30-Anti Baper Baper Club

4.1K 105 15
                                        

Dave melihat ketiga perempuan yang di kenalnya sebagai sahabat itu saling berpelukan di taman kampus. Dirinya berdiri bersandar di bawah pohon rindang, tepat di seberang mereka. Diam-diam ia tersenyum senang sekaligus lega melihat semuanya kembali seperti semula. Sambil melipat tangan di depan dada, ia berjalan menghampiri Kylie, Sarah dan juga Stefy.

"Ada yang reunian nih. Gue merasa tercyduk." Sindir Dave. Ketiganya melepas pelukan kemudian melihat ke arah balik punggung Kylie. "Gue yang mempersatukan kalian nggak di peluk nih?" Ia membuka tangan lebar-lebar mempersilahkan ketiganya memeluk dirinya.

Kylie mengerutkan keningnya aneh. Ia maju selangkah menghadap pada Dave dengan wajah datar. "Ngapa lo?"

"Minta peluk." Jawab laki-laki tersebut enteng dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Siapa yang mau meluk lo?"

Grab!

Tiba-tiba tubuh Kylie terdorong ke depan, jatuh ke dalam pelukan Dave. Awalnya cowok tersebut terkejut setengah mati, sama seperti Kylie. Namun detik berikutnya, ia mengunci tubuh mungil Kylie dalam pelukannya. Toh, tidak ada penolakan dari Kylie. Diam-diam tanpa sepengetahuan keduanya, Sarah dan Stefy menghilang dari antara mereka. Membiarkan dua manusia tersebut menyelesaikan apa yang seharusnya di selesaikan.

((P.s: yg suka drakor pasti tau ini film apa & judulnya apaahhhh😍😍😍😍))

"Makasih ya, Dave," ucap perempuan itu sembari membalas pelukannya. "Udah bantuin aku supaya baikan sama Sarah, Stefy." Lanjutnya kembali.

Ia tersenyum kecil. "Aku seneng akhirnya kamu bisa baikan lagi sama sahabat kamu, bisa balik lagi ke kampus."

"Aku juga bosen di apartemen terus,"

"Iyalah, orang nggak ada aku. Gimana mau nggak bosen?" Goda Dave. Keduanya melepaskan pelukan dan beralih duduk ke bangku taman. Duduk saling berhadapan di bawah teriknya sinar matahari. "Meskipun ada matahari, kamu tetep silau di mataku, Kay. Soalnya kamu selalu jadi matahariku sampe detik ini."

"Alah, gombal." Kylie tertawa kecil. Ia memukul pelan lengan kiri Dave. Tak bisa di pungkiri juga jantungnya kini berdebar lebih kencang dari biasanya.

"Kay," perempuan tersebut mengangkat alisnya, mengisyaratkan tanya 'apa?'. "Gimana kamu sama Bio?"

Ia mengerjap mata beberapa kali. "Kenapa? Ya nggak kenapa-napa, Dave."

"Kamu masih ada perasaan sama dia?" Selidiknya, bertanya sedikit hati-hati. Karena takut menyinggung perasaan Kylie juga takut jika ia bertanya tentang saudara tirinya itu, bisa jadi Kylie malah kembali mengingat Bio.

"Kenapa nanya gitu?" Balik tanya Kylie dengan menyipitkan matanya karena silau matahari. "Gimana kalo kita di perpus aja, ngadem. Biar bisa leluasa ngobrolnya." Laki-laki itu mengangguk menyetujui usulan Kylie. Lalu mereka bedua pun berjalan menuju ruang perpustakaan di ujung koridor kelas.

Kylie memilih meja bangku paling pojok yang jarang sekali orang-orang perhatikan—diikuti oleh Dave—lalu duduk disana dengan manis. Mereka berdua memposisikan duduknya saling berhadapan lagi seperti di taman.

"Aku cuma pengin tau kamu masih ada perasaan atau nggak." Dave menjawab pertanyaan Kylie beberapa menit yang lalu.

"Kalo iya kenapa, kalo enggak kenapa?"

Mine.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang