Kylie POV.
Empat tahun kemudian, semuanya banyak yang berubah. Kaya aku sendiri udah berubah banyak banget dari hari terakhir aku bangkit dari masa terpurukku. Aku sekarang udah umur 25 tahun, hampir mendekati umur legal wanita yaitu 26 tahun. Bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, pada teman semitra Papa. Sarah, anak itu sudah tunangan dengan Yosua. Ya, dia melabuhkan cinta terakhirnya pada Yosua. Dan kabar gembiranya, seminggu lagi mereka bakalan nikah. Hahaha... Senengnya lihat temen seperjuangan gue nikah dan happily after. Stefy, sahabatku yang satu itu masih nyaman buat pacaran dengan teman kuliahnya dulu, Ricky namanya. Padahal umur udah 26 tahun, hampir dua puluh tujuh tapi masih nggak sadar diri kalau udah waktunya nikah. "Mama minta momongan dek." Olokku pas kita pada ngumpul di akhir pekan.
Bio... Cowok itu, saudara tiri yang paling aku sayang sampe sekarang. Dia juga udah hampir nikah sama temen kerjanya di US. Gila ya, gue kira gue nggak bakal bisa move on sampe mampus ntar. Ternyata gue bisa, dan dia jadi album tersendiri dalam hidup gue.
Dan yang terakhir, kalian semua pasti udah bisa nebak dong siapa. Davin, a.k.a Dave, dia juga udah bahagia. Umurnya hampir sama kaya Stefy, hampir menginjak 27 tahun. Bekerja mapan di sebuah perusahaan milik Papanya yang kini udah jadi hak paten miliknya sendiri.
Semua orang berubah. Termasuk aku dan sekitarku. Dunia pun berubah, mengikuti jaman yang ada. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya lega. Semuanya berjalan sesuai rencana dan lancar setelah kepergian Bio. Mungkin kalau cowok itu masih disini, aku nggak bakalan bisa sampe di posisiku sekarang. But, at least dia udah ngajarin aku banyak hal positif. Sekeras apapun kalian berusaha, hasilnya akan manis juga. Dulu aku mati-matian ngejar Bio, dan sekarang aku juga di 'mati-mati'an sama calon pasanganku.
"Kylie, kamu sudah selesai mengerjakan semuanya?" Sebuah suara berat dan tegas menyadarkanku dari lamunan dengan menatap ke arah luar jendela gedung bertingkat tinggi ini. Langit sudah menunjukkan warna jingganya.
"Sudah, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Itu adalah bossku. Pak Ongko namanya.
Beliau menggeleng kecil sambil tersenyum kecil menampakan garis keriputnya samar. "Ke ruangan saya bisa?" Aku pun mengangguk mengikuti langkahnya menuju ruang kebesaran Pak Ongko. "Duduk, Kylie." Katanya mempersilahkanku. "Gimana kerja disini? Kamu nyaman atau nggak? Udah..."
"Satu setengah tahun, Pak." Timbalku ketika melihat beliau menerawang seperti berusaha mengingat sesuatu.
"Nah, udah satu setengah tahun kamu disini."
"Saya nyaman-nyaman aja, Pak. Malah saya enjoy kerja di tempat Bapak." Jawabku dengan tersenyum lebar.
Beliau mengangguk beberapa kali. "Mau nggak enjoy gimana, sekantor sama calon sendiri." Timpalnya. Aku hanya tertawa kecil malu-malu. "Kamu kenapa belum pulang jam segini? Biasanya juga pulang cepet, Kay."
"Saya masih ngeliat sunset tadi, Pak. Terus di panggil Bapak tadi, jadi ya saya masih disini."
Ponsel beliau tiba-tiba berdering keras di atas meja. "Halo... Iya ini Papa sama Kylie... Belum, masih bicara sama calonmu, nak... Iya, iya, Papa tahu..." Tak lama Pak Ongko memutuskan sambungan telepon. "Kamu dicari, Kay. Tapi saya belum selesai bicara sama kamu. Nggak pa-pa, kan ngaret dikit?" Aku menggeleng tanda tak masalah. Apa sih yang enggak buat mertuaku! Hehehehe. "Gimana Papa, Mama? Sehat semua? Udah lama saya nggak mampir ke rumah mu, ya."
"Baik, Pak. Papa kadang juga nanya-nanya Pak Ongko, diajakin main catur lagi sama Papa." Papaku dan atasanku memang saling mengenal. Kebetulan sekali mereka menjadi sahabat sejak pertama kali mereka menjadi partner bisnis sejak beberapa tahun silam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine.
Cinta[COMPLETE] "Kenapa sih harus cewek duluan yang ngejar cowok?" -Kylie Lee, cewek hyperactive yang lagi jatuh cinta. "Gue nggak minta lo ngejar gue." -Bio Niagarawan. Kylie yang sedang jatuh cinta dengan Bio, teman seangkatannya di SMA, dengan begitu...
