Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

27. Bottle Challange

2.5K 142 0
                                        

Pesanku padamu, jangan pernah takut dengan hujan. Hujan itu kebahagiaan bukan kutukan, tunggu apa lagi? Ayo tunjukkan. Jika bermain bottle challenge adalah kemampuan mengapa hujan saja kau tak tahan?

***
Semuanya mendadak hampa, namun sesuatu didalam sana berdetak lebih cepat, bertolak belakang dengan logika. Keriuhan tempat ini hanya sekedar jejeran formalitas bagi otakku, semuanya terasa tidak baik.

"Buruan kasih, ngelamun mulu lo"

Suara Athala mengembalikanku pada dunia nyata, bersama dengan logikaku yang mendadak beku. Aku menatap tupperware biru muda itu, apa harus seperti ini?

"Gue malu ta"

Athala berdecak, kemudian bangkit dari kursi yang didudukinya. "Eh, lo udah bawain bekal roti kesukaannya kan? Nggak mungkin ditolak udah buruan sana"

Kakiku mendadak berat untuk terangkat, ide ini gila, benar-benar gila. Bagimana jika dia menolak bekal yang ku buat ini, bagaimana jika dia mengatakan hal pedas lagi yang menusuk tepat didalam sana.

'Ayolah anggi, positif thinking.

Aku menghela napas dalam-dalam sebelum memasuki kelasnya, pintunya terbuka membuatku bisa mengintip apakah orang itu ada didalam atau tidak, sialnya dia ada dikelas, bersama dengan teman-temannya sedang bermain bottle challenge pada sebuah almari.

Sebelum masuk, aku mengamati pergerakan tangannya. Betapa lihai tangan itu melempar botol dan botol itu jatuh dengan posisi berdiri. Aku bahkan hampir mengumpat, saat senyum itu mengembang dibibirnya.

'Andai waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali disaat aku masih bisa berbicara padamu, tanpa rasa canggung seperti ini.

Aku berbalik, menyudahi mengintip dari pintu. Mataku terpejam sebentar lalu aku membukanya kembali. Tanganku sedikit bergetar. 'Ya tuhan bantu aku.

Aku melangkah masuk, dan dua orang temannya menoleh padaku. Kecuali dia yang masih asik dengan botolnya, salah satu temannya tersenyum padaku. Aku pun mau tidak mau membalas senyumnya.

"Cari Angga ya? Kayaknya lagi rapat osis. Ketos mah sibuk, biasa.."

Tiba-tiba botol yang dilemparnya mengenai bingkai foto yang terpajang diatas, membuat bingkai itu terjatuh tepat dimana aku berdiri. Semuanya berteriak panik, yang aku rasakan seseorang menarik tanganku dan menggantikan posisiku berdiri.

Aku membekap bibirku, tak percaya. "Langit!" bingkai foto itu jatuh mengenai kepala Langit, darah segar mengalir dari kepalanya. Kelas mendadak riuh, terutama teman-teman Langit yang bermain bottle challenge bersama dengan Langit tadi.

"Woi.. Woi bantuin Elang, Eh Anggita lo PMR kan, bantu temen gue nih"

Aku mengangguk cepat, buru-buru turun kebawah untuk menyiapkan obat di UKS, tupperware biru itu? Lupakan, bahkan aku tidak peduli.

Syok parah, bahkan aku mengobati Langit dengan tangan bergetar, aku tidak sendiri disana, teman-teman Langit juga ikut mendampingi, menambah kesan gugup yang luar biasa ditambah lagi Langit masih pingsan.

"Mending kita balik kelas deh, Elang disini udah ada yang ngerawat"

"Wah bener banget, sampe grogi tuh ngobatinnya. Emm kita balik dulu ya Nggi, nanti kalo ada apa-apa kabarin pak ketua aja, oke?"

Aku menyempatkan waktu untuk menoleh dan mengangguk, setelahnya aku fokus pada luka dikepala Langit. Benturannya cukup keras sampai lukanya sedikit lebar dan banyak darah yang harus dibersihkan, untung saja tidak perlu dijahit, jika iya Langit harus dibawa ke rumah sakit dan aku bingung harus bilang apa pada Tante Raina.

Elang [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang