15- Reality Kills Me Down

3.4K 125 1
                                        

Yahhhh udah di bagian puncak masalahnya :(:(:( huhu happy readings guys :')

***

"I was so obsessed with you. You make me crazy when falling in love. Then, you make me so idiot like i wanna die when i know the truth is."
-Kylie Lee.

--------

Beberapa hari kemudian...

Sepulang kuliah, Stefy dan Sarah mampir ke apartemen Kylie untuk singgah sejenak sambil bersantai seperti biasa yang sering mereka bertiga lakukan. Menonton tv, mendengarkan lagu sambil bersenandung kacau berjamaah, menonton film bareng, memasak kemudian makan-makan bersama, atau yang lainnya. "Stef, lo tau nggak?" Sarah berbicara sepenuhnya menghadap ke Stefy yang sedang memainkan ponsel sambil berbaring di ranjang Kylie, hanya bergumam pelan. "Si Dave kayanya kaya Aldo deh."

Stefy mengalihkan matanya kepada Sarah tak mengerti maksud pembicaraannya. "Maksud lo apaan?"

Sarah mengangguk yakin beberapa kali. "Dia kemarin lusa nanya-nanya tentang si Kylie. Kayanya bener suka sama dia deh." Intonasi suaranya berubah menjadi pelan pada saat mengucapkan kalimat terakhir.

"Lo suka Dave ya?" Tembak langsung sahabatnya itu. Sarah diam tak menjawab, malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Kita lihat aja sikapnya gimana." Lanjut Stefy.

Kylie tiba-tiba muncul dari ruang tamu, kemudian melemparkan tubuhnya sembarangan diatas ranjang. "Guys, kayanya gue bakalan nyerah sama Bio. Gue mau move on aja deh." Beritahunya pandangan menerawang di langit-langit kamar. Sementara kedua temannya saling pandang satu sama lain. Sarah berpikiran takut bahwa Dave adalah orang selanjutnya untuk Kylie. Sedang Stefy berpikiran takut jika Kylie membuka hati pada Dave dan Sarah akan sakit hati lalu persahabatan mereka selama tiga setengah tahun akan sia. "Bio bener-bener kaya di telan bumi. Sama sekali nggak ada yang tau dimana dia. Dia abu-abu buat gue."

"Terus sekarang gimana?" Tanya Stefy. Sarah masih membungkam mulutnya sendiri mendengarkan kelanjutan perkataan Kylie.

"Gue mau cari cowok lain aja deh yang lebih pasti. Yang bener-bener suka gue. Menurut kalian gimana?"

Cewek berambut lurus dan lebat tersebut tersenyum tulus. "Selama bikin sahabat gue bahagia dan nggak sedih terus gue dukung apa yang lo lakuin, Kay."

"Gue nggak setuju." Sarah tak terima. "Kalo lo beneran sayang sama Bio, lo harusnya usaha dong nyari dia dimana, lo harusnya nanya sekolahan dong buat nanya alamatnya atau lo lihat buku kenangan kita. Masa lo nggak bisa sih?"

Kylie berganti posisi duduk menghadap mereka. Kakinya ia lipat dengan sebuah boneka stitch di atas pangkuannya sebagai penyangga tubuh. "Tapi, Sar. Gue udah nyoba semuanya tetep nggak ketemu. Sekolah bahkan nggak mau kasih alamatnya. Sedangkan di buku kenangan, gue udah coba datengin tapi itu salah alamat. Bio sengaja ngawurin alamat dia. Udah hubungin nomor telfonnya juga tetep aja nol besar. Salah ya gue nyari yang pasti-pasti aja?" Jelasnya panjang berharap Sarah mengerti kondisinya. Namun berbanding terbalik dengannya. Sarah sama sekali tak bisa menorerir penjelasan yang di berikan Kylie. Matanya sudah tertutup sebab ketakutannya sendiri.

"Asal lo nyari bukan temen lo sendiri ya gue santai aja sih." Ia bangkit berdiri pergi meninggalkan kamar Kylie menuju ruang tengah, menonton TV untuk menghilangkan kesalnya.

Ponsel Kylie bergetar beberapa kali. Ada satu pesan masuk yang membuat jantungnya berdegub kencang sampai gendang telinganya mendengar keras.

From: Bioneee❤
Gue di depan pintu. Keluar

Kylie bangkit berdiri untuk bercermin merapikan rambut secepat kilat menggunakan jemari kecilnya dan memulaskan bedak tipis-tipis. Lalu ia segera berlalu mengabaikan pertanyaan Stefy dan Sarah di ruang tengah. Menarik nafas panjang agar lebih rileks sebelum bertemu Bio tidak terlihat sedang gugup baru kemudian dirinya membuka pintu. Bio sudah berdiri di sana menatapnya lurus dengan serius. Tapi tidak seserius biasanya. Hari ini lebih serius.

Mine.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang