Dave masih menempelkan telinganya pada benda tipis penghubung komunikasi. Telinganya dengan jelas mendengarkan isakan tangis Kylie yang begitu saja menangis setelah 'dikira' telepon mereka sudah berakhir. Entah apa yang Kylie pencet di layar ponselnya, tetapi sambungan keduanya masih terhubung.
"Kenapa gue sakit?" Suaranya terdengar sangat parau dan lemah. Bersamaan dengan sesenggukan tangisan Kylie sendiri.
Dave berpindah posisi duduk di sofa yang menghadap ke teras kamarnya. Pandangannya menerawang menatap langit yang kala itu mendung. Beberapa kali terdengar bunyi kilat yang masih bersuara kecil dan kilatan-kilatan cahaya petir kadang terlihat. Bau tanah khas hujan menjadi kesenangan tersendiri baginya sejak kecil. Sangat menyejukkan dan dapat menghilangkan kepenatan juga sedih.
"Dave... lo kenapa? Kenapa bikin gue sedih?" Perempuan di ujung teleponnya terus-terusan menanyakan alasan sikapnya, sendiri. Tangannya yang bebas satu lagi, terkepal kuat agar tidak bersuara sedikitpun. Tentu agar dirinya tak ketahuan jika telepon masih belum tertutup. Juga inilah satu-satunya kesempatan emas agar Dave tahu respon Kylie atas sikap juteknya hari ini.
Dari tempat Kylie terdengar suara petir dengan keras menyambar sekitar apartemennya. Bersamaan dengan itu, Kylie berteriak keras. Tangisannya bertambah keras. Ia takut petir juga hujan. Satu-satunya manusia yang pernah Dave tahu dan kenal, membenci semua elemen hujan-petir, rintikkan hujan maupun hujan deras.
Lelaki itu menyambar jaketnya juga kontak motor di atas nakas setelah mematikan teleponnya. Tak lupa helm miliknya juga langsung ia kenakan. Ia bergegas menuju kediaman Kylie. Tak peduli hujan deras yang mengguyur bumi, Dave mengendarai motornya dengan kecepatan sedang ke arah apartemen Kylie.
Pikirannya tak keruan memikirkan kondisi cewek itu yang mungkin saja sudah berwajah pucat pasi. Terlihat sangat mengenaskan mungkin. Melewati gang tikus agar mempercepat perjalannya. Karena jalan utama sedang macet sebab banjir hingga semata kaki.
Begitu sampai di dalam gedung-usai memarkirkan motor-ia meletakkan helmnya asal di atas jok motor. Segera berlari menuju lift untuk sampai ke kamar Kylie.
Ting!
Kakinya melangkah dengan lebar. Begitu sampai di kamar Kylie, langsung ia masuk ke dalam. Dan melihat Kylie sedang bersama dengan seseorang. Mereka saling berpelukan. Laki-laki itu tengah menenangkan Kylie yang masih menangis dan terlihat gemetaran. Air mata Dave jatuh tiba-tiba.
Tak sengaja, mata Kylie melihat ke belakang punggung orang yang sedang memeluknya itu dan mendapati Dave sudah berdiri tegap disana. Jaketnya basah kuyub. Wajahnya pucat karena terkena hujan dan kedinginan. Kylie melepas pelukan itu dan berjalan mendekati Dave dengan susah payah karena seluruh badannya yang gemetar ketakutan.
"Dave... kamu kenapa? Jangan pergi." Tangannya menahan tangan cowok itu yang hendak melangkah keluar dari ruangan. Cowok itu diam saja tak bergerak. "Dave... Jangan diemin aku..." Kylie menangis lagi. Berniat untuk memeluk tubuh Dave, namun ia dengan cepat menjauh.
"Gue mundur, Kay. Semoga lo senang." Dan ia pun pergi menghilang. Menyisakan Kylie dengan isakan tangisnya.
"Kay." suara Bio memanggilnya pelan. "Udah ya. Jangan nangis."
Kylie menatap Bio tajam. "Lo nggak seharusnya kesini! Lo nggak seharusnya meluk gue tadi! Buat apa? Buat apa lo gitu?" Amuknya hebat.
"Gue cuman bantu buat nenangin lo kaya dulu, kan? Kenapa lo marah ke gue?" Tanya Bio agak tersulut emosi.
"Keluar lo! Pergi lo dari hidup gue!" Ia mendorong tubuhnya sampai keluar, lalu menutup pintu dengan bantingan.
Di luar pintu, cowok itu masih berteriak sambil menggedor pintu terkadang. Namun tak Kylie hiraukan. Cewek itu masuk ke dalam kamar miliknya, lalu meringkuk di balik selimut tebalnya menangis disana. Harinya benar-benar hancur. Bio akan pergi, dan Dave jelas sudah lebih dulu pergi. Pergi dari hidupnya. Mengapa seburuk itu menjadi dirinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine.
Romance[COMPLETE] "Kenapa sih harus cewek duluan yang ngejar cowok?" -Kylie Lee, cewek hyperactive yang lagi jatuh cinta. "Gue nggak minta lo ngejar gue." -Bio Niagarawan. Kylie yang sedang jatuh cinta dengan Bio, teman seangkatannya di SMA, dengan begitu...
