik, berkisar jarak 2 meter dari tempatku, Angga berdiri di depan mobilnya. Mengamati aku dan Elang.

"Buruan Kak.."

Aku mengangguk lalu naik ke atas motor ninja merah yang kinclongnya plus plus.

Elang mengendarai motor merahnya dengan kecepatan sedang membelah kota metropolitan. Dan berangsur melambat saat kami sampai di sebuah kafe yang belum pernah aku datangi sebelumnya.

Elang [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang