Bisakah kamu mengerti? Tentang sebuah hati yang diam-diam masih menanti.
***
Angga POV
Pagi secerah ini, aku merasakan sepi di relung hati. Tiada lagi tawa yang mengisi kensunyian di tengah hiruk pikuk kota. Aku menoleh, menatap kursi kosong disebelah pengemudi. Biasanya ilusi itu duduk disana dengan senyum manis juga dengan aroma vanilla yang membalutnya.
Aku menatap kursi itu lamat, ilusi itu tiba-tiba datang menampilkan candaan dan hilang begitu saja seperti dibungkus angin.
Lampu warna hijau menyala, aku segera melajukan mobilku menuju tempat dimana banyak kenangan yang aku dan ilusiku buat disana.
Lagi-lagi sepi, bahkan absen sidik jari pun aku lakukan sendiri. Tidak ada lagi kehangatan mentari bahkan setetes air hujan turun pun tidak akan berbau petrichor lagi.
Aku berjalan, sendirian. Membelah koridor ramai namun aku merasakan sebuah kesepian. Sepi di tengah keramaian, mungkin itu adalah kata yang tepat.
Dimana dia? Hujan kecil yang selalu menyejukkan hatiku, kini pergi dengan baik menuju biru yang menjadi bahagianya. Lantas aku?
Aku sendiri disini, ditelan sebuah kehilangan bahkan hidup ditengah kesunyian.
Aku berbelok arah menuju gasebo lapangan basket, duduk disana dan merayakan sebuah kehilangan yang ada. Samar, ilusi itu datang lagi. Dia sedang berlari di tengah lapangan membawa sebuah kekhawatiran, dia berjongkok di depanku namun fokusnya bukan aku.
Aku merasakan pedih melilit hatiku, mata indahnya yang menjadi objek pengantar tidurku menatap ke arah biru yang menjadi dambaan hatinya. Dan dari sanalah aku tahu satu hal, jika melepas adalah salah satu alasan terbaik daripada bertahan namun menyiksa diri.
Ponselku yang berada di tas berbunyi, aku membuka tasku dan mengambil ponsel. Layar menyala bagai sebuah sayatan luka yang tertoreh disana, nama itu muncul dan menjadi pengantar pedih untuk mentari yang masih sepagi ini.
From: Anggita
Selamat pagi Angga:))
Semangat sekolahnya
Bukannya tidak menghargai dia, tapi memilih untuk tidak membalas pesan singkat nya adalah cara terbaik agar aku tidak terbelenggu oleh kenyataan pahit itu.
Aku mengeluarkan secarik kertas dan pena dari dalam tas, aku berniat untuk menjadikan aksaraku sebuah mendung di pagi ini. Dan itu jelas diperuntukkan kepada hujan kecilku.
Kepada kelabu hujan kecil
Tulisanku sepagi ini, untukmu wahai sang hujan yang ku rayakan kehilangan
Sudahkah kau bahagia dengan biru mu?
Ku tanyakan kabar syahdu tentangmu lewat perantara aksaraku
Juga ku lepas puing puing rindu padamu melalui penaku.
Aku tidak tahu, lewat apa aku menceritakan kisah ini
Karena aku terlalu bisu untuk memahami
Menuliskan sajak tentangmu adalah caraku mencintaimu
Jadi biar aku lakukan meski kau tidak akan pernah tau
Kalaupun kamu mengerti, ingin sekali ku jabarkan diatas mega
Tentang bagaimana aku sendirian, dibungkus sunyi dan ditikam sepi oleh raga
Usai sajak ku tulis sebaris kata, untukmu wahai hujan kecilku
Aku...
Dan kelabuku...
Selalu mengharapkan kehadiranmu yang menjadi penyejuk bagi duniaku.
Ditulis hari ini oleh R.
Aku menghela napas, dan berjalan menuju kelas bahasa yang letaknya berada di ujung dekat kantin. Aku tidak peduli, apapun itu. Aksara ini harus ditempel di papan mading.
***
Papan mading heboh saat istirahat tiba, samar-samar aku mendengar mereka menyebut namaku. Tapi biarlah, biarkan mereka tahu bagaimana rasa sepiku.
Saat aku berbalik ingin melangkah pergi, indra pendengaran ku menangkap suara miliknya, dan hal itu membuatku menengok ke arah papan mading lagi.
"Misi dong, gue mau liat.. Permisi"
Semua yang ada disana mendadak senyap, begitu pula dengan dia yang menjadi tema dalam aksaraku sepagi tadi. Dia membeku di tempat, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Lo jadian sama Langit?" tanya salah seorang perempuan yang ku kenali menjadi salah satu anggota organisasi mading.
Dia menganggukkan kepala nya pelan, aku rasa hari ini international high akan banjir dengan berita Langit dan Anggita. Juga aku yang mungkin menjadi peran kedua.
"Oh, gue kira ini puisi Angga buat lo tapi ternyata bukan"
"Maksud lo ini puisi buatan Angga?"
Perempuan itu mengangguk dan menjelaskan tentang aku yang sepagi itu datang ke kelasnya dan menemui ketua madingnya.
"Gue kira puisi ini buat lo, tapi bukan. Soalnya kan lo udah jadian sama Langit, jadi mana mungkin Angga nulis puisi buat cewek orang, kayaknya cewek baru deh. Lo perlu tanya Nggi"
Aku tidak berniat lagi mendengarkan obrolan mereka dengan Anggi. Lagi pula aku sudah tidak memiliki urusan lagi dengan Anggi, mestinya aku tidak peduli.
"Eh Angga tuh.. Miris ya ketos ganteng tapi cintanya bertepuk sebelah tangan"
Aku berhenti kala di tengah keramaian koridor terdengar suara nyinyiran yang diperuntukkan untuk ku.
"Ternyata Tuhan itu adil ya, dikasih muka cakep sama otak oke tapi perasaannya zonk"
"Lagian sahabat sendiri kok mau di embat, baperan sih.."
Aku lanjut berjalan, mendengarkan mereka sama dengan membuang waktu. Dan sepanjang perjalanan yang entah membawa langkah ku kemana aku menunduk, sampai aku tidak menyadari seseorang memanggil namaku.
"Ngga..."
Aku berhenti dan mendongak, Langit berdiri di depanku dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
"Rapatnya jadi di undur kan?"
Aku menggeleng pelan "gue belum mutusin"
"Kalo bisa sih di undur, soalnya gue mau kencan nih sama Anggi"
Kalimat itu...
Langit menepuk pundak ku dua kali, entah kenapa aku merasa Langit adalah orang yang paling aku benci di dunia ini.
Napasku naik turun, dan tanganku terkepal. Aku berbalik dan berniat ingin mengajarnya habis-habisan namun semua mendadak kaku, karena saat aku berbalik aku menemukan sebuah senyum yang selama ini menjadi miliku.
Dia disana, hujan kecilku. Sedang bediri bersama Langit. Membenarkan dasi milik Langit disertai dengan senyuman manis namun menjadi luka bagiku.
Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, jika Cinta tidak harus selalu terbalas.
***
Update nih, sorry kalo garing
Sumpah menurutku garing banget bagian ini.
Btw vote+komen ya...
Blue sky.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elang [PROSES PENERBITAN]
Teen FictionCerita ini sudah tamat diharapkan vote dan komen, jangan lupa follow author, thank u 🌻 [International High School Sky Blue Series] Mencintai Elang Samudera itu seperti kupasan kulit jeruk, asam dan pahit tertuang ke dalam mangkuk. Sekalinya kau jat...
![Elang [PROSES PENERBITAN]](https://img.wattpad.com/cover/117624466-64-k44431.jpg)